oleh : Ratih, Dinda Vrani Destria, Juita dan Yasyifa
Menjulang dengan 25 tiang besar, terletak ditengah Kota Padang, Masjid Raya Gantiang tampak kokoh berdiri. Bangunan bercat biru itu bukan hanya sekedar tempat ibadah. Ia merupakan saksi bisu perang Paderi, tempat singgah Bung Karno sekaligus pusat denyut religius masyarakat Minangkabau sejak awal abad ke-19.
Bus bergerak membelah jalanan Padang yang tengah membawa enam jurnalis kampus dari Universitas yang berbeda menuju satu tempat yang menyimpan banyak kisah: Masjid Raya Gantiang. Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua di Kota Padang, saksi bisu sejarah panjang Sumatera Barat, sekaligus cagar budaya yang hingga kini tetap menjadi pusat denyut religius masyarakat Minangkabau.
Padang sebagai wilayah yang menjadi Ibu Kota Provinsi Sumatra Barat terkenal kental akan adat dan istiadat, mengarah pada religius memberikan kenangan menakjubkan bagi semua orang terutama bagi pemeluk agama Islam. Agama Islam di Sumatra Barat khususnya di Kota Padang sangat mendominasi seperti data tahun 2023 yang mencatat mayoritas umat Islam di Sumatera Barat mencapai 96,87%. Sehingga banyak tempat-tempat peninggalan sejarah religius seperti Masjid Raya Gantiang yang terletak di Jalan Ganting Nomor 10, Kelurahan Ganting Parak Padang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatra Barat.
Enam jurnalis kampus ini melangkah pasti turun dari bus, menginjakan kaki untuk pertama kalinya ke Masjid Raya Gantiang, bangunan biru yang terlihat kokoh. Muncul pertanyaan bagaimana sejarah dari masjid ini? Kisah apa saja yang sudah dilalui oleh Masjid ini sampai kokoh berdiri sampai saat ini.
Dalam mengetahui fakta sejarah ini maka dilakukan wawancara kepada beberapa pihak yang pastinya berhubungan dengan area masjid. Melalui empat orang narasumber dengan 1 narasumbber utama yaitu; dengan sekretaris kepengurusan Masjid yang telah disebutkan beserta jajarannya (Pengurus administrasi) dan Imam sekaligus Muadzin selama 20 tahun ditempat yang sama yang dilakukan setiap hari saat waktu shalat tiba. Untuk mendapatkan hasil wawancara yang maksimal maka dilakukan juga riset kepada para pengunjung serta pelaku UMKM setempat.
Pada bagian pertama sebagai bangunan tertua dan sudah menjadi bagian sejarah maka sebagai sudah sangat layak tempat tersebut menjadi lebih aman dan nyaman. akhir abad ke 18 dimana penduduk Kota Padang saat itu baru berjumlah 14.000 jiwa yang terdiri dari suku Melayu (Minangkabau) 11.000 jiwa, suku Nias sebanyak 770 jiwa sebagai pekerja pada Belanda, selanjutnya warga Eropah 419 jiwa dan sisanya sebesar 1400 jiwa berasal dari China, India, Arab dan Aceh.
Pada waktu itu hanya ada satu buah Masjid yang dibangun pedagang Arab dan India Muslim yang terletak di Pasar Batipuh (kampung keling). Sementara di Kampung Gantiang baru ada satu buah Mushalla/Surau tempat anak-anak belajar mengaji dan sekaligus sebagai tempat menginap bagi pemuda yang telah menginjak dewasa
Awal pembangunan Masjid Kampung Gantiang ini dimulai tahun 1805 berupa sebuah bangunan surau kayu diatas tanah suku kaum Chaniago, Masjid Kampung Gantiang berlantaikan batu dengan dinding berplasterkan tanah. Ukuran yang dibangun adalah 30 x 30 m. konstruksi atapnya berundak undak/bertingkat mirip atap Masjid dipulau Jawa. Ada 3 tokoh Kampung Gantiang dari suku Chaniago yang merencanakan pembangunan Masjid Raya Gantiang, ketiga tokoh itu adalah:
- Angku Gapuak beliau merupakan seorang saudagar di Pasar Gadang.
- Angku Syech H. Umar beliau merupakan seorang pimpinan kampung.
- Angku Syech Kapalo Koto beliau merupakan seorang Ulama yang cukup berpengaruh.
“Mereka ini tigo tungku sajarangan yang berarti saudagar, pemimpin dan ulama yang berperan dalam perencanaan pembangunan Masjid Raya Gantiang ini,” ungkap Yuzam Marwan, sekretaris pengurus masjid raya Gantiang.
Pada awal pembangunan masjid ini tidak hanya sebagai ruang ibadah tapi juga sebagai markas pada saat terjadinya perang paderi. Tahun 1942, Soekarno saat itu tengah ditahan Belanda di Bengkulu akan diungsikan ke kota Cane atau Aceh, saat rombongan itu akan sampai di Painan, tentara Jepang sampai di Bukittinggi, lalu apa yang terjadi? Belanda mengubah rencana mereka dengan meninggalkan Bung Karno di Masjid Raya Gantiang sampai akhirnya dijemput oleh pihak Belanda dan dibawa ke Painan. Selama beberapa hari di masjid, Bung Karno sempat menyampaikan pidato yang membakar semangat para pejuang di sana. “Masjid ini bukan hanya sekedar bangunan taoi juga saksi sejarah bangsa,”tutur Yuzam,.
Selain memiliki sejarah yang membuat takjub, mata juga dimanjakan oleh bangunan masjid ini, kaki melangkah memasuki masjid yang sudah lama berdiri ini, 25 tiang berukiran kaligrafi menjadi penyanggah masjid, tidak hanya sekedar angka, 25 ini memiliki arti. “25 tiang ini diibaratkan sebagai 25 orang nabi kita, di setiap tiang terukir nama nabi.” Yuzam menjelaskan dengan senyum lebar.
Tiang kokoh tersebut seakan memberikan kesan kuat bahwa 25 ini memiliki makna yang mendalam. Selain tiang, masjid juga memiliki 2 menara dan satu kubah utama dan 8 pintu, bangunan ini memiliki corak arsitektur Eropa, Tiongkok dan Minangkabau. “Lihat ukirannya, nah itu dari minang tetapi kalo lihat atapnya, itu gaya-gaya Tiongkok.”
Siapa sangka masjid yang memiliki 25 tiang ini ternyata sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan Gempa besar tahun 1833 merusak hampir semua struktur bangunan masjid. Pemulihannya membutuhkan waktu 2 tahun dibawah pemerintahan belanda. Pada tahun 2009 masjid juga kembali mengalami kerusakan yang cukup parah akibat gempa bumi, 2 tiang penyangga ditengah patah sehingga menyebabkan jamaah solat di serambi depan masjid selama 5 bulan. “Waktu itu semua renovasinya dibiayai oleh bank mandiri,” tuturnya. Kini, masjid Raya Gantiang bukan hanya sebagai tempat sholat semata tetapi juga menjadi tempat wisata religi karena termasuk ke dalam cagar budaya.
Masjid ini juga memiliki ruang kepengurus yang memiliki lebih dari 700 buku tertata rapi di rak buku, buku-buku tersebut merupakan hasil sumbangan dari masyarakat. Beberapa waktu yang lalu turis dari beberapa negara datang untuk melihat masjid raya Gantiang, “Ada yang islam ada yang non, selain itu banyak juga yang datang membaca buku dan mengerjakan skripsi,” ujar Yuzam.
Jamaah bukan hanya musafir ataupun orang tua yang tidak lain masyarakat sekitar, tetapi pertanyaan muncul saat menyadari sesuatu hal, apakah suatu saat nanti masjid ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah atau hanya akan menjadi cagar budaya yang berubah menjadi kenangan bahwa ini merupakan masjid tertua? “Untuk hari biasa begini keadaannya, ramainya pas hari raya dan maulid nabi,” ungkap Hidayat salah satu pengurus masjid sekaligus imam ashar saat enam jurnalis kampus datang.
Yanti, salah satu makmum saat sholat ashar yang merupakan warga Limau Manis sudah beberapa kali sholat di masjid raya Gantiang, dia menyampaikan bahwa bangunan masjid dan sejarah memberikan keunikan untuk dikenang serta menjadikan ciri khas tersendiri sebagai bangunan tua karena gaya bangunan yang masih dipertahanankan seperti sekarang atau sama sekali tidak berubah. “Untuk menjaga kelestarian, ini peninggalan yang tertua jadi biarkan saja seperti ini.”
Wisatawan yang datang untuk sekedar datang melihat-lihat atau mampir untuk sholat memberikan peluang bisnis untuk beberapa orang, salah satunya adalah dengan adanya bazar yang diadakan enam bulan sekali tentu saja menjadi penghasilan untuk para pedagang. “Harian kadang 400, 450 kadang 300 ribu,” ungkap salah satu penjual. Walaupun demikian,
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pedagang dikarenakan Masjid Raya Gantiang merupakan cagar budaya pedagang yang berjualan di sekitar masjid harus bersedia pindah lokasi jika dalam keadaan tertentu semisal ada acara-acara besar agar tidak mengangggu acara. “Pas acara Wali Kota kami pindah ke belakang, pokoknya tempat-tempat yang sudah kita koordinasi sama panitia.”
Pemerintahan kota Padang juga menggagas program smart surau yaitu program kembali ke surau yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas dan menghidupkan kembali tradisi belajar dan tinggal di surau bagi generasi muda terutama pemuda, diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan pemuda kepada masjid serta kembali menghidupkan tradisi minangkabau yang sudah lama ada.
Yuzam berpesan untuk masyarakat khususnya masyarakat yang ada di sekitar masjid untuk kembali datang ke masjid untuk melaksanakan sholat atau sekedar melihat-lihat. Yuzam juga berharap pemerintah memperhatikan masjid raya Gantiang karena beberapa hal yang mungkin harus mendapat perhatian dari pemerintah, “kami menjalankan masjid ini hanya dari infak atau sumbangan masyarakat,” tutup Yuzam.
Sekretaris kepengurusan Masjid Raya Gantiang menjadi saksi akan peninggalan tempat ibadah bersejarah di tanah Sumatra Barat khususnya di Kota Padang. Pembangunan yang direncanakan bukan hanya demi menjaga keestetikan dan juga bentuk peninggalan sejarah, tetapi juga upaya menarik perhatian para generasi muda untuk datang. Masjid bukan hanya dijadikan tempat ibadah, tetapi juga cagar budaya dan pengumpulan bagi generasi muda guna menjadikan penerus selanjutnya.