Oleh : Verlandi Putra
(Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang)
Aku menatap punggungnya yang membelakangi jendela. Cahaya sore Januari menyelinap masuk, membentuk siluet tubuhnya yang tegak di antara tirai putih yang berkibar lembut. Dia tidak bicara. Sudah sepuluh menit kami berdua diam dalam ruang tamu rumahnya yang sempit ini, dan aku tahu persis apa yang akan dia katakan.
“Aku sudah bilang, kan?” suaranya akhirnya memecah keheningan. Lembut, tapi tegas. “Ini tidak akan kemana-mana.”
Aku menunduk, menatap tangan-tanganku sendiri yang terkepal di pangkuan. Jari-jariku dingin meski udara Januari tidak sedingin itu. “Aku tahu,” bisikku. “Tapi aku pikir… mungkin ada kesempatan.”
Dia berbalik, dan untuk pertama kalinya sore itu, aku melihat wajahnya. Cantik seperti biasa, tapi ada kelelahan di sudut matanya. Kelelahan karena harus menghadapi perasaanku yang sama sekali tidak pernah dia minta.
“Kesempatan untuk apa?” tanyanya. “Aku sudah bertunangan, kamu tahu itu. Pernikahan kami direncanakan untuk bulan depan.”
Tunangan. Pernikahan. Kata-kata itu seperti palu yang memukul dadaku berulang kali. Aku sudah tahu. Sejak awal aku tahu. Tapi hati ini, hati bodoh ini, terus berharap pada sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.
“Aku tidak bisa begitu saja menghilangkan perasaan ini,” kataku, suaraku hampir putus. “Sudah bertahun-tahun. Sejak kita bertemu di stasiun itu, sejak kau meminjamkan payungmu saat hujan. Aku tidak pernah bisa melupakanmu.”
Dia menghela napas panjang, lalu duduk di kursi di seberang kursi tamuku. Jarak di antara kami hanya dua meter, tapi rasanya seperti jurang yang tidak mungkin kuseberangi.
“Dengar,” katanya pelan. “Aku menghargai perasaanmu. Sungguh. Tapi kamu harus mengerti, aku mencintai dia. Kami akan menikah, membangun keluarga, hidup bersama. Dan kamu… kamu harus melanjutkan hidupmu juga.”
Melanjutkan hidup. Seolah-olah itu semudah membalik halaman buku. Seolah-olah aku bisa begitu saja bangun besok pagi dan melupakan semua ini. Melupakan dia.
“Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup kalau setiap kali aku menutup mata, yang aku lihat adalah wajahmu?” tanyaku, frustasi mulai merayap dalam nadaku. “Bagaimana aku bisa bahagia kalau aku tahu kau akan bahagia bersama orang lain?”
“Itu bukan tanggung jawabku,” jawabnya, dan kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang kubayangkan. “Aku tidak pernah memberimu harapan. Aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku.”
Benar. Dia benar. Semua ini salahku. Aku yang membiarkan perasaan ini tumbuh liar, seperti tanaman merambat yang mencekik pohonnya sendiri. Aku yang membangun istana di atas pasir, berharap ombak tidak akan datang menghancurkannya.
“Tapi kau baik padaku,” kataku, terdengar putus asa bahkan di telingaku sendiri. “Kau selalu tersenyum saat bertemu denganku. Kau mendengarkan ceritaku. Kau peduli.”
“Sebagai teman,” dia menegaskan. “Aku memperlakukanmu sebagai teman. Tidak lebih.”
Teman. Kata yang paling menyakitkan di dunia ini. Kata yang menjadi batas tegas antara apa yang kumiliki dan apa yang kuinginkan.
Aku bangkit dari kursi, berjalan ke jendela. Di luar, anak-anak bermain di jalanan. Mereka tertawa, berlari, tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit seperti ini. Aku iri pada mereka.
“Aku akan pergi,” kataku tanpa menoleh. “Meninggalkan kota ini. Mungkin ke timur, atau ke selatan. Aku tidak tahu. Yang pasti, aku tidak bisa tinggal di sini dan melihatmu bahagia dengan orang lain.”
“Kamu tidak perlu melakukan itu,” katanya, dan aku mendengar kekhawatiran dalam suaranya. “Ini kotamu juga. Keluargamu di sini, teman-temanmu—”
“Tidak ada artinya,” potongku. “Semua itu tidak ada artinya kalau aku harus melihatmu setiap hari dan berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.”
Keheningan turun lagi. Panjang. Berat.
“Mungkin lebih baik begini,” kataku akhirnya, suaraku lebih tenang sekarang. Tenang karena kepasrahan, bukan karena kedamaian. “Kau akan kawin, beranak, berbahagia. Seperti yang seharusnya. Dan aku… aku akan mengembara. Mencari tempat di mana perasaan ini tidak lagi menghantuiku.”
“Kamu berbicara seolah-olah kamu dikutuk,” katanya.
Aku tertawa hambar. “Bukankah memang begitu? Dikutuk untuk mencintai seseorang yang tidak akan pernah mencintaiku kembali. Seperti Ahasverus yang dikutuk untuk mengembara selamanya, tidak pernah menemukan rumah.”
“Jangan dramatis,” katanya, tapi tidak ada kejaman dalam nadanya. Hanya kelelahan.
Aku berbalik menghadapnya untuk terakhir kalinya. Matanya menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca. Ada kasihan di sana, mungkin juga rasa bersalah, meski dia tidak seharusnya merasa bersalah. Dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.
“Kau benar,” kataku. “Ini memang dramatis. Tapi begitulah rasanya bagiku. Seperti merangkaki dinding buta, mencari pintu yang tidak pernah ada. Dan sekarang aku mengerti, tidak ada pintu yang akan terbuka untukku.”
“Akan ada seseorang,” katanya lembut. “Suatu hari nanti. Seseorang yang akan mencintaimu seperti kamu mencintaiku sekarang.”
Aku menggeleng. “Mungkin. Tapi bukan sekarang. Dan mungkin tidak pernah dengan cara yang sama.”
Aku berjalan ke pintu, mengambil topi yang kugantung di paku dinding. Tanganku gemetar saat menyentuh gagangnya.
“Jadi ini benar-benar perpisahan?” tanyanya.
“Ini yang terbaik,” jawabku tanpa menoleh. “Untuk kita berdua. Kau tidak akan apa-apa. Kau punya dia, punya masa depan yang cerah. Tapi aku… aku akan terpanggang kalau terus berada di dekat api ini. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanya rangka.”
“Jangan bicara seperti itu,” suaranya bergetar. “Kamu akan baik-baik saja. Kamu kuat.”
“Aku tidak sekuat yang kau kira,” kataku. “Tapi aku akan mencoba.”
Aku membuka pintu. Angin Januari menerpa wajahku, membawa aroma bunga kamboja dari pohon di halaman. Aroma yang akan selalu mengingatkanku padanya, pada sore-sore yang kami habiskan berbincang di bawah pohon itu.
“Selamat untuk pernikahanmu,” kataku, dan aku benar-benar berusaha terdengar tulus. “Semoga kau bahagia. Sungguh.”
“Terima kasih,” bisiknya.
Aku melangkah keluar, menutup pintu pelan di belakangku. Tidak menoleh. Kalau aku menoleh, aku tidak yakin akan punya kekuatan untuk pergi.
Jalan menuju stasiun terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah terasa berat, seperti ada tali tak kasat mata yang menarikku kembali ke rumah itu, ke dia. Tapi aku terus berjalan. Satu kaki di depan kaki lainnya.
Di stasiun, aku membeli tiket untuk kereta pertama yang berangkat, tidak peduli ke mana tujuannya. Timur, barat, utara, selatan—sama saja. Yang penting jauh dari sini.
Aku duduk di bangku peron, menunggu kereta yang masih sepuluh menit lagi. Di sakuku, ada foto kami berdua yang diambil tahun lalu di pesta ulang tahun teman bersama. Dia tersenyum lebar, aku di sampingnya, tersenyum juga tapi dengan mata yang penuh harap.
Harap yang sekarang sudah padam.
Aku mengeluarkan korek api, menyalakan api kecil, dan mendekatkan foto itu. Sudut kertas mulai menghitam, api merambat perlahan.
“Karena kau tidak akan apa-apa,” bisikku pada foto yang terbakar. “Sementara aku terpanggang tinggal rangka.”
Api melahap seluruh foto, dan aku membiarkan abunya beterbangan tertiup angin. Kereta bersiul di kejauhan, mendekat.
Ini bukan akhir, pikirku. Ini hanya awal dari pengembaraan yang panjang. Pengembaraan untuk mencari cara melupakan. Atau setidaknya, cara untuk hidup dengan ingatan ini tanpa hancur.
Kereta berhenti. Pintu terbuka. Aku naik, mencari tempat duduk di dekat jendela. Saat kereta mulai bergerak, aku menatap kota yang kutinggalkan. Di suatu tempat di sana, dia sedang bersiap untuk pernikahannya. Bersiap untuk masa depan yang cerah.
Dan aku, aku hanya seorang pengembara dengan hati yang hangus.
Tapi mungkin, suatu hari nanti, di ujung pengembaraan ini, aku akan menemukan kedamaian. Atau setidaknya, lupa.