Kisah Di Balik Tarian

Penampilan Randai Grup Pincuran Tujuah dalam Festival TGL 3 di Padang, Selasa (3/6/2025). Sumber Foto : Muhammad Ibrha Nefdrian/ Suarakampus.com

Suarakampus.com– Sepuluh orang anak randai dengan busana silek atau silat berwarna merah dan hitam tampil serempak di atas panggung Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Kota Padang, Selasa (3/6/2025). Mereka mengenakan sarawa atau celana galembong hitam yang dililiti ikat pinggang merah dari kain, berjejer rapi layaknya barisan upacara. Dalam keheningan aula, suara tepukan sarawa dari sang panggoreh menggema keras, menjadi aba-aba dimulainya pertunjukan Randai Grup Pincuran Tujuah dalam Festival TGL 3.

Lampu ruangan perlahan meredup, menyisakan cahaya kuning dari lampu sorot yang tertuju ke tengah panggung. Suasana sunyi seketika berubah khidmat, menandai dimulainya pertunjukan randai. Sebuah kesenian tradisional Minangkabau yang memadukan seni gerak, musik, dan sastra naratif dalam pola lingkaran. Di Minangkabau, randai dikenal sebagai pamenan rang mudo, permainan anak muda yang sarat nilai adat dan filosofi kehidupan.

Sebagaimana pementasan randai pada umumnya, alunan musik saluang dan talempong mengiringi salam pembuka yang dilantunkan melalui syair bersahut-sahutan. Nada naik turun yang syahdu menyambut penikmat seni yang memenuhi ruangan tertutup itu. Anak randai yang sebelumnya berbaris kemudian mulai bergerak membentuk lingkaran, sambil menepuk sarawa galembong mereka mengikuti irama musik. Bunyi “pak, puk, pak” berpadu ritmis dengan langkah kaki para legaran yang perlahan memutari panggung, hingga panggoreh memberi aba-aba berhenti dengan kode khasnya.

Sesaat kemudian, ruangan kembali sunyi. Para pemain sigap baselo atau duduk bersila membentuk lingkaran, menandai dimulainya dialog. Tokoh utama cerita yang sebelumnya ikut menari bersama anak randai tampil gagah memasuki lingkaran, diiringi lantunan syair pembuka kisah.

Anak randai duduk bersila membentuk lingkaran, dengan tokoh utama cerita yang berada ditengah anak randai. Sumber Foto : Muhammad Ibrha Nefdrian/ Suarakampus.com

Pertunjukan randai berjudul Kakian Antah Kamari Bedo, karya Yurmatias, mengisahkan konflik sepasang kekasih yang tidak direstui oleh ayah sang laki-laki, Sutan Pamuncak. Penolakan itu terjadi karena sang ayah menghendaki Sutan Pamuncak menikah dengan keponakannya sendiri. Dalam adat Minangkabau, praktik semacam ini dikenal dengan istilah pulang ka bako.

Usai satu adegan dialog dimainkan, anak randai kembali bangkit dan menepuk sarawa galembong dengan penuh semangat sambil mengelilingi pentas. Suara tepukan yang berpadu dengan teriakan “hap, hep, hop” dari mulut para pemain menggema memekakkan telinga. Gerakan ini terus mengisi sela-sela antara satu dialog dengan dialog berikutnya, menjaga ritme pertunjukan tetap hidup.

Salah satu momen paling haru terjadi ketika Sutan Pamuncak terlibat perdebatan sengit dengan ayahnya yang kukuh menolak pernikahannya. Penonton terdiam, seolah ikut terperangkap dalam konflik batin yang dimainkan para aktor. Tak satu pun melodi musik terdengar. Hanya amarah, kekecewaan, dan kerasnya kepala sang ayah yang memenuhi ruangan.

Dialog demi dialog mengalir, membawa penonton larut dalam kisah drama percintaan khas Minangkabau tersebut. Tawa dan canda pun sesekali pecah berkat sisipan unsur komedi para pelakon, mencairkan ketegangan di Gedung Manti Menuik. Bahkan, beberapa sindiran dilontarkan langsung oleh penonton kepada tokoh ayah yang tak kunjung melunak, menciptakan interaksi spontan ketika tokoh tersebut sesekali menanggapi celetukan penonton.

Penampilan tarian hebob sebagai bagian akhir dari cerita. Sumber Foto : Muhammad Ibrha Nefdrian/Suarakampus.com

Pertunjukan ditutup dengan adegan persetujuan sang ayah terhadap wanita pilihan anaknya. Setelah itu, anak randai menampilkan tarian hebob sebagai penutup. Tepuk tangan meriah dari penonton menandai berakhirnya pertunjukan randai Kakian Antah Kamari Bedo yang berdurasi sekitar 40 menit.

Yurmatias, penulis naskah sekaligus pelatih randai ini, menjelaskan bahwa Kakian Antah Kamari Bedo mengangkat kisah tentang adat pulang ka bako, yakni tradisi pernikahan anak laki-laki dengan keponakan dari pihak ayah. Menurutnya, adat tersebut masih hidup dan dikenal luas di tengah masyarakat Minangkabau hingga saat ini.

“Tradisi pulang ka bako masih ada sampai sekarang. Karena itu, kami mengangkat kisah yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau,” ujar pria yang akrab disapa Oyong oleh anak didiknya.

Lelaki kelahiran 1960 itu juga mengatakan bahwa unsur komedi sengaja diselipkan dalam naskah untuk menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan usia. “Komedi memang saya buat agar randai ini bisa dinikmati oleh semua umur,” tuturnya, sembari menyeka keringat usai memerankan tokoh ayah dalam pertunjukan tersebut.

Sebelum kembali membereskan peralatan sanggar, pria yang juga disapa Gaek oleh anak didiknya itu mengungkapkan, naskah ini ditulis pada 2015 dan telah dipentaskan hampir di seluruh wilayah Sumatra Barat selama satu dekade terakhir. “Ini menjadi kesempatan terakhir naskah ini ditampilkan,” tutupnya.

Wartawan: Muhammad Ibrha Nefdrian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Hambar

Next Post

Hidup Dalam Kenangan

Related Posts