Suarakampus.com– Tanggal 21 Mei 1998 menandai runtuhnya rezim Orde Baru di bawah Soeharto, yang menjadi titik balik sejarah Indonesia. Lebih dari dua dekade berlalu, muncul pertanyaan apakah semangat perjuangan mahasiswa masih hidup atau hanya tersisa sebagai kenangan dalam ruang-ruang akademik saat ini, Kamis (21/05).
Peristiwa 21 Mei 1998 merupakan momentum bersejarah yang lahir dari krisis panjang dan tekanan besar terhadap pemerintahan saat itu. Mahasiswa tampil sebagai kekuatan utama yang mendorong perubahan melalui gerakan kolektif, hingga akhirnya berhasil membuka jalan bagi lahirnya era Reformasi di Indonesia.
Presiden Mahasiswa BEM KM Universitas Andalas, Shabbarin Syakur menilai 21 Mei sebagai momentum yang sangat berharga bagi mahasiswa Indonesia dan menjadi bukti perubahan besar dalam tatanan pemerintahan. “21 Mei menjadi simbol bahwa gerakan kolektif mahasiswa benar-benar berdampak dan mampu menghadirkan manfaat besar,” ujarnya.
Ia mengatakan, semangat reformasi hingga kini masih ada dan mengakar sebagai tanggung jawab moral generasi muda. “Semangat itu masih dipelihara hingga hari ini dan terlihat dari kritik terhadap kualitas pemerintahan,” jelasnya.
Ia juga menyebut isu mahasiswa saat ini berfokus pada kesejahteraan masyarakat dan kondisi ekonomi, meski dihadapkan pada tantangan perbedaan pola pikir. “Mahasiswa harus tetap menjadi pengawas dan pengawal jalannya bangsa,” tegasnya.
Ketua PMII Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Rahmattul Syawal memandang 21 Mei sebagai simbol lahirnya Reformasi sekaligus pengingat peran mahasiswa. “Namun sebagian mahasiswa hari ini hanya melihat Reformasi sebagai materi sejarah,” ungkapnya.
Ia menilai semangat reformasi masih ada, tetapi tidak sekuat generasi 1998 dan cenderung muncul pada momentum tertentu. “Gerakan mahasiswa sekarang lebih sporadis dan tidak semasif dulu,” katanya.
Ia juga menyoroti sikap apatis mahasiswa yang menjadi tantangan utama dalam gerakan. “Banyak mahasiswa kurang peduli dengan keadaan sekitar,” ujarnya.
Formatur sekaligus Ketua Umum HMI Cabang Padang, Maichel Firmansyah menuturkan 21 Mei sebagai momentum kemenangan masyarakat sipil atas kekuasaan otoriter. “Tidak ada kekuasaan yang abadi ketika ada tekanan dari masyarakat,” tuturnya.
Maichel melihat mahasiswa saat ini masih bergerak melalui aksi, namun belum menyentuh persoalan substansial masyarakat. “Mahasiswa masih bergerak, tetapi belum sampai pada persoalan mendasar,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan tantangan terbesar berasal dari sikap individualisme yang melemahkan solidaritas mahasiswa. “Kita mulai kehilangan mahasiswa yang mampu berpikir kritis dan mengorganisir gerakan,” sebutnya. (Fau)
Wartawan: Putri Wahyuni (Mg), Zahra Mustika
Related Posts
Benahi Lembaga Mahasiswa, WR III Turun Langsung Membentuk Sema
Suarakampus.com- Wakil Rektor (WR) III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Imam Bonjol Padang, Welhendri Azwar mengatakan pihaknya segera…
Kue Pinukuik Makanan Tradisonal Minangkabau Cocok untuk Berbuka Puasa
Suarakampus.com- Pinukuik merupakan jajanan legendaris yang banyak dijumpai di Sumatra Barat (Sumbar). Olahan jajanan tradisional tersebut masih eksisi…
5.785 Mahasiswa Angkatan 2020 dan 2021 UIN IB Ikuti TKD
Suarakampus.com- 5.785 Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang Angkatan 2020 dan 2021 laksanakan Ujian Tes Kemampuan Dasar (TKD) yang…