Suarakampus.com– Terpal dan tenda sederhana kini menjadi saksi bisu perjuangan hidup warga Batu Busuk yang kehilangan segalanya akibat banjir bandang akhir November lalu. Ketika malam tiba, mereka berkumpul dan berbaring di alas seadanya, berusaha menyusun kembali sisa-sisa kehidupan yang tersapu arus.
Syahril, salah seorang warga terdampak, duduk termenung memandangi tenda yang kini menjadi tempat tinggalnya. Banyak orang mengira bangunan sederhana dari terpal dan kayu itu adalah posko bantuan. Namun bagi Syahril dan warga lainnya, tempat itu adalah ruang bertahan hidup.
“Ini bukan posko,” katanya pelan dengan mata berkaca-kaca. “Kami korban langsung. Kami berkumpul dan tinggal di sini atas inisiatif sendiri.” tambahnya.
Warga sekitar tidak membuka posko bantuan secara khusus. Mereka tidak ingin terlihat mengemis. Namun jika ada yang mengulurkan tangan, mereka menerima dengan lapang dada. “Kalau ada yang mau berdonasi, silakan,” ujar Syahril.

Pemandangan di sekitar tenda pengungsian mencerminkan kehancuran yang menyeluruh. Rumah-rumah mengalami kerusakan berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah. Suara gemericik air masih memenuhi telinga, mengingatkan mereka pada bencana yang baru berlalu.
“Tidur di bawah sehelai terpal di sini. Rumah sudah tidak ada,” kata Syahril mengenang.
Untuk keperluan mandi dan sanitasi, mereka menumpang ke rumah tetangga yang tidak terjamah banjir. Meski disambut dengan ramah, warga terdampak tetap merasa sungkan. “Masih ada rumah yang tidak roboh. Kami menumpang ke sana,” ujarnya.
Banjir bandang tidak hanya menyeret rumah, tetapi juga seluruh harta benda. Syahril menyebutkan, tak ada satu pun yang tersisa. Semuanya lenyap ditelan air, termasuk sawah yang menjadi sumber penghidupan mereka.
“Rumah habis. Harta habis. Sawah juga dibawa. Semuanya,” katanya.
Di tenda pengungsian, logistik makanan terbilang cukup karena bantuan yang datang silih berganti. Namun untuk jangka panjang, warga masih kekurangan banyak hal, terutama peralatan memasak.

“Tidak ada peralatan masak. Jika pun ada bantuan beras, dengan apa kami memasak?” keluhnya. “Kalau tidak ada yang mengantar makanan, tentu kami tidak bisa makan.”
Seorang ibu rumah tangga, Tis, masih mengingat jelas hari ketika semua harapan harus direlakan. Awalnya hanya hujan biasa pada tanggal 24 November 2025. Kemudian sungai meluap, dan air bah datang dengan deras.
“Kala itu kami masih di rumah. Tapi air makin besar. Akhirnya kami lari ke sekolah terdekat.” kenangnya.
Tanggal 25 November, hujan belum juga berhenti. Hingga pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB, mereka menyaksikan langsung bagaimana pemukiman mereka luluh lantak dalam pusaran banjir.
“Habis total. Tersisa satu pondasi beton setinggi betis yang tidak bisa kami huni,” ujarnya.
Sebanyak 12 orang dari keluarganya terdampak. Hampir seluruh rumah keluarga besar di kawasan tersebut tak bersisa. “Dari jembatan sampai ke ujung jalan, itu keluarga kami semua. Keluarga besar kami tidak punya rumah lagi,” katanya.
Kerugian yang dialami tidak terhitung. Rumah, sawah, dan seluruh harta benda hanyut dilahap air. Namun di balik kehilangan itu, masih ada rasa syukur yang tersisa.
“Yang penting kami selamat,” ucap Tis.
Warga berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada kunjungan semata. Mereka membutuhkan kepastian, tempat tinggal baru, perbaikan infrastruktur, dan alat berat untuk membersihkan puing-puing yang dibawa banjir.
“Kami mohon bantuan untuk rumah dan kehidupan ke depan, agar bisa hidup seperti semula.” kata Syahril.
Kini, di bawah terpal sederhana, warga Batu Busuk masih terus menanti. Menunggu bantuan, rehabilitasi, dan hari ketika mereka bisa kembali hidup normal tanpa menjadikan tenda sebagai rumah. (ver)
Wartawan: Zahra Mustika
#PrayforSumatera