Nurhanifah
(mahasiswi studi agama agama UIN IB)
Tempatmu di sana
begitu nyaman, ya Ayah
hingga kau tak sekali pun
hadir dalam mimpi kecilku.
Putrimu
merindukanmu lebih dalam
dari yang sanggup ia ucap
Hari-harinya berjalan biasa saja
seperti ada ruang kosong
yang tak pernah terisi apa-apa.
Setiap detik ia berharap
kau kembali singgah
meski hanya satu menit
yang ia pinta dengan lirih
Andaikan itu terjadi
akan ia habiskan seluruh waktu
untuk bercerita tentang hidupnya
hidup yang penuh warna
ceria yang menyimpan duka
di sudut-sudutnya
Namun ia tahu
itu hanya angan
yang tak pernah bisa digenggam
Kini satu-satunya cara
meringankan rindu
adalah datang ke rumah ternyamanmu
tempat istirahat terakhirmu
Di sana ia bercerita
suara pecah oleh tangis pelan
membiarkan rindunya mengalir
bersama doa yang tak putus
Begitulah caranya bertahan
caranya mencintaimu dalam diam
meski kau tak kunjung pulang
Pulanglah dalam tenang, Ayah
putrimu merindukanmu
lebih dari apa pun