Oleh : Sofia Aulia Purnama
(Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam)
Sejak kecil, Nio tahu satu hal: rumahnya bukan tempat untuk pulang.
Rumah itu berdiri kokoh, dindingnya lengkap, atapnya tak bocor. Namun di dalamnya, tak pernah ada kehangatan. Tak ada pelukan. Tak ada sapaan lembut. Tak ada rasa “kamu aman di sini”.
Nama Nio jarang dipanggil. Jika pun disebut, nada suaranya selalu dingin, seolah kehadirannya hanya beban yang terpaksa diterima. Ia lahir membawa duka. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Sejak hari itu, Nio tak pernah benar-benar diterima sebagai bagian keluarga.
“Apa pun yang buruk terjadi di rumah ini, itu karena dia,” begitu bisikan yang tumbuh tanpa pernah diucapkan terang-terangan, tetapi terasa jelas dalam setiap sikap.
Ayahnya tak pernah memukul, tetapi juga tak pernah memeluk. Tak pernah bertanya bagaimana harinya. Tak pernah menatapnya lama. Nio hidup di dekat ayahnya, tetapi terasa seperti hidup dengan orang asing. Dua kakak laki-lakinya lebih jujur dalam kebencian. Bentakan sudah biasa. Dorongan, cubitan, bahkan pukulan bukan hal baru. Kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi alasan untuk menyakitinya.
Jika Nio menjatuhkan sendok, ia dimarahi.
Jika ia berjalan terlalu pelan, ia disebut menyebalkan.
Jika ia diam, ia dianggap tak berguna.
Tak ada cara yang benar untuk menjadi Nio di rumah itu.
Satu-satunya tempat di mana Nio merasa sedikit berarti adalah saat bersama kakek dan neneknya. Mereka yang membesarkannya ketika keluarga lain terlalu sibuk membencinya.
Nenek sering mengelus rambutnya sambil berkata,
“Kamu anak baik, Nio. Jangan dengarkan kata orang.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Nio bertahan.
Namun kebahagiaan kecil itu pun direnggut. Saat Nio berusia tujuh tahun, kakek dan neneknya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sejak hari itu, Nio benar-benar sendirian meski tinggal di rumah yang penuh orang.
Tak ada lagi yang membelanya.
Tak ada lagi yang memeluknya saat menangis.
Tak ada lagi yang menyebutnya “anak baik”.
Ia mencoba tetap bertahan. Mencari perhatian keluarga dengan membantu pekerjaan rumah, berusaha menjadi anak penurut, berharap suatu hari mereka akan berubah. Tapi yang ia terima justru lebih banyak kemarahan.
Pelan-pelan, Nio belajar satu hal yang menyakitkan: Kadang, sekeras apa pun kamu berusaha, tak semua orang akan memilih untuk mencintaimu.
Saat mulai sekolah, Nio menemukan pelarian. Buku. Tugas. Lomba. Prestasi. Semua itu menjadi tempatnya berlindung. Di sekolah, guru-guru mengenalnya sebagai murid rajin. Teman-temannya menganggapnya baik. Ia sering menang lomba. Membawa pulang piala. Menyimpan sertifikat dengan rapi. Setiap kali pulang membawa prestasi, ada harapan kecil yang tumbuh: mungkin hari ini akan ada pelukan. Mungkin hari ini akan ada senyum bangga.
Namun rumah tetap sama.
Tak ada ucapan selamat.
Tak ada yang bertanya.
Tak ada yang peduli.
Hingga suatu hari, Nio sadar: ia tak bisa terus hidup dari harapan yang tak pernah terjawab.
Malam itu, ia duduk sendirian di kamarnya. Untuk pertama kalinya, ia berhenti berharap pada keluarganya.
“Aku akan tetap berusaha,” bisiknya, “tapi bukan lagi untuk mereka.”
Sejak saat itu, semua yang ia lakukan adalah untuk dirinya sendiri. Ia belajar lebih keras, bukan demi pengakuan, tetapi demi masa depan. Ia menabung mimpi, satu per satu, tentang hari ketika ia bisa pergi.
Dan hari itu akhirnya datang.
Saat SMA, Nio mendapat beasiswa dan kesempatan tinggal jauh dari rumah. Tak ada yang menahannya. Tak ada yang mencegah. Seolah kepergiannya pun tak terlalu berarti bagi siapa pun. Namun bagi Nio, itu adalah langkah terbesar dalam hidupnya. Hidup sendiri tidak mudah. Ia harus kuat, harus mandiri, harus jatuh dan bangun sendirian. Tapi ada satu hal yang berbeda: kini, tak ada lagi bentakan. Tak ada lagi luka baru. Tak ada lagi rasa bersalah karena sekadar menjadi diri sendiri.
Di kamar kecilnya yang sederhana, Nio sering berdiri di depan cermin dan berkata pelan. “Kamu sudah bertahan sejauh ini. Itu cukup.”
Mungkin ia tumbuh tanpa pelukan.
Mungkin ia dibesarkan tanpa kasih sayang.
Tapi dari rumah tanpa pelukan itulah, Nio belajar menjadi seseorang yang tak mudah hancur.