Oleh: Ulan Suci Roma Dona
Akhir tahun 2025 dimulai dengan musim penghujan yang membasahi beberapa wilayah indonesia salah satunya Sumatra. Dari dampak bencana hujan ekstrem, banyak mengakibatkan bencana berantai, dari hujan deras, longsor, banjir, yang mengakibatkan beberapa rumah dan jembatan hancur dan rusak, bahkan beberapa nyawa manusia menjadi korban atas dampak kejadian tersebut.
Bencana-bencana tersebut tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan tekanan Psikologis pada Masyarakat. Menariknya, kondisi ini sebenarnya mencerminkan ketidakseimbangan yang terjadi pada lingkungan itu sendiri. Dalam sudut pandang psikologi lingkungan, kerusakan alam dapat dianalogikan sebagai “Gangguan Mental Ekologis”. Sesuatuyang lain untuk menjelaskan bahwa Alam pun mengalami tekanan akibat ulah Manusia yang tidak bertanggungjawab.
Artikel ini membahas hubungan antara Hujan Ekstrem, “Kesehatan Mental Masyarakat,” dan konsep“ Kesehatan Mental Alam”sebagai bentuk ketidakseimbangan Ekologi. Hal ini yang menekankan bahwa alam sangat butuh perhatian, yang dimana manusia juga buutuh perhatian. Hujan ekstrem dan ketidakseimbangan ekosistem:
Secara ekologi, hujan ekstrem seharusnya dapat diserap oleh tanah dan vegetasi. Namun kenyataannya, banyak wilayah telah kehilangan daya dukung alam akibat: Penebangan Hutan, hilangnya daerah resapan, alih fungsi lahan, betonisasi di daerah permukiman, penyumbatan sungai.
Kerusakan ekologis ini membuat alam berada dalam kondisi tertekan. Dalam kajian Psikologi Lingkungan, kondisi ini sering di analogikan sebagai “Stres Ekologis” situasi ketika sistem alam bekerja diluar batas kemampuannya.
Air yang berlebih tidak dapat ditampung oleh akar pohon, tanah tidak mampu menahan beban, dan sungai tidak lagi memiliki ruang untuk mengalir. Hasilnya adalah“reaksi”alam berupa banjir, luapan sungai, dan longsor.
Konsep“Kesehatan Mental Alam”digunakan sebagai sesuatu yang lain untuk menggambarkan kondisi bahwa ekosistem memiliki keseimbangan itu rusak, respon alam menjadi tidak stabil seperti hal nya manusia yang mengalami tekanan Psikologis.
Jika manusia kehilangan penopang emosionalnya(keluarga, lingkungan, rasaaman), iadm dapat mengalami stres dan berperilaku tidak terkendali. Hal yang sama terjadi pada alam: ketika penopangnya hilang (pohon, tanah yang sehat, air yang bersih), alam menunjukan gejala“Tidak Stabil” melalui bencana.
Dengan kata lain, ketika alam terganggu, responsnya juga tidak stabil, seakan-akan alam sedang mengirim pesan: “Saya kelelahan, saya kewalahan.”Dalam kondisi ini, bencana bukan hanya akibat cuaca, tetapi juga akibat hubungan kitadengan alam tidak lagi sejalan.
Manusia dan alam adalah dua mental yang saling berkaitan, hubungan manusia dan alam sesungguhnya dua arah, saat alam rusak, manusia terdampak secara psikologis. Ketika manusia kehilangan kendali saat memanfaatkan dan terus mengekploitasi, alam semakin kehilangan keseimbangannya.
Dampak hujan ekstrem terhadap kesehatan mental masyarakat, bencana yang muncul akibat Hujan Ekstrem memiliki pengaruh yang sangat berdampak pada kesehatan mental masyarakat.
Beberapa dampak yang sering muncu lantaran lain:
1. Kecemasan dan Ketakutan Berulang
Masyarakat yang tinggal didaerah rawan banjir, kerap mengalami peningkatan kecemasan setiap kali hujan turun. Suara hujan deras atau notifikasi peringatan BMKG dapat memicu rasa panik karena mengingatkan pada bencana sebelumnya.
2. Trauma Psikologi
Korban banjir bandang atau longsor sering menunjukkan gejala trauma seperti sulit tidur, mimpi buruk, teringat kejadian sebelumnya, dan menghindari lingkungan tertentu. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan.
3. Depresi dan Kesedihan
Hilangnya rumah, barang berharga, atau bahkan anggota keluarga dapat memicu depresi. Kesedihan ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga berhubungan dengan kehilangan ruang hidup yang selama ini memberi rasa aman.
4. Stres Sosial dan Ekonomi
Pemulihan pasca bencana, hilangnya pekerjaan, serta biaya perbaikan rumah dapat menimbulkan tekanan sosial dan ekonomi yang berdampak langsung pada kesehatan mental.
Psikologi ekologi melihat hujan ekstrem sebagai gejala ketidak seimbangan yang lebih luas,dimana alam dan manusia “Menangis Bersama” melalui siklus trauma. Menurut Komarudin seorang Psikologi Klinis, menyoroti bahwa lingkungan yang semula baik menjadi lebih buruk seiring waktu akibat hujan ekstrem memperburuk tekanan Psikologis, dengan peningkatan kasus trauma pada pelajar dan masyarakat pasca-banjir, karena hilang nyawa alam” yang menjadi sumber ketenangan.
Perbandingan ini dapat dijelaskan melalui tiga point:
1. Alam sebagai Lingkungan Pemenuh Rasa Aman Ketika Alam berada dalam kondisistabil,manusia merasa aman, ketika alam rusak, tanah mudah longsor, sungai mudah meluap,rasa aman tersebut hilang.
2. Ketergantungan Psikologis Manusia pada Lingkungan
Psikologi Lingkungan menegaskan bahwa manusia secara emosional terikat pada ruang hidupnya, kerusakan alam berarti hilangnya tempat berlindung secara fisik dan psikologis.
3. Bencana sebagai “Luka Psikologis” Dua arah
Manusia melukai alam melalui eksploitasi berlebihan. Lalu alam membalas dengan“Reaksi” berupabm bencana. Dampak nya kembali ke manusia dengan rasa takut, trauma, dan ketidakpastian.
Dengan kata lain, kesehatan mental manusia dan kesehatan ekologi saling mencerminkan satu sama lain. Peran informasi BMKG dan kesiagapan Masyarakat. BMKG memiliki peran penting sebagai penyedia informasi cuaca yang akurat. Informasi yang jelas dapat:
1. Membantu masyarakat mempersiapkan diri
2. Mengurangi kecemasan akibat ketidakpastian meminimalkan risiko korban jiwa.
Namun, pemahaman mengenai lingkungan dan mitigasi bencana juga perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa hujan ekstrem hanyalah pemicu, bukan penyebab utama bencana.
Menurut Glenn Albrect seorang psikologi ekologi, menggambarkan bahwasanya perubahan iklim memiliki dampak dalam terhadap kesehatan mental manusia dan keseimbangan psikologis dengan alam. Psikologi ekologi menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan.
Untuk mengurangi dampak ini, dibutuhkan upaya terpadu: Perbaikan ekosistem, edukasi mitigasi, serta layanan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak. Dengan memulihkan “Kesehatan Mental Alam” Manusia pun dapat kembali hidup dalam lingkungan yang aman, stabil, dan menenangkan.
Hujan esktrem tidak dapat dilihat hanya sebagai peristiwa ilmu yang mempelajari cuaca ada atmosfer bumi. Tetapi ia merupakan hasil hubungan dekat antara perubahan Iklim global, kerusakan ekologi lokal, dan respons psikologis masyarakat.
Ketidakseimbangan ekologis yang dapat di analogikan sebagai“Gangguan Mental Alam” yang berperan besar terhadap munculnya bencana.
Ketika alam kehilangan dirinya, manusia kehilangan rasa aman. Ketika alam mengalami “stres.” Manusia merasakan dampaknya dalam bentuk trauma, kecemasan, dan ketidakpastian. Intinya hasil bencana dari hujan ekstrem adalah cermin perbuatan manusia itu sendiri.