Presma UIN IB Bakal Dipilih Lewat Sidang Pleno Sema-U

Foto: beberapa mahasiswa UIN IB Padang menyalurkan hak suara di TPS saat Pemira (Dok: suarakampus.com/2019)

Suarakampus.com- Senat Mahasiswa (Sema) UIN Imam Bonjol Padang akan melaksanakan pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) periode 2022/2023 melalui sidang pleno terbuka, pada Jumat (25/03) mendatang. Hal tersebut dipertegas oleh pernyataan Ketua Sema Universitas (Sema-U), Jafri Naldo yang akan membahas Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) dengan melihat situasi dan kondisi perkuliahan yang ditetapkan.

Baca juga: 24 Pengurus Sema-U Resmi Dilantik, Rektor: Mesti Berkontribusi Penuh

Wakil Ketua Sema UIN IB Mardian Susanto mengatakan, pemilihan Presma akan dilangsungkan melalui sidang pleno yang akan dihadiri oleh seluruh anggota Sema-U. “Kalau sidang pleno terbuka untuk seluruh anggota Sema-U,” tuturnya.

“Rapat pleno itu anggota Sema-U yang mengambil keputusan, karena anggota Sema-U itu representasi dari seluruh mahasiswa, dan nantinya akan disaksikan secara terbuka,” katanya via WhatsApp, Selasa (22/03).

Sebelumnya, Mardian mengatakan Musyawarah Dewan Mahasiswa (Mudema) merupakan alternatif terbaik untuk mengaktifkan kembali Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U).

Kata dia, Sema-U tidak bisa menyelenggarakan Pemira lantaran Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak mengetahui tupoksi kerjanya. “Banyak yang tidak paham tupoksi kerja dan minimnya kesadaran organisasi,” ucapnya.

Kemudian katanya, Sema-U telah mempertimbangkan bahwa Pemira bukanlah langkah yang bisa untuk mengaktifkan Dema-U. Pasalnya ia menilai sosok pemimpin yang terpilih melalui Pemira kurang berkompenten.

Menanggapi hal itu, salah seorang Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi mengatakan, sistem perwakilan yang bakal dilaksanakan Sema-U tidak lagi menggambarkan demokrasi. “Sistem ini menghilangkan hak pilih seluruh mahasiswa dan hak mencalonkan diri menjadi bagian dari Dema-U,” ucapnya.

Katanya, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 4961 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), di mana memuat aturan baru sistem pemilihan Dema dan Sema.

Kemudian, ia menuturkan dalam SK Dirjen Pendis bertuliskan bahwa sistem pemilihan organisasi mahasiswa yaitu Dema maupun Sema di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) secara perwakilan.

Kendati demikian, menurutnya dengan menggunakan sistem tersebut seluruh mahasiswa terbatas dalam mencalonkan kandidatnya, dan hanya Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang berhak menetapkan dan menentukan calon kandidat. “Sistem delegasi ini bisa memangkas biaya, tenaga dan waktu, namun menghilangkan suara mahasiswa dengan hati nuraninya,” tegasnya.

“Sudah sepatutnya kita menyuarakan bagaimana keadilan yang merata untuk UIN IB, dengan mengusulkan kembali sistem Pemira bukan sistem delegasi atau perwakilan,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja sama, Welhendri Azwar mengecam jika Dema-U belum terbentuk sebelum Maret maka Sema-U akan dibubarkan, karena dinilai lalai akan tanggung jawab. “Jika bulan ini tidak terlaksana, SK Sema-U akan saya cabut,” tegasnya.

Welhendri menegaskan untuk meminimalisir konflik kepentingan, yang mengikuti hal tersebut adalah mahasiswa yang benar-benar bisa mewakili Prodinya.

Ia mengatakan, sistem perwakilan merupakan alternatif untuk mengaktifkan Dema-U selama dua tahun vakum. “Kita harus segera mengaktifkan Dema-U, bagaimanapun caranya,” katanya. (Red)

Wartawan: Firga Ries Afdalia

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ketua HMP IAT Bantah Dugaan Terima Koalisi dari OKP

Next Post

Bukan Perihal Akademisi, Anggota DPD RI: Kecakapan Legislator Diperlukan untuk Meningkatkan Kinerja

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty