Perjuangan Seorang Ayah yang Memiliki Keterbatasan untuk Menyelamatkan Anaknya dari Penjahat

Judul: Don’t Breathe 2
Genre: Action, Crime dan Horor
Tahun Penayangan: 15 October 2021
Sutradara: Rodo Sayagues
Perusahaan Produksi: Screen Gems, Stage 6 Films, Ghost House Pictures, dan Bad Hombre
Durasi: 98 menit
Pemeran: Stephen Lang sebagai Norman Nordstrom, Madelyn Grace sebagai Phoenix, dan Brendan Sexton III sebagai Raylan
Resensiator: Julia Permata Sari (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)

Don’t Breathe 2 adalah sebuah film horor laga seru Amerika Serikat garapan Rodo Sayagues, dari skenario yang ia tulis bersama dengan Fede Álvarez, dan diproduseri oleh Fede Álvarez. Rodo Sayagues ialah seorang produser dan juga penulis. Hasil dari tulisannya antara lain Don’t Breathe (2016), Don’t Breathe 2 (2021) dan baru ini ia melakukan debut kembali dengan judul film Texas Chainsaw Massacre (2022). Fede Alvarez dilahirkan di Montevideo, Uruguay pada 9 February 1978. Ia seorang produser sekaligus juga sebagai penulis, karya tulisannya yang sudah di film kan antara lain: Evil Dead (2013), The Girl In The Spider’s Web (2018) dan Don’t Breathe (2016). Untuk film Don’t Breathe 2 (2021) ia membantu Rodo Sayagues yang melakukan debut penyutradaraannya pertama kali.

Don’t Breathe 2 merupakan sekuel dari film horror laga yang kali ini digarap oleh sineas debutan Rodo Sayauez. Sineas seri pertamanya, Fede Alvarez juga ikut Kembali menulis naskah film ini. Sang aktor, Stephen Lang kembali berperan sebagai Norman Nordstrom, lelaki tua buta alias The Blind Man, berhasil menjadi sosok yang menyeramkan. Dan Madelyn Grace sebagai Phoenix putri dari Norman Nordstrom.

Norman sangat menjaga keamanan putrinya Phoenix dari ancaman tidak terduga dengan memberikan ujian berupa cara mempertahankan diri dari ancaman. Terlihat phoenix yang sedang dikejar anjing ayahnya mencoba menyelamatkan dirinya. Norman dan Phoenix tinggal di dalam hutan dengan menjual bibit pohon kepada Hernandez. Sehingga membuat Phoenix jarang melihat kehidupan di kota, pada saat Hernandez datang untuk mengambil bibit pohon dan mengajak Phoenix untuk ke kota, dengan lantang Norman menolak, namun Hernandez berkata jika Norman terus melarang Phoenix akan berkemungkinan membuat Phoenix melakukan hal yang tak terduga seperti kabur diam-diam.

Hernandez dan Phoenix berangkat ke kota sesampainya Hernandez menyelesaikan urusannya dan Phoenix menunggu di taman bermain, saat ingin kembali pulang Phoenix meminta izin untuk ke toilet dan di toilet dia bertemu seorang lelaki yang tidak dikenalnya dan segera kembali ke mobil bersama Hernandez kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang. Seusai mengantar Poenix pulang ke rumahnya diperjalanan Hernandez dihalangi mobil kemudian dia diserang oleh para penjahat hingga tak bernyawa.

Ternyata penjahat tersebut mengincar Phoenix, Raylan merupakan ayah kandung Phoenix, Phoenix tidak mengetahui hal itu karena sedari kecil ia diasuh oleh Norman. Saat malam Raylan mendatangi kediaman Norman, di depan rumah dijaga oleh anjing Norman yaitu Shadow. Raylan memancing Shadow ke hutan dan menembaknya membuat Norman mencari Shadow ke dalam hutan namun tanpa diketahui Norman anak buah Raylan sudah masuk ke dalam rumahnya untuk menculik Phoenix.
Phoenix yang menyadari hal tersebut mencari tempat persembunyian dia selalu dikejar-kejar oleh anak buah Raylan hingga ditemukan namun disaat seperti itu juga Norman kembali dan perkelahian pun dimulai. Selagi menghadapi anak buahnya Raylan, Norman tersulut emosi oleh argumennya Raylan dan membuat Phoenix berhasil didapatkan Raylan dan dibawa ke rumah mereka, rupanya di sana telah menunggu seorang dokter dan istrinya Raylan yang pada saat itu membutuhkan donor jantung.

Meninggalkan Norman di rumah yang dibakar oleh Raylan, namun Norman berhasil keluar dari rumah nya yang terbakar itu walaupun Norman itu buta tidak membuatnya susah menghadapi anak buah Raylan, meski mata nya tidak mampu melihat, pendengarannya sangat jernih sehingga setiap langkah musuh dapat didengarnya. Hingga sampailah Norman ketempat Phoenix berada.
Phoenix terbangun dan dia sudah berada di atas meja operasi bersebelahan dengan ibunya, namun operasi yang dilakukan dokter itu beresiko sebab dengan menggunakan alat-alat seadanya saja. Tiba-tiba saat dokter hendak membelah tubuh Phoenix listrik padam, dan Norman sudah menghabisi anak buah Raylan.

Raylan yang menyadari kehadiran Norman langsung membawa Phoenix dan istrinya tetapi tetap saja Norman dapat mengejarnya sehingga pertumpahan darah antara Norman dan Raylan tidak terhindarkan. Juga istri Raylan yang saat itu diborgol bersama dengan Phoenix terlempar ke dalam lubang membuat Phoenix terpaksa memutuskan tangga ibunya itu agar tidak terjatuh bersama.
Norman menusuk kedua bola mata Raylan dengan kedua ibu jarinya hingga membuatnya buta, dan dibiarkan saja oleh Norman. Norman yang selamat dengan Phoenix berlutut meminta maaf kepada Phoenix dan melarang Phoenix untuk mendekatinya, ia menyuruh Phoenix meninggalkannya sendirian.

Phoenix berteriak dan meninggalkan Norman. Dari belakang Raylan yang masih sadar menusuk Norman dan menarik kepalanya untuk dibunuh, dengan seketika datang Phoenix dengan pedang di tangannya dan menusuk Raylan hingga jatuh ke dalam lubang yang sama dengan istrinya. Phoenix mendekap tubuh Norman yang hampir sekarat dan Phoenix meninggalkan gedung itu, berjalan menyusuri tempat itu hingga menemukan sekawanan anak-anak yang dijumpai nya waktu di taman bermain. Dia menawarkan diri untuk berteman kepada anak-anak tersebut, dan akhirnya mereka menerima Phoenix.

Dari film “Don’t Breathe 2” ini banyak hikmah yang dapat kita petik bagaimana trik gelap-terang yang dilakukan sutradara menambah kesan menegangkan bagi para penonton serta adegan persembunyian yang dilakukan Phoenix membuat penonton menjadi deg-degan. Serta kisah perjuangan tokoh Norman dalam menyelamatkan anak angkatnya Phoenix dari para penjahat kriminal yang ingin memanfaatkan dan mengambil organ tubuh Phoenix. Alur cerita, sound film, dan efek sadis film ini sangat terasa dan keren. Pembunuhan dan pertumpahan darah yang dilakukan terlihat nyata dan plot twist dalam film ini susah ditebak dan sangat sulit untuk menerka.

Akan tetapi, film ini untuk usia dewasa 17+ karena berisi konten sadis dan pembunuhan seperti nyata yang memperlihatkan perkelahian antara tokoh utama dan penjahat dalam menyelematkan diri mereka masing-masing. Pertumpahan darah yang ditampilkan sangat nyata pada film ini. Serta tipu daya yang dilakukan penjahat terhadap Phoenix hanya untuk memanfaatkan Phoenix dengan mengambil organ dalamnya saja.

Dari film ini dapat diambil pesan moral yang menyentuh terutama untuk para anak-anak yang masih mempunyai orang tua lengkap bahagiakan orang tua kalian, berikan cinta kasih saying kalian kepada mereka dan patuhi apa yang disampaikan mereka. Serta sebuah keluarga itu merupakan tempat untuk berlindung dan berbagi kasih saying, jangan saling egois dengan mementingkan kemauan dan keinginan masing-masing saja tampa memikirkan resiko yang akan terjadi nantinya. Dan menjadi orang yang memiliki kekurangan bukanlah hal yang tidak baik, kekurangan yang ada pada diri kita jadikan suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous Post

Mengurai Benang Merah Produk Lembaga Keuangan Syariah

Next Post

Gelar Diskusi Dosen Tamu, Kaprodi PBA: Bangkitkan Kembali Gairah Akademik

Related Posts

Ina

Oleh: Muhammad Iqbal (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Hari-hariku mulai terasa suramPagiku, tak se gemercik duluSiang ku panas,…
Selengkapnya
Total
0
Share