Kiprah ‘Bapak Perfilman Nasional’ dalam Pameran 100 Tahun Usmar Ismail

Sosok Usmar Ismail (sumber: wikipedia)

Suarakampus.com Usmar Ismail dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi dalam peringatan Hari Pahlawan Nasional 2021. Ia merupakan seorang sutradara film, sastrawan, wartawan dan pejuang Indonesia. Ia dikenal sebagai pelopor drama modern.

Dalam rangka mengenang 100 tahun Umar Ismail, Sako Academy berkalaborasi dengan Langgam.id adakan pameran yang mendatangkan seniman, sastrawan, wartawan dan akademisi lingkup Sumbar di Segehkafehuis, Jl. Batang Naras, Kota Padang, Rabu (10/11).

CEO Langam.Id Andri El Faruqi mengagumi sosok Usmar dengan usia yang tidak sampai 50 tahun, ia mampu melahirkan 33 karya. Usmar tidak hanya dikenal sebagai sineas tapi juga seniman, dan seorang militer. “Acara ini tidak hanya mengenang sosok Usmar Ismail, namun juga syukuran karena beliau dianugerahi pahlawan nasional,” terangnya.

Andri menuturkan pameran berlangsung selama satu bulan, dengan rangkaian lomba vidio dan puisi agar Usmar Ismail dikenal oleh generasi muda. “Ini merupakan pameran kedua, yang pertama dilaksanakan di Bukittinggi tepat pada hari kelahiran Usmar,” tuturnya.

Umar Ismail lahir di Bukittinggi Sumatera Barat pada 20 Maret 1921 dan diusulkan sebagai Pahlawan Nasional oleh DKI Jakarta. Sineas muda Indonesia Arif Malinmudo mengatakan pengabdian Usmar semasa hidup pada DKI Jakarta yang menyebabkan ia mendapatkan penghargaan tersebut.

Arif mengatakan meski Usmar dianugerahi pahlawan dari DKI Jakarta, namun sosoknya tetap menjadi kebanggaan Sumbar. Pasalnya Indonesia memberikan penghargaan mengutamakan pemerataan daerah dan jika diusulkan dari Sumbar, maka Usmar akan mendapatkan antrian yang panjang.

“Meski tidak dianugerahi pahlawan dari Minangkabau, kita tidak perlu kecewa. Artinya, warga DKI Jakarta juga merasa memiliki Usmar Ismail,” tuturnya saat diwawancarai tim suarakampus.com

Arif menuturkan semasa hidupnya Usmar tidak begitu banyak menghabiskan waktu dengan keluarga karena ia menghembuskan nafas terakhir pada 02 Januari 1971 dalam usia 50 tahun. Namun apresiasi yang diberikan negara tentu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

Ia mengaku bangga dengan sosok Umar Ismail, karena film Indonesia banyak terinspirasi dari ide dan gagasan Umar. Katanya, Umar sangat pantas dianugerahi pahlawan nasional, melihat bukti cinta pengabdiannya terhadap bangsa.

Arif mengenang sosok Usmar Ismail melalui karya-karyanya. Katanya, ketika Indonesia belum genap berusia sepuluh tahun, Usmar telah mampu menyuguhkan film sebagai aset diplomasi Indonesia waktu itu.

Lanjutnya, sebagai putra Minangkabau Umar tidak hanya memperkenalkan sosok Sumbar dalam ruang lingkup yang kecil. Ia berusaha memperkenalkan identitas Minangkabau melalui karya, salah satunya Film Harimau Campa. “Melalui Film Harimau Campa ia mengenalkan budaya Minangkabau,” tuturnya.

“Ia menempatkan Minangkabau mewakili  Indonesia dalam skala internasional,” sebutnya.

Selain menginspirasi di bidang seni dan perfilman, Arif mengaku ia mengagumi Usmar sebagai seorang bapak. Meski sibuk dengan segala urusan, Usmar tetap bisa menjalin hubungan yang erat dengan anak-anaknya.

“Ketika sedang membuat naskah, ia memperbolehkan anaknya bermain dengan sarungnya, hal ini menjadi tauladan bagi saya selaku bapak muda,” kata Sutradara film Liam dan Laila itu .

Lain halnya dengan Arif,  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Medi Iswandi yang mewakili Gubernur Sumbar merasa tersindir dengan kegiatan yang diadakan Langgam.id. Pasalnya pihaknya belum mengetahui sosok Usmar Ismail sebagai tokoh dari Minangkabau.

“Selama ini kita mengenal Usmar sebagai tokoh dari Jakarta, dan jarang diungkap sebagai orang Minang,” tuturnya.

Kata Medi, meskipun tidak berperang dengan senjata, Usmar berperang dengan pena dan fikiran melalui jalur diplomasi. “Semoga generasi muda dapat mengenal sosok Usmar Ismail, dan lahirlah Usmar Ismail yang baru,” harapnya.

Selaku sejarawan, Hasri Chaniago menceritakan perjuangan Usmar di masa kemerdekaan pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda, karena dituduh terlibat kegiatan subversi. “Karena perjuangan dan jasa-jasanya terhadap Indonesia, ia sangat pantas dianugerahi penghargaan itu,” tuturnya.

Dari kisah Usmar Ismail, Hasri memuji  orang Minangkabau yang selalu berjuang di manapun berada. “Dari 180 Pahlawan Nasional, 21 diantaranya berdarah Minang,” ucapnya.

Hasri menjelaskan pentingnya menghargai jasa pahlawan untuk menumbuhkan rasa keberanian dan cinta tanah air untuk persatuan bangsa. Katanya, pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap para pahlawan dengan membangun kembali rumah kelahirannya, agar generasi muda dapat menyaksikan sejarah dari para pahlawan tersebut.

“Arsip dan jejak sejarah sangat penting untuk dipelihara. Percuma kita memberikan gelar Pahlawan jika tidak ada bukti peninggalan yang dapat dipelajari generasi muda,” tutupnya.

Wartawan: Firga Ries Afdalia, Iqbal

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Abrasi: Dampak Nyata Krisis Iklim di Pantai Barat Sumatra

Next Post

Tingkatkan Kepedulian Mahasiswa dengan Isu Lingkungan, FAH Gelar Pelatihan Siaga Bencana

Related Posts
Total
0
Share