Oleh Muhammad Aditya Rizqy (Mahasiswa Prodi Teknik Industri, Universitas Sumatra Utara)
Dalam upaya meningkatkan literasi di Indonesia, Tim PKM-VGK USU memperkenalkan inovasi luar biasa dalam menjawab tantangan rendahnya tingkat literasi di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Inovasi tersebut bernama Literacy Catalyst Building, sebuah konsep perpustakaan masa depan yang menggabungkan teknologi Mixed Reality (MR), Artificial Intelligence (AI), dan robotika dalam satu kawasan berbasis arsitektur biofilik.
Literacy Catalyst Building hadir sebagai jawaban terhadap krisis literasi nasional. Berdasarkan data UNESCO tahun 2016, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin. Bahkan dalam laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia menduduki peringkat ke-72 dari 79 negara dalam hal kemampuan literasi pelajar berusia 15 tahun. Data ini diperparah dengan posisi Indonesia yang berada di urutan ke-100 dari 208 negara dalam indeks literasi dunia, masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara tetangga seperti Brunei, Singapura, dan Vietnam.
Menanggapi fakta tersebut, tim PKM-VGK USU yang digawangi oleh Abdillah Sani Lubis bersama empat rekannya, yaitu Dwi Sekar Sari, Mhd Aditya Rizqy, Johanna Beatrix Lordian, dan Meutia Afifah Husnaidi, menggagas transformasi total terhadap bentuk dan fungsi perpustakaan konvensional. Mereka tidak hanya menawarkan konsep ruang baca, tetapi sebuah ekosistem literasi yang adaptif dan menyenangkan.
“Kami ingin menciptakan ruang belajar yang tidak hanya fungsional, tapi juga memikat dan relevan dengan kebutuhan generasi digital saat ini,” ujar Meutia Afifah Husnaidi. “Literacy Catalyst Building bukan hanya tempat untuk membaca, tapi ruang eksplorasi, kreasi, dan interaksi yang mendorong transformasi budaya membaca di Indonesia,” lanjutnya.
Teknologi Bertemu Literasi: Perpustakaan Era Baru
Literacy Catalyst Building dirancang dengan membagi bangunan menjadi tiga bagian utama: Gedung Kiri (Green Reading Area), Gedung Tengah (pusat fasilitas utama), dan Gedung Kanan (zona eksplorasi kreatif). Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas mutakhir seperti VirtuShelf, merupakan ruang unggulan yang memanfaatkan teknologi MR untuk menghadirkan pengalaman literasi yang transformatif. Teknologi ini tidak sekadar menampilkan teks dan gambar, tetapi membawa manusia masuk ke dalam dunia bacaan secara utuh, menghidupkan cerita melalui animasi, audio, dan visual interaktif yang bergerak selaras dengan setiap paragraf yang disorot. Proses membaca tidak lagi pasif, tetapi imersif dan personal.
Selain itu, terdapat AudioDialogue Room, sebuah ruang diskusi berbasis AI yang memungkinkan pengunjung berdialog langsung dengan sistem AI untuk memahami isi buku. Tak kalah menarik, pengunjung juga akan ditemani oleh NaviLibro, robot navigasi cerdas yang membantu menemukan buku secara cepat melalui sistem RFID atau NFC.
“Kami ingin menghadirkan perpustakaan yang tidak hanya menyimpan buku, tetapi mampu menyapa dan membimbing pengunjungnya,” ujar Johanna Beatrix Lordian.
Revitalisasi yang Berdampak Nyata
Provinsi Sumatera Utara menjadi fokus utama proyek ini bukan tanpa alasan. Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumut, Dwi Endah Purwanti, Indeks Pembangunan Literasi di wilayah ini masih tergolong rendah, yakni di angka 56,10 pada 2023, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 64. Hal ini menjadi pendorong kuat bagi tim PKM-VGK USU untuk menjadikan perpustakaan daerah sebagai pusat project dari Literacy Catalyst Building.
Konsep bangunan pun dirancang menggunakan pendekatan arsitektur biofilik, di mana elemen alami seperti pencahayaan matahari, ventilasi silang, dan ruang hijau diintegrasikan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Green Reading Area, misalnya, didesain khusus sebagai ruang terbuka untuk membaca di tengah taman yang asri.
“Dengan pendekatan ini, kami ingin mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan mendorong interaksi sosial yang lebih sehat di kalangan pembaca,” jelas Mhd Aditya Rizqy.
Konten Video Edukatif dan Media Sosial sebagai Medium Kampanye Literasi
Dalam mendiseminasikan gagasan ini, tim PKM-VGK tidak hanya berhenti pada rancangan bangunan. Mereka juga memproduksi video edukatif berdurasi 4 menit yang menampilkan perubahan kebiasaan membaca generasi muda, pemaparan masalah darurat literasi, serta solusi inovatif melalui Literacy Catalyst Building.
Video ini akan ditayangkan di kanal YouTube dan media sosial tim, disertai dengan konten kampanye bulanan seperti edukasi literasi, teknologi perpustakaan masa depan, dan cuplikan fitur bangunan dalam bentuk animasi 3D. Tak hanya menyasar kalangan akademik, konten ini juga ditujukan untuk pelajar, masyarakat umum, serta pemerintah daerah.
“Kampanye literasi ini akan rutin kami lakukan lewat media sosial dan YouTube hingga akhir tahun 2025. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang tahu dan tergerak untuk mendukung revitalisasi perpustakaan di daerah mereka,” ujar Dwi Sekar Sari.
Mendukung Visi Indonesia Emas 2045
Literacy Catalyst Building tidak sekadar proyek PKM, tetapi gerakan perubahan yang menyasar masa depan bangsa. Dengan dukungan teknologi dan desain futuristik, konsep ini menjadi langkah konkret mendukung tema PKM ke-6: penguatan pendidikan, sains, dan teknologi, serta mendukung tujuan SDGs poin 4 (pendidikan berkualitas), 9 (industri, inovasi, dan infrastruktur), dan 11 (kota dan komunitas yang berkelanjutan).
Dengan hadirnya Literacy Catalyst Building, diharapkan generasi muda Indonesia kembali memiliki kebanggaan terhadap budaya membaca. Tak hanya itu, perpustakaan akan kembali hidup sebagai ruang publik yang cerdas, dinamis, dan menyenangkan. “Kami percaya bahwa membangun budaya literasi yang kuat adalah fondasi utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” tutup Abdillah Sani Lubis.