Kontroversi Pernyataan Kemendikbudristek Kuliah adalah Kebutuhan Tersier, Begini Tanggapan Para Ketum

Potret Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (Sumber: Tia/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Pernyataan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Tjitjik Sri Tjahjandarie yang menyebut kuliah sebagai kebutuhan tersier alias tidak wajib tuai kontroversi dari berbagai kalangan. Hal tersebut ia lontarkan pada saat merespons kenaikan uang kuliah UKT di sejumlah perguruan tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Senat Mahasiswa (Sema) UIN IB Padang, M Haichal Pratama, menanggapi pernyataan Kemendikbud yang membuat presepsi tersendiri bagi masyarakat awam. “Mereka akan menganggap untuk apa kuliah, jika hanya pendidikan yg tersier,” tuturnya saat diwawancarai tim suarakampus.com, Rabu (22/05)

Lanjutnya, hal ini merujuk kepada Undang-Undang Pasal 28 C ayat 2 bahwa wajib memberikan pendidikan kepada setiap warga negara. “Ketetapan sangat bertolak belakang dengan pernyataan Kemendikbud,” jelasnya.

Potret Ketua Umum HMP KPI UIN IB (Sumber: Tia/Suarakampus.com)

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum (Ketum) Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Rafi Saputra yang mengungkapkan situasi seperti ini adalah hal yang sangat memprihatinkan karena kuliah tempat mahasiswa mengasah skill. “Perguruan tinggi harus dilanjutkan agar pelajar tingkat SMA/SMK/sederajat tau arah masa depan generasi pelajar kita,” ungkapnya.

Lanjutnya, Rafi menyebutkan seharusnya Kemendikbud lebih mempermudah pelajar supaya bisa kuliah bukan malah mematahkan. “Tingkat pendidikan di Indonesia harus diperhatikan dengan program beasiswa lebih banyak untuk keluarga yang kurang mampu serta untuk siswa siswi berprestasi,” sebutnya.

Ia berharap, Kemendikbud lebih sadar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Salah satu bentuk aksi untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memberikan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) ,” tutupnya. (rhm)

Wartawan : Chintia Agustin (Mg) dan Devita Rahma (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Healing Gratis menjadi Mahasiswa Dunia

Next Post

Sejarah Singkat Nagari Katapiang

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty