Krisis Organisasi dan Ilusi Kebebasan Berpendapat Tanpa Etika

Sumber : Pngtree

Oleh:

Siti Ulami

(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)

Konflik internal dalam organisasi mahasiswa sering kali berujung pada panggung drama politik. Pengunduran diri massal belasan pengurus dari sebuah lembaga eksekutif kampus bukanlah sekadar angka statistik atau bahan gosip publik. Hal ini adalah sinyal tentang bagaimana komunikasi, ego, dan ruang etik dalam berorganisasi sedang diuji.
Melihat fenomena ini secara utuh menuntut kita untuk melepaskan kacamata hitam-putih dan berhenti menghakimi.

Keterbatasan Bahasa dan Ilusi Kesepahaman

Setiap individu masuk ke dalam organisasi membawa kepala, latar belakang, dan “bahasa” yang berbeda. Dalam pandangan Peter L. Berger mengenai Konstruksi Sosial, setiap anggota membangun realitas subjektifnya masing-masing. Menganggap ratusan pikiran bisa disatukan dalam satu frekuensi yang sempurna adalah hal yang mustahil.

Organisasi bukan diciptakan untuk menyamakan isi kepala semua orang, melainkan untuk membangun batas kesepakatan minimal agar roda lembaga tetap bergerak. Sebagaimana dirumuskan Jurgen Habermas dalam Teori Tindakan Komunikatif, kesepahaman hanya bisa lahir dari dialog rasional yang beretika, bukan dari pemaksaan kehendak.

Ketika komunikasi tersumbat dan rasa saling percaya menguap, apa yang tertuang dalam surat pengunduran diri hanyalah puncak gunung es. Bahasa batin, rasa lelah, dan pertimbangan mendalam dari mereka yang terlibat, baik yang mundur maupun yang bertahan adalah hal yang tidak pernah benar-benar utuh sampai ke ruang publik.

Dapur Organisasi Bukan Konsumsi Publik

Salah satu kekeliruan terbesar dalam dinamika kampus hari ini adalah mengaburnya batas antara evaluasi internal dan penghakiman publik. Perspektif Dramaturgi Erving Goffman mengingatkan kita pentingnya memisahkan panggung belakang (back stage) dan panggung depan (front stage).

Dapur organisasi adalah panggung belakang yang punya mekanismenya sendiri: DPO, Senat, atau forum internal. Di sanalah tempat membongkar masalah, memperdebatkan gagasan, dan mengkritik kebijakan secara tajam. Namun, ketika dinamika panggung belakang diseret secara mentah-mentah ke panggung depan tanpa rasa tanggung jawab, diskusi bergeser dari mencari solusi menjadi penghakiman massa. Kebebasan berpendapat yang kehilangan etika moral hanya akan berubah menjadi panggung performativitas yang merusak integritas lembaga.

Dua Sisi yang Sama-Sama Butuh Ruang

Menyudutkan satu pihak sambil mengelu-elukan pihak lain tidak akan pernah menyelesaikan masalah, melainkan hanya memperbesar bola es liar yang tak berujung.
Mereka yang mundur mengambil keputusan sulit yang berhak dihormati tanpa harus dilabeli. Sementara mereka yang bertahan memikul beban berat untuk menjaga pilar organisasi agar tidak roboh total di tengah badai.

Ketika penghakiman publik melampaui batas etika, terjadi fenomena Spiral of Silence sebagaimana dijelaskan oleh Elisabeth Noelle-Neumann. Tekanan opini mayoritas dan bisingnya narasi di ruang publik justru meredam suara-suara jernih serta menutup ruang evaluasi dari mereka yang benar-benar berproses di dalam. Organisasi tidak akan pernah bisa menata ulang rumah tangganya jika suasana di luar terus-menerus digoreng.

Merawat Manusia di Dalam Lembaga

Esensi mendasar dari berorganisasi adalah menundukkan ego. Secara fungsional, organisasi hadir sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk memproduksi krisis baru. Yang dibutuhkan hari ini bukanlah komentar yang memperkeruh suasana atau argumen yang menghakimi, melainkan kedewasaan kolektif untuk merawat fungsi lembaga dan menghargai manusia-manusia yang berproses di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Kasus Kekerasan Seksual Belum Tuntas, LBH Padang Pertanyakan Perlindungan Korban

Next Post

Bentrok Acara OASE, UIN IB Padang Geser Tanggal Wisuda ke-97

Related Posts