Pada waktu itu adalah hari Jumat. Di tempat di mana aku akan bekerja, aku melangkah dengan yakin dan percaya diri bahwa kali ini aku akan menyukseskan tempat ini, tempat di mana aku akan menghasilkan sejumlah uang yang akan kuberikan untuk ibuku di rumah.
Ibuku sakit. Dia memerlukan sejumlah perobatan di rumah sakit. Badannya sudah terkikis oleh usia serta kondisi badan yang sangat lemah. Aku mencari pekerjaan dengan tujuan membantu pengobatan dan kehidupan kami karena aku yakin, dengan aku berusaha, ibuku pasti bisa kembali sehat dan bugar.
Aku menatap dengan saksama ke arah siluet matahari pagi dengan embun yang masih segar, pertanda kegiatan pagi yang menyenangkan. Saat aku bekerja, ibuku ditemani oleh adikku bernama Sarah. Dia belum bekerja karena masih setara anak sekolah dasar. Aku ingin menyekolahkannya, namun apalah daya, aku tidak punya uang yang cukup untuk membuat adikku itu bersekolah. Tetapi, aku akan bekerja keras untuk kehidupan kami yang lebih baik.
Selama aku bekerja, aku diberikan seorang bos yang baik hati serta teman sekerja yang sangat baik. Beliau tidak memandang aku miskin atau kaya. Dia menganggap semuanya itu sebagai sahabatnya, bukan karena duit, tetapi pertemanan yang murni.
Kami menerima gaji setiap sebulan sekali. Walau jumlahnya tidak sebanyak warga kantoran lain, walau begitu aku tetap bahagia karena aku bisa memberikan uang yang halal untuk adikku maupun diriku sendiri.
Umurku sekitar 22 tahun, sementara adikku 7 tahun. Aku yang bekerja, sementara dia menjaga ibu. Walau kami mendapat cacian dan makian di depan banyak orang, kami tidak pernah marah, apalagi kecewa, karena kami mensyukuri hal ini agar aku bisa belajar bahwa suatu saat nanti Allah akan mengangkat derajatku agar bisa memberikan yang terbaik buat ibuku.
Hingga suatu hari, aku mendapat tawaran untuk menjadi asisten seorang pekerja dari seorang influencer dengan syarat aku harus meninggalkan ibuku dan adikku sendirian di rumah.
Aku berpikir dengan matang sambil mengusap dagu. Dalam pikiranku berkata seperti ini, “Jika aku tinggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa memastikan bahwa ibuku baik-baik saja. Serta, walau aku dapat gaji yang cukup besar, belum tentu aku mendapatkan ibuku yang telah melahirkanku dengan susah payahnya. Karena bagiku, ibuku adalah yang paling berharga dan teristimewa. Aku ingin mengabdi kepadanya sampai ia sembuh dari penyakitnya.”
Jelasku dalam gumamanku. Aku menengadah, menatap orang yang tinggi, berlapiskan mantel hitam, berpakaian mewah, dan berkata, “Sepertinya aku tidak bisa mengikutimu, Tuan, karena aku harus menjaga ibuku agar aku tidak menyesal selama hari-harinya. Bagiku, ibu ialah yang paling berharga.”
Ucapku dengan mengusap air mata yang telah jatuh ke pipi.
Seketika, pria mengenakan mantel hitam itu menunduk ke bawah dan berkata, “Selamat, kamu lulus ujianku.”
Seketika itu juga aku kaget. “Maksudnya?” celetukku.
Beliau berkata lagi, “Ini memang ujian untukmu atas kesungguhanmu saat ini. Aku terharu dengan kesungguhan kamu dalam menghadapi situasi yang sulit ini, dan kamu tetap memilih untuk bersama ibu kamu serta adik kamu. Di dalamnya, aku terkesan. Untuk itu, aku akan mengajak ibu kamu, adik kamu, serta kamu menjadi ajudanku dan membuatkan kalian rumah baru yang lebih bagus agar ibu kamu bisa merasa lebih nyaman. Serta, kami sediakan dokter di dalamnya untuk memastikan tubuhnya agar pulih secara total.”
Mendengar hal itu, tubuhku langsung jatuh ke tanah begitu saja. Aku menangis tersedu-sedu, memeluk ibuku yang sakit serta adikku yang masih kecil, dan berucap, “Sungguh, Allah telah memberikan hadiah terbaik untuk kita,” jelasku.
Pesan dan Kesan
Janganlah memandang seseorang itu dengan pandangan merendahkan. Jagalah ibumu seperti kamu menjaga dirimu sendiri. Jangan jadikan mereka beban seolah sampah di rumah, karena ibumu yang melahirkan dan membesarkan kamu dengan keringat murninya.
Yakinlah, ibu kamu sedang mendoakan kamu untuk keberhasilan kamu di masa depan. Walau dia berdoa tanpa sepengetahuan kamu di balik sepertiga malam, menangis meminta pertolongan kepada Sang Mahakuasa.
Ujian Kesetiaan: Hadiah Terindah untuk Ibu