Oleh: Daraluka
Pa,
bolehkah aku membencimu…
dengan caraku sendiri?
Bukan dengan amarah,
bukan dengan teriakan yang memekakkan,
tapi mungkin…
dengan diamku
yang tak lagi ingin kau mengerti.
Mungkin dengan tatapan kosongku,
yang sudah terlalu lelah berharap kau membaca isi hatiku
yang penuh tanya,
penuh kecewa,
penuh luka…
yang tak pernah kau lihat,
atau mungkin, tak pernah ingin kau lihat.
Rasanya luka 21 tahun itu masih ternganga, Pa.
Luka yang tak pernah kau jahit,
karena mungkin kau tak pernah merasa bersalah telah melukainya.
Kau hadir,
tapi tak benar-benar ada.
Kau ayah,
tapi tak pernah menjadi rumah.
Aku pernah mencoba memahami,
bahwa mungkin kau pun pernah patah.
Tapi Pa,
aku juga manusia.
Anakmu.
Yang juga ingin dipeluk.
Yang juga ingin didengar.
Yang juga ingin dicintai tanpa syarat.
Dan hari ini,
bukan aku tak ingin memaafkan,
aku hanya sedang menuntut hakku:
hak untuk kecewa,
hak untuk menangis tanpa harus merasa bersalah
karena rindu yang gagal tumbuh.
Jadi, Pa…
jika diamku terasa dingin,
jika tatapanku terasa hampa,
maafkan aku.
Mungkin itu satu-satunya cara aku mencintaimu
tanpa harus terus-menerus kehilangan diriku sendiri