Viral Isu Feodalisme, Mahasiswa IAT Gelar Diskusi Cari Solusi Konkret

Sumber: Dokumentasi Narasumber

Suarakampus.com– Isu feodalisme di lingkungan pondok pesantren yang ramai diperbincangkan di media menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Menanggapi hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “Feodalisme di Pondok Pesantren: Realita atau Gimmick Media?” itu digelar di Auditorium Mini Fusha, Jumat (7/11), dengan tujuan mengurai kompleksitas isu dan mencari solusi.

Ketua Umum HMP IAT, Solehuddin Lubis menegaskan, diskusi ini merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar civitas akademika dalam merespon isu viral. “Kita tidak boleh tinggal diam. Sebagai mahasiswa, kita harus turut serta mencari solusi yang konkret, tidak sekadar menjadi penonton,” ujar Solehuddin kepada para peserta.

Forum yang dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari empat angkatan (BP 22, 23, 24, dan 25) ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan III Fusha, Subhan Ajrin Sudirman menandakan dukungan penuh pihak fakultas terhadap ruang dialektika akademik ini.

Dari diskusi yang berlangsung intens tersebut, muncul sebuah titik terang, Solehuddin dalam pemaparannya, menyimpulkan bahwa kunci penyelesaiannya terletak pada keseimbangan. “Kami melihat perlu adanya keseimbangan yang sinergis antara penanaman adab dan pengembangan akal pikiran kritis. Keduanya bukanlah hal yang bertentangan,” jelasnya.

Ia berharap rumusan dari diskusi ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat. “Harapannya, output dari diskusi ini tidak hanya berhenti di ruangan ini, tetapi bisa menjadi masukan dan panduan, baik dalam interaksi sosial langsung maupun di ruang digital,” tambah Solehuddin.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Hikmal Fadhil Zikri, di sela-sela acara menyebutkan, motivasi utama kegiatan ini adalah membangun budaya kritis di kalangan mahasiswa. “Kami ingin menumbuhkan ruang dialektika agar mahasiswa terlatih menanggapi isu-isu sosial-keagamaan dengan analisis yang mendalam, bukan sekadar reaktif,” tuturnya.

Hikmal mengonfirmasi bahwa pemberitaan Trans 7 mengenai feodalisme di pesantren menjadi pemicu langsung diangkatnya tema ini. “Pemberitaan itu viral dan menimbulkan pro-kontra. Daripada sekadar memperdebatkannya, kami memilih untuk mengkajinya secara akademis untuk menemukan esensi persoalan,” bebernya.

Ke depan, HMP IAT berkomitmen untuk melanjutkan geliat diskusi semacam ini. “Kami berencana menjadikan forum semacam ini sebagai agenda rutin. Tujuannya jelas, membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga peka terhadap lingkungan sosialnya,” Tutup Hikmal. (ver)

Wartawan: Chantika Aulia Riandri (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Diklatsar LPM Suara Kampus 2025: Wadah Lahirnya Regenerasi Jurnalis Muda yang Kreatif

Next Post

Segenggam Kenangan dalam 25 Tiang Masjid Raya Gantiang

Related Posts