Oleh: Alfikri
Baru saja saya selesai membaca tulisan teman saya, Geri septian, di Mojok Terminal yang berjudul “Enaknya Fresh Graduate di Jogja Nggak dicap Pengangguran”. Tulisan itu hangat, renyah, dan sedikit bikin iri.
Katanya, di Jogja, jadi pengangguran tetap bisa tampak produktif karena ada banyak forum diskusi. Bahkan kalau belum dapat kerja pun, tetap bisa “sibuk” dengan kegiatan intelektual.
Sebagai sesama Fresh Graduate tapi versi Sumatera Barat, saya ingin ikut meneliti fenomena itu. Bukan bermaksud untuk membantah, tapi untuk memperkaya literatur tentang pengangguran nasional.
Kalau Geri menulis dari Jogja, saya ingin menulis dari Padang kota tercinta, kota yang dalam umpatan Bang Fatris MF sebagai kota tinggalan colonial yang terlantar, yang ingin berubah cepat walau cara pandang dan berpikir penduduknya berevolusi kian lambat.
Di Padang, Jadi Pengangguran itu bukan gaya hidup alternatif, tapi kenyataan yang penuh dengan konsekuensi social. Kalau di jogja pengangguran bisa dianggap “Aktivis Diskusi” di padang kita hanya disebut sebagai pengangguran tulen. Kalimatnya sederhana, tapi efeknya eksistensial.
Saya pernah mencoba menerapkan gaya hidup ala Geri, Bangun siang, baca buku, nongkrong di warung kopi, dan berharap dianggap intelektual. Sayangnya, di padang, nongkrong di warung kopi tidak otomatis menjadikan kita cendekiawan. Paling paling Cuma dianggap sebagai pelanggan tetap yang hutangnya diingat kasir.
Geri menulis tentang betapa hidup di Jogya membuatnya merasa damai dan Nrim. Saya membaca itu sembari menatap dompet kosong, lalu berfikir kalau saya terlalu nrimo di padang, mungkin saya akan benar benar Nir-Makan.
Disini, forum diskusi memang ada, tapi tidak setiap hari. Dan kalaupun ada, biasanya tanpa konsumsi. Padahal bagi pengangguran, konsumsi seringkali lebih menarik daripada topik diskusi.
Di Jogja, katanya orang bisa tampak sibuk hanya dengan ikut diskusi diskusi kecil. Di padang, kami juga sering sibuk, tapi sibuk mencari sinyal lowongan di Grup telegram.
Beda konteks beda perjuangan. Kalau di jogja orang bisa hidup dari idealism, di padang kami hidup dari strategi bertahan. Misalnya menyeduh kopi sachet dua kali dengan air panas berbeda agar tetap terasa “baru.”
Atau ikut pelatihan online gratis supaya terlihat produktif, padahal motivasinya cuma karena dapat sertifikat PDF.
Namun, di balik semua ini, saya sebenarnya iri juga. Iri pada suasana Jogja yang katanya menenangkan dan memelihara pikiran. Sementara di Padang, kami lebih sering memelihara harapan yang kadang tak bertahan sampai akhir bulan. Tapi, mungkin memang begitu seharusnya hidup ini berjalan.
Ada yang belajar menerima dan ada yang menemukan makna hidup di forum diskusi, ada juga yang menemukannya di antrian job fair. Toh, pada akhirnya, baik di Jogja maupun di Padang, kami sama-sama belajar hal yang sama bahwa pengangguran tidak sekadar status, tapi proses mengenali diri sendiri di tengah dunia yang sibuk menuntut produktivitas.
Jadi, setelah membaca tulisan Geri, saya tidak marah. Saya hanya ingin mengajukan usulan tambahan dalam kajian antropologi pengangguran Indonesia: di Jogja, pengangguran disebut intelektual. Di Padang, kami disebut tabah.