Hambar

Ilustrasi menampilkan sosok pria yang tertunduk tak berdaya, tanpa sisa harapan, memilih melangkah mengikuti kenyataan yang ada di depannya. Sumber : Najwalin Syoufura/ Suarakampus.com

Oleh : Putri Wahyuni

(Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam)

Aku membuka pintu yang dulu kututup dengan gemetar,
meyakinkan diri bahwa rindu layak diberi kesempatan.
Kupanggil namamu dengan suara lama,
berharap semesta mengulang caranya mempertemukan kita. Kau datang, tapi langkahmu asing.

Senyummu masih sama, namun tak lagi singgah di dadaku.
Aku menatap wajah yang pernah kuhafal, namun tak menemukan rumah di matamu.
Dulu, aku ingin sekali kau kembali, sampai doa-doaku penuh dengan menyebut namamu.
Kini kau di sini, tepat di hadapanku, tapi rasanya hambar, seperti hujan yang lupa dingin.

Aku mencoba menerima, sungguh.
Kukumpulkan sisa-sisa kenangan untuk menjahit rasa.
Namun setiap sentuhanmu hanya membuktikan satu hal,
kau bukan lagi orang yang pernah kucintai dengan utuh.

Yang kembali hanyalah tubuhmu,
bukan hatimu yang dulu menetap.
Dan aku akhirnya mengerti,
tak semua yang kita tunggu pantas untuk kita miliki kembali.

Aku tak lagi marah, juga tak ingin memaksa.
Kubiarkan pintu itu terbuka sebentar, lalu kututup perlahan.
Bukan karena benci,
tapi karena aku tak bisa mencintai orang asing
dengan kenangan yang terlalu aku kenal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Di Rumah Tanpa Pelukan

Next Post

Kisah Di Balik Tarian

Related Posts