Suarakampus.com– Student Center Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang mulai difungsikan pada September 2025 dan langsung menuai kritik dari organisasi mahasiswa. Kebijakan pembatasan jam malam hingga pukul 18.00 menjadi sorotan pada Selasa (30/9).
Ketua Mapala Alpichanameru, Alhadi Masykura menilai, aturan pembatasan aktivitas kurang tepat. “Informasi dari Wakil Rektor III soal jam malam dengan syarat surat izin bagi saya tidak efektif,” ujarnya.
Alhadi menambahkan, sejumlah kegiatan mahasiswa baru bisa dimulai setelah perkuliahan selesai pada sore hari. “Akan lebih baik jika cukup dengan daftar hadir tanpa surat agar unit kegiatan mahasiswa tetap leluasa,” katanya.
Ketua UKM Bengkel Kata, Febrian Hidayat menilai, pembatasan waktu di Student Center berpengaruh besar pada organisasi kampus. “Pembatasan jam itu jelas menghambat aktivitas mahasiswa,” ungkapnya.
Febrian menjelaskan, setiap organisasi memiliki kebutuhan berbeda dan memerlukan ruang sekretariat hingga malam. “Apakah mahasiswa harus mencari tempat di luar kampus dengan biaya tambahan hanya untuk rapat dan kegiatan rutin?” tanyanya.
Febrian berharap, pihak kampus mempertimbangkan kembali kebutuhan mahasiswa. “Besar harapan kami aturan ini dievaluasi agar aktivitas tetap berjalan baik,” sebutnya.
Ketua UKM KSR-PMI Yazid Mahbub menegaskan, kebijakan tersebut mengurangi fleksibilitas kegiatan kemanusiaan. “Jujur saja, pembatasan ini cukup menghambat aktivitas kami yang kerap berlangsung malam hari,” ucapnya.
Yazid menuturkan, organisasi mereka kerap membutuhkan kesiapan logistik sewaktu-waktu untuk tanggap darurat. “Saat ada bencana kami harus siaga, sehingga akses ke sekretariat tidak bisa dibatasi,” jelasnya.
Yazid menilai, pembatasan waktu membuat efisiensi kegiatan berkurang. “Sekarang kami harus pulang sore dan kembali pagi, sehingga tenaga dan waktu lebih terkuras,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui ada sisi positif dari aturan tersebut. “Lingkungan sekretariat jadi lebih bersih dan terawat,” sebutnya.
Ketua KSR-PMI itu menyoroti turunnya produktivitas pelatihan yang biasanya digelar hingga larut malam. “Pembatasan jelas mengurangi jam pembelajaran kami,” ujarnya.
Di akhir tanggapannya, Yazid menekankan pentingnya evaluasi. “Semoga lingkungan organisasi mahasiswa tetap aman, tertib, dan bersih tanpa mengurangi ruang gerak mahasiswa,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Najwalin Syofura