Suarakampus.com- Wakil Ketua Umum (Waketum) Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (SEMA-UIN IB) Padang, Dio Pranda, mengkritik lambannya penyelesaian konflik Musyawarah Dewan Mahasiswa (MUDEMA) oleh tim arbitrase. Padahal tim telah dibentuk melalui rapat bersama kampus, namun hingga kini belum ada tindak lanjut konkret, Rabu (21/05).
MUDEMA berawal dari persoalan internal lembaga mahasiswa yang membutuhkan mediasi bersama. Namun, penyelesaiannya terhambat karena tim arbitrase dinilai tidak memiliki kejelasan arah kerja.
Dio menyatakan, tim arbitrase dibentuk sebagai wadah mediasi untuk menyelesaikan konflik MUDEMA secara komprehensif dan melibatkan semua pihak yang bersengketa. “Hingga saat ini belum ada hasil konkret yang mampu mengurai akar konflik tersebut,” katanya.
Wakil Ketua SEMA-U itu menjelaskan, tim arbitrase merupakan hasil rapat koordinasi antara organisasi mahasiswa dengan Wakil Dekan III, Wakil Rektor III, dan pembina kelembagaan untuk menciptakan solusi bersama. “Tim ini dibentuk untuk menjadi penengah dan menjawab persoalan yang terjadi,” ujarnya
Dio menilai, tim arbitrase semestinya netral, terbuka, dan kritis dalam menanggapi situasi dengan memperhatikan semua fakta serta mendorong dialog konstruktif antar pihak yang berselisih. “Ketegangan ini tidak boleh dibiarkan terus berlarut,” tegasnya.
Ia memperingati, lambannya penanganan konflik tidak boleh diabaikan karena dapat menimbulkan dampak serius, termasuk mengancam koordinasi dan soliditas internal organisasi mahasiswa. “Keterlambatan dalam penyelesaian bisa mengganggu kestabilan ormawa,” ucapnya.
Tokoh mahasiswa itu menambahkan, perlunya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme arbitrase untuk memastikan efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap proses penyelesaian konflik. “Metode kerja dan pelibatan elemen strategis perlu diperjelas,” tambahnya.
Menurutnya, keterbukaan informasi dan sikap akomodatif terhadap semua pihak sangat dibutuhkan dalam proses ini. “Semua aspirasi harus diakomodasi dengan adil,” ungkapnya.
Dio menegaskan, pihaknya dari SEMA-U siap menjadi fasilitator dalam setiap proses dialog penyelesaian. “Kami menjunjung asas keadilan dan keberimbangan,” tandasnya.
Ia berharap, itikad baik dan semangat kolaboratif seluruh pihak dapat menemukan solusi bermartabat bagi kemajuan organisasi kemahasiswaan. “Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi cerminan kedewasaan dalam berorganisasi,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Khairunnajwa (Mg)