Suarakampus.com- Pray For Sumatera Barat turun membantu korban bencana alam sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat Mentawai pascamusibah banjir. Bantuan dana yang disalurkan sebesar Rp 4.000.200, Senin (22/12).
Ketua Pray For Sumbar, Amanda Anggelina, menilai kegiatan penggalangan dan penyaluran donasi ke Kepulauan Mentawai menjadi momen penting. “Ini membuka mata banyak pihak terhadap kondisi nyata yang dialami masyarakat terdampak bencana,” katanya.
Ia mengatakan, kehadiran langsung tim ke lapangan membuat mereka menyadari bahwa dampak bencana di Mentawai cukup serius dan selama ini kurang terlihat. “Kalau kami tidak turun langsung, mungkin kami tidak tahu bahwa Mentawai juga cukup parah,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perbedaan pandangan dan masukan dari berbagai pihak yang terlibat dalam tim relawan.
“Tantangannya banyak, karena yang turun ke lapangan ini bukan satu kepala saja, banyak yang mengkoordinasi jadi itu sebagai kendala,” paparnya.
Lanjutnya, pemerintah desa sangat mendukung penyaluran dana yang diberikan untuk masyarakat. “Pemerintah desa membantu melakukan pendataan untuk Dusun dan Desa yang terdampak,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap kegiatan donasi seperti ini dapat terus berlanjut dengan dukungan sumber dana yang lebih luas. Menurutnya, masih banyak warga terdampak di Mentawai yang belum tersentuh bantuan.
“Harapan kami ke depan, sumber dana donasi ini semakin banyak, lebih banyak yang turun ke lapangan, sehingga kita bisa membantu warga yang sampai hari ini belum terjamah bantuannya,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Mahasiswa Mentawai Sumatera Barat, Markolinus Sagulu, mengatakan konteks bencana alam orientasinya jika berbicara sebagai manusia. “Tapi sebagai kaum intelektual, melihat ini sebagai dampak eksploitasi hutan yang dilakukan sampai hari ini,” ucapnya.
Ia mengatakan, ada beberapa PT perusahaan kayu yang mengeksplotasi hutan dengan bebas. “Kami sebagai generasi muda tidak mau hutan kami dibabat tanpa belas kasih,” katanya.
Lanjut Marko, informasi diperoleh melalui unggahan masyarakat di media sosial serta laporan langsung dari warga di lapangan. “Dana bantuan disalurkan ke Dusun Bakkeiluk, Salappa, Magosi, Tinambu, dan Desa Munthei,” tuturnya.
Marko menambahkan, banjir di wilayah Salapa bahkan terjadi hampir setiap hari. Hal itu disebabkan aliran sungai di bagian hulu tidak lagi memiliki penahan alami. “Pohon-pohon besar itu sudah tidak ada lagi, karena kejadian penembangan yang dampaknya sekarang,” jelasnya.
Menurut Marko, banjir tersebut merendam rumah warga, fasilitas umum, serta sekolah, sehingga menghentikan aktivitas dan sumber penghidupan masyarakat. “Bantuan yang berhasil dikumpulkan berupa pakaian layak pakai, obat-obatan, serta kebutuhan logistik lainnya,” ucapnya.
Di akhir wawancara, Marko menyampaikan harapan agar pemerintah daerah hingga kementerian terkait segera menghentikan eksploitasi hutan di Kepulauan Mentawai. “Hutan itu ibu kami, hutan itu kehidupan kami. Kami meminta pemerintah menghentikan eksploitasi hutan di Mentawa,” tegasnya. (red)
wartawan: Elsa Mayora dan Zahra Mustika