Oleh: Erlin Eliora Garini ( Mahasiswa Semester 6 KPI)
Di sudut bibir pantai, ombak bersyair lirih
Menyampaikan salam dari samudera ke pepohonan
Langit membentang biru bagaikan sajadah do’a
Angin menyulam nyanyian di sela daun pandan yang bersahaja
Bukit-bukit menjelma sebagai perisai
Memeluk pantai yang tenang dalam lengkung senja
Di sela karang, rahasia laut bersembunyi
Ada kehidupan yang tumbuh dalam hening yang abadi
Pulau-pulau kecil bagai serpih surga yang tersebar
Pagang, Pasumpahan, hingga Mandeh memeluk dalam lembutnya teluk
Di perairan jernih, perahu nelayan melukis garis takdir
Dengan dayung yang tak sekadar mencari nafkah,
Tetapi juga merawat pusaka dari arus yang terus berubah
Anak-anak berlarian di pasir yang hangat oleh matahari
Setiap tawa menari di antara bayang cemara dan suara camar
Sementara para ibu menjemur hasil laut di hamparan karung goni
Serta doa-doa dilayarkan lewat mata yang bersinar penuh harap,
Kepada laut yang tak pernah menolak pulang
Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat
Engkau bukan hanya nama di dalam ukiran peta
Engkau adalah puisi panjang yang ditulis alam dengan penuh cinta
Dalam setiap karang, pasir, dan ombak yang setia
Terpatri sejarah, adat, dan jiwa Minang yang tak pernah reda
Wahai Ranah Minang, Sumatera Barat
Pun engkau bukan sekadar tanah dan udara
Tetapi napas jiwa, lukisan hangat yang hidup dalam setiap nadi anak rimba
Pesonamu abadi, tanah leluhur takkan terlupa
Di setiap sudut surgawi, indahnya sepanjang masa
Oh, Ranah Minang, engkau bak puisi tak bertepi
Sajak-sajakmu ditulis rapi di atas batu dan hati
Selamanya engkau harum dalam sanubari