Mahasiswa UIN IB Padang bawa nilai moderasi beragama pada KKN Nusantara 2025.

Anggota KKN Nusantara (Sumber : Zikri Ramadhan)

Suarakampus. com- Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang terjun ke berbagai daerah Yogyakarta, dalam KKN Nusantara 2025 bersama peserta dari 34 perguruan tinggi. Moderasi beragama dan merawat ekoteologi di tengah keberagaman masyarakat perdesaan menjadi fokus utama kegiatan ini, Jumaat (11/07).

Febrian Hidayat, mahasiswa Hukum Keluarga, tergabung dalam kelompok lintas kampus. “Setiap kelompok berasal dari berbagai universitas,” ujarnya.

Ia menyebutkan, mahasiswa mendapat fasilitas transportasi pulang-pergi dari kampus. “Kebutuhan lain seperti logistik dan tempat tinggal ditanggung mandiri,” katanya.

Febrian menjelaskan, peserta dibekali panduan dari UIN Sunan Kalijaga sebagai penyelenggara, dengan empat poin program yang disesuaikan dengan kondisi desa. “Fokus tema dari UIN IB adalah isu moderasi beragama yang sangat relevan di lokasi penugasan,” tambahnya.

Menurut Febrian, pengalaman KKN menjadi ruang nyata menerapkan ilmu kampus di tengah masyarakat. “Saya belajar memberi manfaat langsung bagi warga,” tuturnya.

Sementara itu, Rabiul Farra Tazkiyatun, mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab, ditempatkan di Dusun Kedondong 2, Kalibawang. “Saya tergabung dalam kelompok berisi 11 mahasiswa dari kampus berbeda,” ujarnya.

Farra menjelaskan, posko dan akomodasi ditanggung secara swadaya. “Kami juga diizinkan memakai fasilitas umum seperti masjid untuk kegiatan,” pungkasnya.

Zikri Ramadhan, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, turut menjalankan KKN di Dusun Tirip bersama rekan-rekannya dari berbagai universitas di Indonesia.”Tidak hanya Indonesia saja, dilengkapi dengan mahasiswa asal Sudan,” ujarnya.

Mahasiswa ini dipercaya menjadi ketua Kelompok 18, yang berperan memimpin berbagai program kerja. “Bertujuan memberdayakan masyarakat dan membangun ekoteologi,” tambahnya.

Pengalaman hidup berdampingan dengan masyarakat yang memiliki keyakinan berbeda menjadi salah satu pembelajaran penting bagi Zikri dan kelompok. “Kami harus menyesuaikan cara beribadah dan belajar beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Zikri.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi kelompok Zikri adalah keterbatasan fasilitas ibadah karena tidak adanya masjid maupun musala di sekitar lokasi. “Kami melaksanakan ibadah secara personal,” tambahnya.

Ia mengatakan, bahwa toleransi di daerah ini cukup kuat, hal ini dibuktikan adanya kegiatan bakti sosial. “Membersihkan makam, kali, hingga selokan yang melibatkan semua warga tanpa terkecuali,” terang Zikri.

Sebagai ketua kelompok, Zikri juga berperan dalam mendelegasikan ide dan program kerja kepada masyarakat serta menjaga hubungan baik antaranggota kelompok lintas kampus. “Semua delegasi dari universitas lain sangat pintar dan inovatif,” ujarnya.

Salah satu program unggulan Kelompok 18 adalah pengelolaan sampah rumah tangga, pembuatan film dokumenter, serta artikel blog yang mengenalkan potensi Dusun Tirip ke publik. “Seluruh informasi terkait SDM, SDA, dan UMKM lokal akan kami masukkan ke dalam dokumenter agar desa ini lebih dikenal,” kata Zikri.

Zikri berharap, semoga bisa menyelesaikan KKN sebagiamana mestinya. “Semoga kami membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Dusun Tirip,” tutupnya. (Red)

Wartawan: Zahra Mustika, Habila (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mahasiswi UIN IB Nilai TKD Dasar, Bahasa Inggris Jadi Tantangan

Next Post

Rahasia yang Tertinggal

Related Posts