Oleh: Nanang Sanjaya (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)
Malam itu terasa hampa sejak langkah terakhir kutinggalkan nagari. Posko yang dulu penuh suara, kini hanya bayangan dalam ingatan. Aku duduk sendiri, menulis dengan hati yang berat, karena di sanalah aku pernah punya keluarga singkat yang tak akan pernah terganti.
Aku teringat Nadila. Tawa renyahnya yang selalu terdengar meski matanya kadang sembab, tangannya yang tak pernah lelah mengaduk wajan, dan ketulusannya yang selalu memastikan semua orang kenyang sebelum dirinya sendiri. Besok-besok, tak akan ada lagi masakan Nadila yang jadi penyelamat lapar
Aku juga rindu Nabila. Suaranya yang lantang memenuhi udara, kadang terdengar seperti marah, kadang bercanda, kadang menuntut. Sulit dibedakan. Tapi justru suara itulah yang membuat posko hidup. Tanpanya, dapur hanyalah ruang kosong tanpa nyawa.
Mutia, gadis Batak yang selalu tegas. Kata-katanya kadang menyakitkan, tapi aku tahu itu caranya menjaga. Namun, dibalik kerasnya, ada kasih yang jarang ia tunjukkan. Tanpa Mutia, kami pasti sering berantakan.
Zahra, si culun, si bucin, si pengganggu dengan tingkah absurdnya. Kebiasaannya yang paling khas: suka iseng memegang perut cowok sambil tertawa puas. Kadang bikin kami kesal, tapi sering juga justru memecah tawa. Zahra bukan hanya penghibur. Dialah perekat. Ia yang merangkul saat ada yang menangis, menenangkan saat ada yang marah, dan membuat semua terasa keluarga.
Afdhaal, ia sibuk, dengan aksi rajin dan selalu menunjukkan kerja nya lalu kembali dengan perut lapar. Wajahnya selalu berbinar tiap kali nasi tersaji. Dari Afdhaal aku belajar bahwa kebahagiaan bisa sesederhana sepiring nasi hangat di malam hari.
Fadel, ia pendiam, jarang bicara, tapi selalu hadir. Diamnya bukan berarti kosong, justru sebaliknya: ia jadi telinga yang mendengar, bahu yang menampung resah. Tanpa Fadel, mungkin banyak cerita yang akan hilang tanpa ada yang menyimpannya.
Fajar, si mulut pedas yang tak pernah kehabisan kata. Kadang hujatannya menyakitkan, kadang membuat semua tertawa. Malam terakhir itu, aku hanya ingin mengingat semua kalimatnya. Karena sekarang aku sadar, tanpanya dunia terasa lebih sunyi.
Pak Jorong Taufik, sosok ayah yang hadir tanpa amarah. Selalu dengan senyum teduh, teguran lembut, dan ketulusan yang membuat kami merasa aman. Beliau jarang bicara panjang, tapi setiap tatapan dan senyumnya terasa seperti doa yang hangat.
Tak lupa warga nagari. Orang-orang yang menyambut kami dengan ramah, menyuguhi senyum di pagi sore hari, membuka pintu rumah untuk setiap kegiatan. Nama mereka mungkin tak semua kuingat, tapi wajah mereka akan selalu lekat di ingatan.
Kini, semua itu sudah jadi kenangan. Tawa di dapur berganti sepi. Ribut kecil di posko tinggal cerita. Jalanan sore tak lagi ada langkah kami. Malam tak lagi diisi obrolan panjang sebelum tidur.
Aku duduk menatap foto-foto lama. Rasanya dada ini sesak oleh rindu yang tak pernah reda. Betapa aku ingin kembali, meski hanya sehari, untuk mendengar lagi tawa Nadila, suara keras Nabila, marahnya Mutia, isengnya Zahra, laparnya Afdhaal, diamnya Fadel, hujatan Fajar, senyum Pak Jorong, dan kebaikan warga nagari.
Tapi waktu tak pernah mau mundur. Kini yang tersisa hanya cerita. Cerita tentang sebulan lebih yang mungkin tampak singkat, tapi meninggalkan rindu yang panjang. Cerita tentang rumah kedua yang baru saja kutemukan, lalu harus kutinggalkan. Dan aku hanya bisa menyimpan semuanya di hati sebuah cerita yang akan selalu hidup, meski rindu itu tak akan pernah selesai kutuliskan.