Suarakampus.com- Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang, Hidayatul Fikri, menyampaikan evaluasi akhir terhadap kinerja Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) yang dinilai hanya berjalan efektif selama sekitar tiga bulan. Evaluasi tersebut mengungkap berbagai kendala internal dan eksternal yang menghambat pencapaian target program kerja selama masa kepemimpinan, Rabu (14/01).
Hidayatul Fikri menjelaskan, evaluasi kepengurusan telah dilakukan dalam dua momentum, yaitu pada 100 hari kerja dan di penghujung masa jabatan. “Evaluasi diikuti dengan langkah perombakan kabinet sebagai bentuk penyesuaian terhadap dinamika organisasi,” paparnya.
Presiden Mahasiswa itu menyebutkan, masa kepemimpinan yang secara administratif hanya efektif dari September hingga Desember menjadi penyebab tidak tercapainya sejumlah target program. “Banyak waktu kepengurusan terbuang sebelum aktivitas organisasi benar-benar berjalan,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, keterbatasan sumber daya manusia menjadi kendala utama karena banyak pengurus yang harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan praktik lapangan. “Kondisi tersebut membuat sebagian kementerian dan anggota tidak dapat bekerja secara optimal,” jelasnya.
Hidayatul Fikri menilai, kepengurusannya tidak menitikberatkan pada manuver politik melainkan pada upaya penguatan internal organisasi. “Fokus utama adalah memastikan tim mampu menyelesaikan program kerja meskipun dalam keterbatasan,” tegasnya.
Dalam dinamika politik internal, Hidayatul Fikri memandang perbedaan pandangan sebagai sesuatu yang wajar karena hal itu justru mencerminkan demokrasi di lingkungan kampus. “Dinamika tersebut pada dasarnya tidak bersifat dominan pada kepentingan pribadi,” ungkapnya.
Menjelang berakhirnya masa jabatan, Presiden Mahasiswa itu menyatakan harapannya agar pondasi yang telah dibangun dapat dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya. “Pasalnya, sejumlah capaian dan proses telah diletakkan sebagai dasar untuk penguatan lembaga ke depan,” katanya.
Apabila diberi kesempatan memimpin kembali, Hidayatul Fikri menyebut aspek utama yang akan dibenahi adalah koordinasi antarlembaga kemahasiswaan di berbagai tingkat. “Oleh karena itu, aspek utama yang akan dibenahi adalah koordinasi dan sinkronisasi antara lembaga maupun eksekutif mahasiswa,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Program Studi, DEMA Fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa, dan DEMA-U. “Program-program kemahasiswaan harus berjalan lebih terintegrasi,” tegasnya.
Dengan berakhirnya masa jabatan tersebut, Hidayatul Fikri berharap arah penguatan kelembagaan yang telah dirintis menjadi pijakan bagi pemerintahan mahasiswa periode berikutnya. “Kerja kolektif yang telah dirintis dapat menjadi pijakan bagi pemerintahan mahasiswa ke depan,” pungkasnya. (Raf)
Wartawan: Zahra Mustika