Batu yang Hampir Punah

(Sumber: Isyana/suarakampus.com)

Oleh: Anisa Fitri Tara

(Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN IB)

Di dalam sebuah hutan rimba, berdiri sebuah perkampungan semut yang tenang. Namun akhir-akhir ini, kampung tersebut sedang mengalami masalah besar. Di kampung itu, hiduplah seorang pemuda semut bernama Athar. Ia dikenal sebagai sosok yang bijaksana, pemberani, dan selalu membela kebenaran. Tak jarang ia menaklukkan musuh-musuh yang mengancam ketentraman kampungnya.

Namun, kampung itu dipimpin oleh seorang raja yang kikir, rakus, dan berhati busuk. Sang raja memerintah dengan kejam dan semena-mena, membuat rakyat hidup dalam ketakutan. Ia sangat tidak menyukai Athar, karena Athar sering menasihatinya dan berani mengkritik kebijakan-kebijakannya yang zalim.

Pada suatu hari, Athar menyerbu masuk ke istana untuk menyampaikan keluhan rakyat secara langsung. Ketika sang raja mengetahui hal itu, ia sangat murka. Ia memerintahkan para prajurit untuk menangkap Athar dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Namun, Athar bukan semut biasa. Dengan kecerdasannya, ia selalu berhasil meloloskan diri dari setiap jebakan dan penjara yang dibuat oleh sang raja. Hal itu membuat raja semakin marah dan frustrasi.

Keesokan harinya, Athar kembali datang ke istana. Kali ini ia tidak datang untuk menyerang, melainkan untuk berbicara. Di hadapan sang raja, ia berkata lantang, “Kita tak akan selalu di atas selamanya. Jabatan hanyalah titipan, bukan kekuasaan abadi.” Kata-katanya menggema di seluruh istana.

Malam harinya, sang raja merenung dalam kesendiriannya. Kata-kata Athar terngiang-ngiang di kepalanya.

“Mungkin Athar benar… Seharusnya aku tidak rakus dan serakah atas semua ini,” ujarnya dalam hati, diliputi penyesalan.

Musim kemarau pun tiba. Biasanya, setiap datang musim kemarau, seluruh rakyat semut berkumpul untuk membantu sang raja menyimpan cadangan makanan. Tapi kini tak ada satu pun yang datang. Sang raja ditinggalkan sendirian, karena rakyat sudah muak dengan keserakahannya.

Kini, sang raja hidup di sebuah gubuk kecil, sebatang kara, ditemani rasa sepi dan penyesalan. Dulu ia memiliki segalanya, tapi karena tamak dan angkuh, semuanya hilang seperti batu yang hampir punah, hilang ditelan waktu.

Waktu terus berlalu, dan nama sang raja perlahan hilang dari ingatan banyak semut. Namun kisah tentang kejatuhannya tetap menjadi pelajaran bagi generasi baru. Mereka diajarkan untuk tidak silau oleh kekuasaan, dan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani, bukan memerintah dengan ketakutan.

Di ujung senja, Athar duduk di bawah pohon besar yang rindang, memandang kampung yang kini damai dan makmur. Ia tidak pernah menginginkan mahkota, hanya ingin melihat rakyat hidup dengan bahagia. Dalam diam, ia tahu—kebaikan mungkin tidak selalu dihargai saat itu juga, tetapi ia akan selalu meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Raket Cadangan dan Rasa yang Tak Terucap

Next Post

Media Sosial, Moral yang Mati, dan Aturan yang Tak Lagi Ditakuti

Related Posts

Ibunda

Oleh: Indah Yulfia (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Gelora rindu inginku sampaiBunda baik-baik saja bukan?Ada cerita hari ini?Rasanya…
Selengkapnya