Kala Secarik Surat Berbicara

Ilustrasi: Menulis di atas kertas, sumber: portalsatu.com

Oleh: Muhammad Ridho
(Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Pada suatu ketika, terlihat seorang anak muda yang tengah duduk di pojok belakang rumahnya dengan ditemani secangkir kopi dan sebuah buku catatan kecil yang berada di tangan. Wajahnya kelihatan murung, entah sebab apa yang sedang hinggap pada dirinya..? entahlah, mungkin hanya dia seorang lah yang tau.

Yaa, memang benar beberapa hari belakangan ini wajah anak muda tersebut kelihatan murung dan acap kali dia suka bermenung, mungkin ia sedang mengalami berbagai kejadian yang tengah mengguncang jiwanya.

Selang berapa lama ia tampak berpanjang angan-angan, dan kini dia telah memutuskan untuk menyudahinya perenungannya, sekarang dia kelihatan sedang menulis sesuatu pada catatan kecilnya tersebut, dan kiranya tulisan itu berisi tentang sebuah surat. Yaah.. memang sebuah surat.

Beginilah isi suratnya..

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kata orang tulisan bisa pula mewakilkan.

Saya tak tau mau memulai tulisan ini dari mana, saya tak tau pula apa hal yang membuat saya berkeinginan untuk membuat tulisan ini. Tapi satu hal yang saya tau dan yakini, tulisan merupakan maksud yang tak dapat terucap, tempat pelampiasan hati dan tempat-tempat segala ganjal dan sisa-sisa pengharapan.

Moga-moga tulisan saya ini sampai kedalam pemahaman puan, dan sebelumnya saya meminta kesudian puan, untuk saya tidak lagi memanggil seperti mana biasanya. Mungkin ini salah satu bentuk rasa hormat saya kepada puan.

Langsung saja..

Selama ini saya tak enak hati memendam ganjal yang masih terpaut akan diri saya dan puan, saya tak tau sebab mengapa.? Awal mula saya sedari dulu berkeinginan menutup rapat-rapat, ruang yang tadinya menganga. Saya tak suka sama sekali dengan hal perasaan, saya berusaha apatis, agar saya tak terjerembab dalam penyakit cinta ini.

Tapi saya tak tau lagi bisa berbuat apa, yang namanya pohon jika diterpa angin terus menerus maka akan goyah jua. Sudah banyak halang rintang yang saya lalui. Begitu susah saya setiap ada perempuan yang mengancam ketenangan saya. Sehingga saya menjadi orang bodoh dan kerap kali tampil bertopeng. Saya tak menafikan puan juga telah tarik saya kedalam penyakit cinta ini kembali.

Saya tau dengan diri saya ini, taklah mungkin mudah menyatu antara air dan minyak, saya menyadari itu, saya juga telah mengukur badan dengan bayang-bayang. Saya liat apalah diri saya ini, yang berlumur akan dosa dan kesalahan, akan dapat mencintai perempuan yang cantik akhlaknya.

Jujur saja saya nilai puan tampak biasa saja, tidak seelok rupa perempuan di luaran sana. Yang bisa dihias dengan mudah.  Akan tetapi bagi diri saya ada suatu ketertarikan terhadap puan, karena hiasan hati akhlak mulia yang puan miliki dan tidak semua orang mudah miliki itu.

Tak pelik buat saya akan keunggulan puan, bukankah seburuk-buruknya lelaki. Kesudahannya akan memilih perempuan baik-baik jua. Begitu realita puan.

Saya sebagai insan yang pernah berkenalan dengan puan dan saya yang terjebak kembali akan penyakit cinta ini. Sungguh buat hati saya risau hari ke hari. Bukankah penyakit cinta itu was-was, takut, terkadang loba.

Maka saya tak dapat menahan begitu lama. Dulu sempat-sempatnya saja saya memberikan bunga kepada puan, dulu saya mempunyai banyak akal  dan sampai sekarang saya malu dan menyesal akan perbuatan itu. Saya tidak mau membuat seorang insan bertanya-tanya tentang hatinya dan berasa terganggu akan hadir diri saya ini.

Saya tak sampai hati berbuat seperti itu. Saya tau perasaan wanita itu lembut, makanya saya coba membujuk puan yang merajuk dan marah mungkin juga akan tingkah saya yang buruk ini. Saya tak sepenuhnya berharap akan kepada puan, bukankah terlalu berharap kepada manusia maka bisa jadi pada akhirnya bisa kecewa. Oleh karena itu saya tidak sampai benar berharap akan puan balas tulisan saya. Tapi kalaulah puan balas alangkah gembira hati saya ini.

Yang terpenting, saya coba untuk ucapkan sedari awal saya bertemu puan, saya telah coba jauhkan penyakit cinta ini, saya hanya ingin mengatakan ini adalah suara hati saya, bukankah suara hati adalah suara yang jujur dan tak pernah berbohong. Sebagaimana hati saya bergetar ketika melihat puan yang berada di seberang jalan dahulu.

Dan saat ini ini saya tak tau apa gerangan yang sedang terjadi dengan diri ini, apakah saya tengah dilanda hasutan akal pikiran, hawa nafsu, atau suara hati saya. Karena perperangan besar tengah hinggap akan diri saya ini. Perperangan antara nafsu dan akal pikiran saya. Mungkin apa pun itu boleh saja, karena memang ini merupakan penyakit cinta. Cinta palsu atau jujurkah mungkin waktu yang bisa jawab itu semua.

Saya tak ingin memberi harapan kepada puan dan saya juga tau akan perbuatan saya yang tidak baik ini, atau  mungkin begitu mengganjal bagi diri puan. Seharusnya kalau memang cinta itu benar-benar suci ia akan memperjuangkannya kelak, sesuai dengan koridor yang telah Allah tetapkan. Akan tetapi satu saja yang saya pahami. Cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah cinta yang tiada pengharapan. Begitu kata para pujangga puan.

Saya tak menuntut belas kasihan cinta dari puan, bagi diri saya telah mengungkapkan saja isi hati saya melewati tulisan ini sudah cukup, tulisan yang ditulis bukan dengan dawat ini, akan tetapi ditulis dengan jiwa yang tulus dan ikhlas.

Walaupun nanti dapat saja puan sangka. Mungkin karena saya pandai menulis saja saya dapat berkata seperti ini. Memang benar saya pandai menulis puan, tapi yakinlah saya menulis dengan kejujuran, setengahnya saya pakai hati, lalu setengahnya lagi saya pakai akal pikiran saya. Agar sama seimbang dan saya tetap dalam keadaan waras pula.

Terkadang saya juga berpikir dengan diri puan, apakah puan juga pernah menaruh hati akan diri saya ini. Tapi saya tepis yang demikian itu, mungkin hanya diri saya sajalah yang terlalu berharap serta optimis. Tapi tak apalah dengan puan tau saja bagaimana isi hati saya yang sebenarnya, saya sudah senang.

Terakhir mungkin itu bentuk curhatan hati saya, saya tak ingin melanggar aturan agama dan juga tidak ingin memberi pengharapan kepada seorang yang telah pernah saya sukai. Saya yakin, kalau memang benar dua hati insan yang saling terpaut, maka Tuhan akan memberi jalannya kalu memang cinta itu suci dan sebenar-benarnya cinta, moga-moga Tuhan meridhoi-Nya.

Dan saya ingin puan anggap saja tulisan saya ini sebagai angin yang lalu, mungkin akan terasa sedikit di permukaan badan. Dan tidak mesti puan risaukan dan menjadi beban pikiran puan. Saya telah menyampaikan segala bentuk pertanyaan-pertanyaan dalam jiwa saya dan telah saya coba untuk mengalamatkannya.

Saya tak mau mati dalam kebimbangan dan bertanya-tanya. Dan sekarang emosional saya telah saya lepaskan. Sebagaimana seperti gunung berapi yang memuntahkan isi perutnya. Dan saya merasa lega akan keadaan ini, saya tak perlu lagi memakai topeng dan seolah tidak pernah peduli mempunyai rasa terhadap diri puan.

Mungkin bisa saja puan beranggapan terlalu dini bagi diri puan untuk mempersoalkan urusan ini. Akan tetapi tidak untuk bagi diri saya puan. Atau bahkan diri saya lah yang terlalu berpanjang angan-angan. Yang harus puan tau, bagaimana isi dari surat ini tak ada bedanya dengan apa-apa yang saya rasakan dengan saat ini.

Lagi pula saya juga tak tau kapan waktu pulang saya. Dan saya juga tak tau dengan siapa nantinya berkesudahan. Semua di luar kendali makhluk yang lemah. Apalah daya saya, hanya hamba Allah yang acap kali salah dan jauh dari kata benar.

Kalulah ada rasa jengkel akan tulisan saya ini, tolonglah puan sampaikan kepada diri saya ini, agaknya saja saya juga akan berpikir. Mungkin saya tidak akan muncul lagi dan mesti undur diri dari kehidupan puan, serta tidak merusak akan ketenangan hidup puan

Sampaikanlah puan, walau itu sepatah kata. Saya akan menerima dengan senang hati apa pun yang akan puan utarakan nantinya. Sekiranya juga puan jaga tulisan saya ini, saya yakin puan bisa menjaganya dengan baik, saya beri amanah puan dan harap puan bisa merahasiakan tulisan ini dari insan lain, cukuplah puan sendiri yang tahu dan terpasti juga Allah lah yang mengetahui tulisan saya ini.

Karena saya juga nilai ini merupakan salah satu aib bagi diri saya, puan. Dan termasuk lemah saya pun juga. Mudah-mudahan puan membaca dan memahami akan secarik tulisan saya ini…

Selesai

Selepas ia telah menorehkan segala curhatan hatinya ke dalam tulisan tersebut, dia merasakan kelegaan yang teramat tenang dan sekarang dia tak merasakan lagi adanya sekat-sekat yang masih tersisa pada dirinya, namun ketika ia ingin menutup buku catatan kecil tersebut. Dia teringat lagi dengan isi surat yang telah ia buat.

“Apakah surat saya ini dapat boleh diterima oleh puan tersebut dengan senang hati ataukah, ia pada akhirnya akan merasa benci dengan diri saya,” tuturnya dalam hati.

“Ataukah saya akan buat pula sebuah puisi untuk puan tersebut..?  Ahhh sudahlah, besok saja. Kalau diriku masih bisa memperoleh kesempatanku untuk kedua kalinya. Lagi pula, sekarang diri saya pun agaknya sudah cukup tenang juga,” ujarnya.

Lalu pemuda itu merenung sejenak untuk memikirkan bagaimana cara menyalurkan surat tersebut. Renungan pemuda tersebut berujung ketika hari mulai beranjak malam, dan memaksa ia untuk masuk ke dalam rumah untuk melakukan aktivitas lainnya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Berikut 10 Negara yang Sudah Bisa Akses Jaringan 5G, Indonesia Menyusul Tahun Ini

Next Post

Pandemi Covid-19, UIN IB Tingkatkan Kualitas Mahasiswa dan Dosen

Related Posts

Rumput Tetangga

Oleh: Firga Ries Afdalia Tut..tut..tut… Nada sambung itu berbunyi sekaligus mengakhiri percakapan. Kebiasaan kaum rebahan menghabiskan akhir pekan…
Selengkapnya