Suarakampus.com- Pelatihan bertema “Pemanfaatan AI dalam Penyusunan Artikel Ilmiah” yang digelar Direktorat Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menghadirkan Muhammad Nur Hudha, dosen UST, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) karena berisiko melemahkan daya pikir dan integritas akademik, Senin (12/01).
Muhammad Nur Hudha menegaskan, AI hanya berperan sebagai teknologi pendukung, bukan pengganti peneliti atau penulis. “Mahasiswa harus tetap menjadi subjek utama yang berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan ilmiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, AI memang dapat membantu dalam aspek teknis penulisan, seperti menyusun kerangka dan memperbaiki kualitas bahasa. “Namun ide penelitian dan substansi keilmuan harus berasal dari pemahaman penulis sendiri,” katanya.
Menurutnya, masih banyak mahasiswa yang menggunakan AI tanpa memahami batasan etika akademik. “Penggunaan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak melanggar prinsip kejujuran ilmiah,” ujarnya.
Hudha juga menyebutkan, AI cukup membantu pada tahap awal penelitian, seperti merangkum literatur dan memetakan topik kajian. “Penulis tetap wajib membaca dan memahami sumber asli secara langsung,” katanya.
Ia juga mengingatkan, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat secara ilmiah. “Validasi data, teori, dan referensi tetap menjadi tanggung jawab penuh penulis,” ujarnya.
Selanjutnya, ia menegaskan AI tidak boleh digunakan untuk manipulasi data atau pemalsuan hasil penelitian. “AI hanya boleh digunakan untuk meningkatkan kejelasan dan keterbacaan bahasa akademik,” katanya.
Ia mendorong mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap setiap hasil yang diberikan AI. “Setiap keluaran AI harus diuji kembali melalui logika dan pengetahuan akademik,” ujarnya.
Hudha menilai ketergantungan berlebihan pada AI dapat menghambat proses belajar mahasiswa. “AI seharusnya mempercepat proses belajar, bukan membuat mahasiswa kehilangan daya pikir,” katanya.
Terakhir, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan integritas ilmiah. “Ketika etika dijaga dengan baik, AI akan menjadi mitra yang bermanfaat, bukan ancaman bagi dunia akademik,”tutupnya. (Fau)
Wartawan : Putri Wahyuni (Mg), Zahra Mustika