Organisasi Kemahasiswaan yang Kehilangan Relevansi

(Sumber: Dokumentasi Habib Prananda Andy)

Oleh: Habib Prananda Andy

(Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Imam Bonjol)

Pada dasarnya, organisasi kemahasiswaan dibentuk sebagai ruang belajar, perjuangan, dan representasi kepentingan mahasiswa. Ia seharusnya menjadi wadah kolektif untuk menyuarakan aspirasi, mengasah daya kritis, serta membangun kepemimpinan yang berintegritas. Namun, realitas yang terjadi saat ini justru menunjukkan arah yang berbanding terbalik. Organisasi kemahasiswaan semakin kehilangan relevansinya di tengah kehidupan mahasiswa.

Salah satu penyebab utama ketidakrelevanan tersebut adalah pergeseran orientasi organisasi yang kini lebih berfokus pada kepentingan segelintir orang. Keputusan-keputusan strategis tidak lagi lahir dari proses diskusi terbuka dan partisipatif bersama anggota, melainkan dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu yang memiliki kuasa lebih besar. Akibatnya, organisasi tidak lagi mencerminkan suara mayoritas mahasiswa, melainkan menjadi alat legitimasi ambisi pribadi.

Ironisnya, dalam banyak kasus, arah kebijakan organisasi justru ditentukan melalui pembicaraan dengan para senior yang secara status sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Senioritas yang seharusnya berfungsi sebagai pendamping dan pemberi masukan moral, kini berubah menjadi kekuatan dominan yang mengintervensi jalannya organisasi. Hal ini mencederai prinsip independensi organisasi kemahasiswaan dan mematikan proses kaderisasi yang sehat.

Tidak sedikit pula ketua-ketua organisasi saat ini yang hanya menjadi simbol kepemimpinan formal. Mereka diperalat, digerakkan, dan diarahkan oleh senior-seniornya tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengambil keputusan. Kondisi ini menciptakan kepemimpinan semu, di mana jabatan hanya menjadi alat, bukan tanggung jawab yang dijalankan dengan kesadaran dan keberanian.

Dampak dari situasi ini sangat jelas: mahasiswa kehilangan kepercayaan terhadap organisasi kemahasiswaan. Organisasi tidak lagi dianggap sebagai rumah perjuangan bersama, melainkan sebagai lingkaran elit yang tertutup dan sarat kepentingan. Ketika kepercayaan hilang, partisipasi pun menurun, dan organisasi perlahan menjadi kosong secara substansi.

Oleh karena itu, sudah saatnya dilakukan refleksi dan evaluasi menyeluruh terhadap praktik organisasi kemahasiswaan hari ini. Organisasi harus dikembalikan kepada mahasiswa, bukan kepada kepentingan senior, kelompok, ataupun individu tertentu. Tanpa keberanian untuk memutus rantai kepentingan sempit dan dominasi senioritas, organisasi kemahasiswaan akan terus kehilangan makna dan gagal menjalankan perannya sebagai agen perubahan di lingkungan kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ragam Budaya dan UMKM Meriahkan HUT ke-22 Solok Selatan

Next Post

Suara dari Triwikaton: Harapan Warga yang Tertahan di Koperasi Merah Putih

Related Posts