Calon Rektor dan Kesunyian yang Visioner

Oleh: Al Fikri

(Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN IB)

Dalam sunyi pemilihan rektor, ia tetap menulis sebagai bentuk protes paling santun yang bisa dilakukan oleh mahasiswa.

Menjelang pemilihan Rektor UIN Imam Bonjol Padang yang baru, Suara Kampus mengambil langkah proaktif dengan mengundang sebelas bakal calon rektor untuk memaparkan gagasan serta visi-misi mereka. Undangan ini bertujuan membuka ruang dialog antara calon pemimpin kampus dengan civitas akademika, terutama mahasiswa yang selama ini berperan sebagai motor penggerak kehidupan akademik dan penjaga budaya intelektual kampus.

Ironisnya, sejak undangan itu diterbitkan pada 15 Mei 2025 hingga kini, belum ada satu pun gagasan dari calon rektor yang terbit di laman media Suara Kampus. Yang terdengar hanyalah kesunyian. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan para calon untuk menjadi pemimpin yang benar-benar visioner dan responsif.

Sebenarnya, saya enggan menulis tentang persoalan ini. Bagi saya, kesebelas calon rektor ini adalah guru kehidupan saya. Lagi pula, mengumbar kajian di muka guru bukanlah kebiasaan yang pernah saya lakukan. Namun, karena galanggang (forum diskusi) telah disiapkan oleh Suara Kampus, saya pun mencoba untuk menyampaikan pendapat.

Beginilah, Bapak-Ibu Calon Rektor sekalian,

Dalam dunia akademik yang menjunjung tinggi gagasan, dialog, dan pembaruan, diamnya Bapak-Ibu bagaikan teka-teki yang sulit terpecahkan. Ketika panggung telah disediakan dan undangan terbuka disampaikan dengan niat mulia, mengapa yang muncul justru keheningan?

Apakah kesunyian ini bisa disebut sebagai visi? Ataukah diam Bapak-Ibu patut kami tafsirkan sebagai kebijaksanaan? Jangan-jangan, keheningan ini justru merupakan gagasan cerdas yang belum kami pahami?

Kampus bukanlah monumen bisu yang hanya perlu dihiasi nama-nama besar tanpa suara. Ia adalah ruang hidup yang dinamis, tempat setiap aspirasi perlu didengar dan setiap langkah perlu dijelaskan. Kampus bukan panggung untuk mereka yang pandai menyusun CV, tetapi enggan menyusun gagasan tentang arah kepemimpinan.

Kampus adalah tempat di mana keberanian menyampaikan gagasan lebih penting daripada sekadar menjaga citra.

Apakah mungkin Bapak-Ibu calon rektor sedang bertapa sebelum terpilih? Atau barangkali tengah menunggu ilham turun pada detik-detik terakhir? Kami memaklumi bahwa merumuskan gagasan bukan perkara ringan. Namun jika diam menjadi strategi utama dalam kontestasi akademik, patutlah kami khawatir, jangan-jangan nanti setelah menduduki kursi rektor pun, diam akan menjadi kebijakan unggulan.

Padahal, mahasiswa yang disebut sebagai mitra kritis dalam tri dharma perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang hadir secara administratif semata. Kami butuh pemimpin yang hadir secara intelektual – yang bersuara tidak hanya saat pelantikan, tetapi juga ketika ditantang untuk menjelaskan arah masa depan kampus.

Sebab, jika gagasan saja enggan dibagikan, lalu apa yang akan dipimpin? Kalender akademik? Tanda tangan? Atau sekadar seremoni belaka?

Rektor lebih dari sekadar administrator; rektor adalah lokomotif. Dan lokomotif, seindah apa pun catnya, tetap tidak berarti jika hanya diam di stasiun. Mahasiswa bukan penumpang pasif; kami adalah penggerak sejarah yang perlu tahu ke mana arah kereta ini akan dibawa, oleh siapa, dan dengan logika apa.

Jadi, jika Bapak dan Ibu calon rektor merasa cukup berwibawa dengan diam, biarlah opini ini menjadi pengingat kecil: diam tak selalu emas—kadang hanya bentuk lain dari kebingungan yang dibungkus dengan elegan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Makna Mendalam Hari Raya Idul Adha

Next Post

Denting Alam dalam Sajak Minang

Related Posts