Liburan Mahasiswa: Surga Nyaman atau Jebakan yang Melenakan?

Illustrator: Tsamara

Oleh: Khairul Fadli Rambe (Mahasiswa Fakultas Syariah, UIN Imam Bonjol Padang)

Masa liburan adalah waktu singkat yang selalu dinantikan dan penuh sukacita. Bagi para pekerja, inilah saatnya menikmati hasil jerih payah mereka. Rupiah yang selama ini dicari, kini siap diubah menjadi kebahagiaan: bermain, jalan-jalan, dan menikmati santapan lezat bersama keluarga tercinta. Bayangkan saja, kantong yang semula hanya berisi recehan tiket parkir kini mendadak tebal dengan lembaran merah dan biru, siap disulap jadi es krim tiga rasa yang meleleh nikmat di bawah terik matahari pantai. Atau, juga menjadi tumpukan koper berisi baju renang dan topi pantai yang siap diajak berpetualang. 

Para pekerja ini, yang setiap harinya bergulat dengan deadline dan keramaian lalu lintas, tiba-tiba bertransformasi menjadi penjelajah kuliner yang tak kenal lelah, siap mencicipi setiap jajanan di pinggir jalan sampai perut kenyang dan hati senang. Mereka bisa jadi sutradara dadakan yang mengarahkan sesi foto keluarga di depan menara ikonik, dengan senyum lebar yang kontras dengan ekspresi serius di ruang rapat. Bahkan, ada yang rela bangun pagi buta hanya demi melihat matahari terbit di puncak gunung, padahal di hari kerja bantal adalah magnet terkuat yang susah dilepaskan. Liburan memang punya sihirnya sendiri, mengubah wajah tegang menjadi senyum lepas, dan mengubah rutinitas menjadi petualangan yang tak terlupakan!

Akan tetapi, definisi liburan ini semestinya tidak berlaku bagi kita mahasiswa, yang merupakan kiblat perubahan di masa depan. Karena, ketika masyarakat membayangkan seorang mahasiswa, gambaran yang muncul adalah sosok individu yang dinamis, penuh ide, dan siap menjadi agent of change di tengah lingkungan sekitar. Mereka mengangga kita mahasiswa merupakan orang-orang yang aktif berorganisasi, menyuarakan aspirasi, dan terlihat begitu berpengaruh di lingkungan kampus. Namun, ironisnya, gambaran ideal ini acap kali luntur begitu kita menginjakkan kaki di rumah saat liburan semester. Realitasnya, banyak kita mahasiswa seperti ”singa yang gagah di hutan” justru bertransformasi menjadi “kucing rumahan” yang meringkuk nyaman di sofa saat pulang ke kandang–menjadi sosok yang sangat berbeda dan pasif dari citranya yang seharusnya dinamis dan berpengaruh.

Peristiwa ini adalah sebuah tragedi luar biasa yang harus diantisipasi dan diatasi sesegera mungkin. Mengapa? Karena ketika agen perubahan masa depan memilih untuk hibernasi di masa liburan, potensi besar yang seharusnya bisa kita tularkan ke masyarakat, justru terbuang sia-sia. Kita yang biasanya di kampus lantang menyuarakan keadilan, malah mendadak bisu di hadapan masalah nyata di lingkungan tempat tinggal. Ditambah lagi, yang semestinya kita menjadi mercusuar inspirasi, justru memadamkan cahaya itu sendiri. Jika hal ini dibiarkan, maka bukan salah perkembangan zaman, melainkan salah kita sendiri yang akan menjadi generasi yang cerdas secara akademik, namun lumpuh secara sosial dan tak berdaya menghadapi kejamnya kehidupan. Harapan akan perubahan positif yang seharusnya lahir dari tangan-tangan kita, justru malah kita yang tergelincir dalam pusaran kenyamanan semata.

Zona Nyaman yang Memenjarakan

Kita mahasiswa, acap kali terbelenggu dengan zona nyaman masa liburan sebagai ajang untuk melarikan diri dari kepenatan akademik. Ini bukan sekadar waktu istirahat, melainkan sebuah jebakan empuk yang melenakan, tempat kita mengubur diri dari panggilan untuk berkontribusi di tengah kerisauan. Berdakih bahwa waktu istirahat ini adalah “penenang” dari rutinitas perkuliahan yang padat dan juga melelahkan. Alasan ini justru menjerumuskan kita ke dalam lubang pasivitas yang dalam. Alih-alih memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan diri atau berkontribusi pada lingkungan sekitar, kita justru memilih untuk “mengeram” diri, terbuai dalam kenyamanan semu yang memenjarakan. Ini bukan sekadar istirahat, melainkan pelarian yang menjauhkan kita dari esensi sejati makna mahasiswa sebagai individu yang relevan dan responsif terhadap isu-isu sosial.

Bayangkan saja, di kampus kita adalah seorang arsitek handal yang merancang program-program keren, orator ulung yang suaranya bisa menggetarkan aula, atau pemimpin karismatik yang mampu menggerakkan puluhan mahasiswa. Namun, begitu libur tiba, “arsitek” ini mungkin malah sibuk merancang tumpukan camilan di samping kasur, “orator” itu hanya berdialog dengan karakter di layar gawai, dan “pemimpin” yang tadinya digandrungi, kini hanya memimpin misi mencari remote TV. 

Redup di Tengah Kebutuhan 

“Mahasiswa terbaik adalah mereka yang menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat”. Ubedilah Badrun

Peran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial seakan lenyap di masa liburan. Mereka yang di kampus mampu memobilisasi massa atau merumuskan solusi atas permasalahan, mendadak menjadi individu yang apatis di lingkungan tempat tinggalnya. Ini menunjukkan adanya diskoneksi antara identitas di kampus dan di masyarakat. Liburan seharusnya menjadi kesempatan emas untuk mengaplikasikan ilmu dan jiwa kepemimpinan yang telah terasah di organisasi, bukan justru menenggelamkan diri dalam isolasi.

Fakta ini adalah bentuk memudarnya peran sosial mahasiswa yang sangat mengkhawatirkan. Seolah-olah, semangat membara untuk berkontribusi hanya terbatas pada batas-batas kampus. Mereka memilih menjadi penonton pasif di tengah realitas yang membutuhkan uluran tangan, padahal di bahu merekalah harapan akan perubahan, namun  kekuatan itu acap kali disematkan. Inilah ironi terbesar: jiwa kepemimpinan yang gemilang di mimbar diskusi, mendadak redup di tengah masyarakat yang butuh solusi.

Memang sudah saatnya kita mahasiswa merefleksikan kembali makna dari sebuah liburan itu. Apakah liburan benar-benar hanya tentang istirahat, ataukah ada ruang untuk tetap menjadi “Agent of Change” bahkan di balik dinding kamar? Ingat, Liburan bukan jeda untuk memadamkan cahaya, melainkan panggung baru untuk membuktikan bahwa kita adalah tong yang berisi dan siap berisik. Bukan juga sekadar menanti panggilan, melainkan menciptakan panggilan itu sendiri di tengah masyarakat yang menanti. Mari jadikan setiap momen, termasuk masa liburan, sebagai kesempatan untuk benar-benar menjadi mahasiswa yang bermakna. Perubahan tidak menunggu gelar sarjana. 

Saya meminjam apa yang disampaikan oleh Wiji Tukul “Jangan kau penjarakan ucapanmu. Jika kau menghamba pada ketakutan, kita akan memperpanjang barisan perbudakan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Rahasia yang Tertinggal

Next Post

PBAK UIN Imam Bonjol Padang 2025 Mengangkat Konsep Inovatif dan Ramah Lingkungan

Related Posts