Nyanyian Sunyi yang Merobohkan Bumi

Illustrator: Tsamaratur Rahmi

Oleh: Zahra Zaqhira Pilli (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)

Di tanah kami ini,

langit sepertinya lupa cara untuk bernapas.

Ia menumpahkan gelapnya tanpa jeda,

bagaikan ingin menghapus nama kami

dari peta ingatan bumi ini.

Air jatuh bukan sebagai hujan,

melainkan sebagai gerombolan nostalgia yang penuh amarah.

Menyeret pepohonan yang dulu pernah

mengajarkan kami arti kata teduh.

Kini mimpi mereka jatuh dari dahan masa depan,

seperti rahasia yang dipatahkan di tengah doa.

Di lembah itu,

tanah bergerak pelan

seperti kesedihan yang mencari wajah untuk ditinggali.

Ia membisikkan bisikan gelap yang menarik dunia perlahan ke bawah,

menyentuh dinding alam hingga goyah ingatannya,

yang kemudian menjaga langkah kami, hingga bangunan yang kami cintai itu mulai memikul retak-retak sunyi

yang berbau kegundahan hari esok.

Beberapa nama hilang,

seperti bisik yang tenggelam di tenggorokan bumi, terkubur sebelum sempat menjadi panggilan.

Terseret arus yang tak pernah memberi kami pilihan

selain menangisi jejak yang tak kembali.

Yang lain ditidurkan bumi dalam diam,

ditimbun langit yang sudah terlalu berat

menahan dendamnya sendiri.

Ada yang hendak pulang,

mengejar hangat rumah yang ia rindukan

Namun jalan justru berubah menjadi 

mulut raksasa yang lapar,

menelan langkahnya

sebelum sempat ia menyebut nama ibunya.

Kami pun terkurung,

seperti suara yang tak pernah menemukan arah pulang.

Kampung halaman menjadi pulau jauh

yang tak lagi dapat dijangkau oleh harapan,

karena jejak pulang ini telah dihapus angin sebelum sempat ditapaki,

bagai nadi yang sengaja dihentikan.

Dan jauh di kursi-kursi empuk,

mereka yang memerintahkan pohon ditebang serta tanah digali

atas nama “masa depan negeri”,

menganggap luka kami

hanyalah gerimis lokal,

bukan badai besar

yang sudah mencuri cahaya

dari mata yang belum ingin tertutup.

Seolah kehilangan kami

tak cukup keras untuk mengguncang telinga mereka.

Seolah negeri ini boleh runtuh sedikit demi sedikit asal keuntungan tetap mengalir ke kantong yang tak pernah merasa kenyang.

Maka kami berdiri

di bawah langit yang tak berhenti pecah,

menunggu hari ketika bumi

kembali mengizinkan kami menyebut kata pulang tanpa rasa takut

bahwa hujan akan menjawab

dengan bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Suara yang Tak Pernah Redup

Next Post

Ormada Solok Raya UIN IB Padang Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Sumbar

Related Posts