Cerita di Balik Buka Bersama

Buka bersama lintas angkatan Pegiat LPM Suara Kampus (Foto: Wildan/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Persaudaraan harus terus dipupuk agar terjalinnya hubungan yang harmonis. Puasa merupakan momen memperbaiki diri dan merekatkan silaturahmi. Walaupun Ramadan kali ini begitu berbeda dengan Ramadan sebelumnya, namun tetap saja mempunyai momen yang istimewa.

Akibat dari Covid-19, Ramadan tahun lalu tidak bisa dinikmati dengan rasa suka cita. Segala aktivitas dan agenda Ramadan pada umumnya ditiadakan dan harus berdiam diri di rumah. Tidak ada lagi salat tarawih berjemaah, ngabuburit ataupun buka puasa bersama. Namun Ramadan tahun ini keadaan sudah mulai pulih walaupun belum kembali normal. Maka untuk menutupi kekurangan ramadan sebelumnya, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus UIN Imam Bonjol Padang mengadakan acara buka puasa bersama.

Acara buka puasa bersama ini dilaksanakan pada jumat (24/04) yang dihadiri oleh segenap alumni dan pengurus LPM Suara kampus beserta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lingkup UIN IB. Kegiatan ini dilaksanakan secara sederhana, mulai dari menu buka puasa sampai momen diskusi yang kurang kondusif akibat telah masuknya waktu pelaksanaan salat tarawih berjemaah.

Dalam sambutannya, Abdullah Khusairi mengatakan pengiat Suara Kampus harus mempunyai kualitas yang unggul dibandingkan mahasiswa UIN IB lainnya. “Cintailah kata-kata dan bacalah sastra karena setiap kata punya pesona yang berbeda,” katanya.

Idealnya setiap manusia itu mempunyai 75 persen angka kesuksesan, baik itu kesuksesan akademis, spiritual, finansial, relasi dan romantika. “Terlalu egois jika kita menginginkan kesuksesan 100 persen, maka dari itu cukup 75 persen saja,” ucapnya.

Senada dengan itu, pembina Suara Kampus, Muhammad Taufik menuturkan bahwa Suara Kampus tidak hanya tempat untuk mengolah kata-kata ataupun sebuah berita, tapi Suara Kampus mencakup proses mengelola organisasi. “Suara Kampus harus mempunyai menajemen organisasi yang baik,” tuturnya.

Taufik menilai Suara Kampus mempunyai mimpi yang harus dimaksimalkan dengan target lima tahun ke depan harus jelas dan tertata dengan rapi, serta menghindari program kerja yang terus berulang setiap pergantian pemimpin. “Jangan setiap ganti kepengurusan, harus ulang lagi dari nol,” ungkapnya.

Suara Kampus bisa mencari dan mengelola uang dengan baik, sehingga jatah dari kampus tidak perlu dipikirkan lagi sebab sudah pandai mencari uang sendiri. Ia menilai cetak memang prinsip dari berbagai media tak terkecuali Suara Kampus namun mengingat perkembangan zaman, Suara Kampus harus mengoptimalkan media online. “Kita harus update dengan perkembangan, sehingga fokuskan arah pemberitaan ke media online,” jelasnya.

Ia berpesan siapapun yang masuk Suara Kampus jangan pernah lupakan bahwa menulis adalah suatu kewajiban, tidak peduli mau apapun jabatannya. Karena dengan menulis seseorang bisa mengukur kemajuan dirinya sendiri.

Selanjutnya, setelah azan isya berkumandang acara dilanjutkan dengan acara diskusi organisasi dan kepenulisan. Bagaimana setiap anggota mampu bertahan dan tidak hilang di tengah jalan. Maka resolusi dari Abdullah Khusairi, Suara Kampus harus mampu memberikan apa yang diinginkan anggotanya, sehingga setiap pengurus harus memiliki basic seorang leader agar anggota magang memiliki panutan dan itu yang membuatnya betah ada di Suara Kampus.

Kemudian Muhammad Natsir juga menekankan bahwa Suara Kampus bukan tempat orang-orang yang sudah pandai, namun kumpulan orang-orang yang ingin pandai. Di Suara Kampus tempat mengembangkan potensi dan memberikan manfaat pada diri sendiri dan organisasi.

Katanya, semua kembali pada cita-cita awal ketika masuk di Suara Kampus, maka dari itu sangat penting data kepengurusan dan manajemen organisasi. Untuk itu pengurus harus menjelaskan setiap pekerjaan anggota magang agar tertata dan menekankan mereka harus menulis untuk mengasah kemampuan. Hal tersebut, juga berlaku dengan pengurus dan pengurus lah yang membimbing anggota magang. “Jadikan anak magang beberapa kelompok, kemudian dipandu oleh pengurus untuk dikoreksi,” tambahnya.

Paparnya, setiap orang memiliki keahlian yang berbeda-beda, ada yang sudah belajar menulis tapi tidak bisa-bisa setelah diamati ia lebih mampu membuat video dan lainnya. “Siapapun punya keahlian yang harus dikembangkan,” ucapnya.

Natsir mengingatkan untuk mempertahankan anak magang bukanlah hal yang mudah, namun kehadiran pengurus yang bermutu itulah yang membuat bertahan. Pengurus yang bisa memilah-milah dan bergaul dengan sesama itulah hal yang butuhkan untuk mendekatkan antar anggota Suara Kampus. “Berbaur lah dengan anggota magang senyaman mungkin,” pesannya.

Penulis: Firga Ries Afdalia

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

WR III Resmi Sahkan UKM PPD, Begini Respon Emperan UIN IB

Next Post

Pendaftaran Ditutup, Panitia Pilrek Terima Dua Nama Kandidat

Related Posts
Total
0
Share