Sejarah Singkat Nagari Katapiang

(Sumber: wikipedia bahasa indonesia/suarakampus.com)

Oleh: Anice Amelia Putri
Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang
Prodi Sejarah Peradaban Islam BP 23

A. Pendahuluan
Dahulu Nagari Katapiang bernama Nagari Paruangan dan sekarang berubah menjadi Nagari Katapiang karena banyak ditumbuhi pohon katapiang, terutama di sepanjang pantai Katapiang.

Nagari Ketaping berada di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat. Luas Nagari Katapiang 64,25 kilometer persegi. Berjarak 10,5 kilometer dari ibu kota kecamatan, 25 kilometer dari ibu kota kabupaten dan 35 kilometer dari ibu kota provinsi.

Nagari Ketaping berpenduduk 12.864 jiwa pada tahun 2017 terdiri dari 6.551 laki-laki dan 6.313 perempuan. Nagari Ketaping terdiri dari delapan korong, yakni: Batang Sariak, Simpang Katapiang, Talao Mundam, Olo Bangau, Pauh, Marantiah, Pilubang, Tabek.

Dahulunya, Nagari Katapiang adalah sebuah desa yang berdiri sendiri dengan empat Korong saja yakni: Korong Simpang, Korong Simpang Tigo, Korong Antaro, Korong Katapiang Ujuang. Namun sempat disatukan dengan beberapa wilayah disekitarnya dan selanjutnya dibagi menjadi beberapa desa yaitu: desa Katapiang Tengah, desa Katapiang Selatan, dan desa Katapiang Utara. Namun sekarang semua desa itu sudah disatukan lagi menjadi satu kesatuan ke dalam sistem pemerintahan nagari dengan nama Nagari Katapiang dan dipimpin oleh seorang Wali Nagari yang saat ini di pimpin oleh Bapak Alwis Jaya, A.Md.

B. Pembahasan
Lahirnya Nagari Katapiang tidak terlepas dari perang manunjun. Pergejolakan dan pertempuran hebat sempat berlangsung beberapa tahun antara Nagari VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman dengan sembilan orang Rajo yang dipimpin oleh Mankuto Rajo Sulaiman dari Nagari Panyinggahan, Saniang Baka, Kabupaten Solok. Mereka dengan kesaktiannya berupaya merebut wilayah tiga nagari yakni Nagari Nan Sabaris, Ulakan Tapakis dan Paruangan (Katapiang). Sembilan orang rajo tersebut diantaranya Mangkuto Rajo Sulaiman, Rajo Basa, Rajo Malako, Rajo Malakewe dan Rajo Batuah. Sebelumnya, perebutan wilayah antara penduduk asal Rantau Piaman dan Rantau Solok tersebut tepat berada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kecamatan Batang Anai, hingga sampai ke Nagari Gadua Kecamatan Enam Lingkung. Puncak perebutan wilayah, menurut catatan sejarah Bahrun Rangkayo Rajo Sampono Ke IV, sekitar 1.820 salah satu tetua adat yang sudah berada di Nagari Paruangan (Katapiang) meminta bantuan kepada Daerah Darek, termasuk beberapa Rajo dari Nagari Panyinggahan, Saniang Baka, Kabupaten Solok, untuk melawan Kekuasaan Rajo-rajo dari VII Koto Sungai Sariak. Dengan kesaktian dari sembilan Rajo tersebut wilayah Tiga Nagari berhasil direbut dan dikuasai.

Nagari Katapiang di pimpin oleh seorang Rajo Sampono. Rajo Sampono merupakan sebutan dari penguasa di Nagari Kataping yang sampai saat ini masih menunjukan eksistensinya, sebutan Rajo Sampono sudah berlaku sejak tahun 1820. Rajo Nagari Katapiang Kabupaten Padang Pariaman pada saat ini bernama Bahrul Hikmah Rangkayo Rajo Sampono yang merupakan generasi keempat. Rajo yang pertama bernama Sidi Ibrahim, Rajo yang kedua bernama Janin, Rajo yang ketiga bernama Majoari. Wilayah di Nagari Ketaping, sepanjang adat pucuk pimpinan Rangkayo Rajo Sampono, apapun yang dibuat Rangkayo Rajo Sampono tidak ada satu orang pun yang bisa menyanggah. Rajo Sampono dianggap sebagai Rajo karena Rajo Sampono yang membuat Nagari Katapiang tersebut, Rangkayo Rajo Sampono lah yang mengurus Nagari Ketapiang.

C. Penutup
Katapiang merupakan salah satu nagari yang terdapat dalam Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Bandar Udara Internasional Minangkabau berada di nagari ini. Katapiang juga memiliki keindahan pantai yang sangat menakjubkan. Pantai di Katapiang lebih asri dan masih alami dengan pepohonan yang rimbun. Keunikan lainnya adalah nagari Katapiang ini merupakan satu dari dua nagari yang berulayat di Kabupaten Padang Pariaman. Pucuk ulayat dipegang oleh seorang raja yang bergelar Rajo Sampono. Raja tersebut memiliki kekuasaan yang hampir mirip dengan Sri Sultan Hamengkubuwono yang memimpin di daerah Yogyakarta. Perbedaannya adalah dalam melaksanakan tugasnya sebagai penguasa, Rajo Sampono dibantu oleh para pemimpin suku (Datuak Suku) dan seorang Bundo Kanduang.

Referensi: ‘Perang Manunjun Si Batang Panjang, Lahirnya Nagari Katapiang dan Kepemimpinan Rajo Sampono’ diakses tanggal 2021-10-26.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Kontroversi Pernyataan Kemendikbudristek Kuliah adalah Kebutuhan Tersier, Begini Tanggapan Para Ketum

Next Post

Tim Tanggap Bencana UIN IB Turun ke Lapangan

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty