Suarakampus.com– TV One mengadakan diskusi live mengenai demonstrasi besar-besaran yang terjadi beberapa waktu lalu sebagai bentuk protes keras publik atas sikap DPR yang mengabaikan aspirasi dan kepentingan rakyat. Acara tersebut menghadirkan budayawan Sujiwo Tejo sebagai narasumber, Senin (01/09).
Sujiwo Tejo selaku budayawan memberi pendapat atas himbauan Menhan yang dinilai salah mengenai larangan membakar dalam aksi demonstrasi. Demonstrasi tidak akan merusak, yang merusak adalah pengembang dan pembakar pasti penumpang gelap.
Budayawan tersebut mengatakan seni rakyat di Jawa terdapat kesenian bernama Jaka Tingkir yang untuk mendapat kedudukan dan kekuasaan dilengserkan sultan. “Di Jawa ada kesenian rakyat namanya Jaka Tingkir,” ungkapnya.
Sujiwo selalu mengingat cerita Jaka Tingkir dengan kebakaran saat masa aksi karena khawatir ada pihak yang sengaja membuat masalah untuk kemudian menyelesaikannya sendiri. Setiap kali ada kebakaran, budayawan tersebut curiga ada dalang di balik peristiwa tersebut.
Pria tersebut setuju dengan pernyataan Ikram Ketua BEM SI Seluruh Indonesia bahwa ada penyusup yang memberikan pemberitaan sebelum kejadian terjadi. Penyusup tersebut sudah pulang sore hari namun pemberitaan tentang kebakaran dan himbauan larangan membakar sudah muncul.
Sujiwo menyatakan kekhawatirannya terhadap ijazah anggota DPR yang dijadikan tolok ukur kejujuran di KPU namun kemudian dijadikan seperti tuhan. “Ijazah sebagai kejujuran waktu di KPU menjadi ijazah sebagai tuhan,” ungkapnya.
Aktivis budaya tersebut juga mengatakan tidak ada hubungan antara kesuksesan seseorang dengan ijazah yang dimilikinya. Orang sukses pasti pernah mengambil risiko yang tidak pernah diambil orang lain dalam hidupnya.
Kepala Staf Kepresidenan menjawab pertanyaan Sujiwo tentang ketika meredam situasi ada Prabowo, Megawati, ketua partai, dan ketua MPR namun Gibran tidak hadir. “Kan presiden dan wakil presiden satu paket,” pungkasnya. (ver)
Wartawan: Najwalin Syofura