Raket Cadangan dan Rasa yang Tak Terucap

(Sumber: Isyana/suarakampus.com)

Oleh: Siti Ulami

(Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN IB)

Hanum bukan tipe gadis yang suka jadi pusat perhatian. Ia lebih senang duduk di barisan belakang kelas, menatap keluar jendela dengan pikiran yang tak pernah bisa ditebak. Ia bukan pemalu, hanya hemat bicara. Ketus, kalau belum kenal. Tapi ketika merasa aman, Hanum bisa sangat berisik seolah menumpahkan seluruh isi kepalanya yang selama ini ia simpan sendiri.

Hari itu, Classmeet diadakan dengan riuhnya. Hanum mendaftar lomba badminton, olahraga yang diam-diam ia latih sejak lama. Ia membawa dua raket satu untuknya, satu lagi cadangan. Tak ada alasan khusus, hanya rasa ingin siap menghadapi apapun seperti perasaannya yang sering berlebih, tapi tak tahu harus ditaruh ke mana.

Pertandingan pertama selesai. Hanum menang dengan mudah, tapi terlihat jelas lelah di wajah Hanum. Di sudut lapangan, Haru teman sekelas yang dikenal konyol dan suka bercanda berlebihanmuncul dengan botol minuman di tangan.

“Minum dulu, Han. Katanya ini bisa bikin raket kamu nyanyi,” katanya dengan gaya khasnya.

Hanum menatapnya tajam. “Kamu tahu nggak, kamu tuh sebenarnya pintar banget. Tapi kenapa harus pura-pura bego terus?”

Senyum Haru meredup. “Aku cuma pengen orang nyaman, Han.”

Hanum mendesah. “Aku capek. Tapi bukan karena main. Capek lihat kamu sembunyi terus.”

Ia pergi, meninggalkan Haru yang masih berdiri diam, memegang botol yang tak sempat diminum.

Beberapa hari sebelum Classmeet, Hanum pernah melihat Haru bekerja di sebuah kedai kopi kecil, tak jauh dari sekolah. Ia tak menyangka Haru yang selalu terlihat ceria itu, diam-diam menghabiskan sore dengan bekerja. Sejak itu, ia mulai memperhatikan hal-hal yang dulu luput dari mata yaitu Haru yang sering mengantuk di kelas, tapi tak pernah mengeluh; Haru yang jarang pulang bareng teman-temannya; Haru yang… tampaknya menyembunyikan banyak hal.

Suatu hari hujan turun saat pulang sekolah. Hanum berteduh di halte depan, dan Haru tiba-tiba duduk di sebelahnya, basah kuyup, tapi masih dengan senyum tipis.

“Aku tinggal sama nenek dan ibu,” katanya tiba-tiba.

Hanum menoleh.

“Ibuku beda. Dulu aku nggak ngerti. Sekarang aku paham. Karena itu aku harus jaga dia baik-baik.”

Hanum tak bertanya lebih jauh. Tapi malam itu, ia mencari tahu sendiri. Dengan keberaniannya yang jarang muncul, ia mengirim pesan pada teman Haru yang juga tetangga dekatnya. Dari situ, Hanum tahu: ibu Haru sedang sakit. Sudah lama. Dan Haru tak pernah benar-benar bercerita ke siapa pun, karena tak ingin dikasihani.

Hanum terdiam lama. Kalimat Haru siang tadi berputar-putar di kepalanya.

“Ibuku beda…”
Bukan karena sifatnya, tapi karena kondisinya. Dan itu, akhirnya membuat Hanum memahami kenapa Haru selalu menutup diri dengan lelucon.

Hari final Classmeet. Hanum kembali menang. Tapi hari itu Hanum tak bersorak untuk siapa-siapa. Tidak untuk dirinya sendiri. Ia hanya diam. Tapi diam yang tenang, bukan yang murung.

Setelah pertandingan, ia melangkah ke taman belakang sekolah. Di sana, Haru duduk sendirian, tanpa lelucon, tanpa topeng. Hanya dua botol minuman dan sebuah buku catatan yang terbuka setengah.

Hanum mendekat dan duduk di sampingnya.

“Ibumu gimana, Har?” tanyanya pelan.

Haru menoleh, sedikit terkejut, lalu menunduk.

“Kok kamu tau?, masih sama. Tapi… aku lagi nabung buat pengobatannya.”

Hanum menatapnya. “iya aku tak sengaja dengar kamu menelepon ibu waktu itu, semangat terus ya. Semoga ibu kamu cepat sembuh.”

Haru mengangguk, pelan. “Makasih.”

Hanum mengeluarkan raket cadangannya dari tas dan menyerahkannya pada Haru.

“Simpan ini. Biar kamu ingat, kita semua punya bagian dari diri kita yang nggak selalu kelihatan. Tapi itu bukan berarti harus disembunyikan terus.”

Haru menerimanya. Tak ada janji, tak ada adegan manis berlebihan. Hanya isyarat kecil, bahwa dua orang yang selama ini saling menjauh, akhirnya tahu bagaimana cara saling mendekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Rindu yang Tak Terpindai

Next Post

Batu yang Hampir Punah

Related Posts