Suarakampus.com– Menjelang fajar menyingsing terdengar isak tangis tanah sebab paksaan hujan. Noflen hilir mudik di sekitar warungnya yang rata dengan tanah bersambut puing sembraut. Dihadapannya, papan-papan kayu berserakan, bangku hilang, tiada satu yang ditinggalkan selain kenangan pahit menyambung kehidupan.
Pukul 01.00 Pagi di penghujung November, hujan mengguyur deras dan bermain main dengan aliran pemandian Lubuk Minturun. tidak ada tanda-tanda yang membuat Noflen waspada. Hujan dianggap biasa, sebagaimana hari-hari lain ketika air hanya naik tanpa membawa ancaman berarti.
Sekitar pukul 03.30 pagi, Noflen menyaksikan dari laman rumahnya air naik beberapa meter dari ketinggian biasanya. Selang beberapa menit, air mengganas dan menghantam keras tepian warungnya.
Noflen terdiam tidak menyangka dalam waktu singkat kehilangan segera merampas usahanya.
Usai menunaikan sholat subuh, Noflen tergopoh-gopoh keluar. Suara air terdengar lebih berat, lebih deras, seolah membawa sesuatu yang tak bisa dihentikan. “Saat dilihat, air sudah meninggi, saya tidak menyangka air naik begitu cepat,” ujar Noflen dengan mata berkaca.
Menurut Noflen, kenaikan air berlangsung begitu cepat. Warga tak sempat menyelamatkan apa pun, bangku-bangku yang biasanya tertata rapi di tak lagi bisa dipindahkan. Dalam hitungan menit, arus deras menyeret semuanya. “Sekitar 30 bangku yang saya gunakan sebagai penyambunh hidup, hanya sembilan yang tersisa,” tuturnya lirih.
Noflen terdiam menyaksikan air coklat yang semakin meninggi. “Saya tidak sempat lagi menyelamatkan apa-apa,” katanya.
Noflen kehilangan warung yang biasanya digunakan untuk berjualan. “Saya menggantungkan harapan untuk kebutuhan dan menyambung hidup dari sana,” paparnya dengan nafas tersenggal.
Di balik kerugian materi, ada luka yang tak terlihat. Trauma mulai tumbuh. “Setiap kali hujan deras turun, saya takut, rasanya air akan kembali meluap dan merenggut apa yang tersisa,” tegas Noflen.
Di tengah kerusakan yang ditinggalkan, kini Noflen mencoba memulai kembali. Terpal yang diperoleh dari bantuan relawan dan kayu dibeli dengan kemampuan yang terbatas dibentuk menjadi pondokan kecil di pinggiran pemandian Lubuk Minturun. “Padahal warung dengan atap terpal akan rentan hancur, tapi saya harus tetap hidup,” sebutnya.
Namun membangun usaha kembali bukan perkara mudah bagi Noflen. Hingga kini bantuan yang datang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan. “Untuk kebutuhan bahan dapur, saya harus memikirkan sendiri, di tengah kondisi keuangan yang semakin menipis,” jelasnya.
Ia berharap bantuan dari pemerintah segera datang. bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk memulihkan usaha yang telah hilang. “Saya hanya ingin bisa seperti dulu lagi. Dapat berjualan lagi seperti biasa,” tutupnya. (Fau)
Wartawan : Jihan Dwi Rahayu
Malam Panjang Noflen di Lubuk Minturun