Keunikan Masjid Raya Bingkudu

(sumber: Ulya/suarakampus.com)

Kabupaten Agam sangat terkenal dengan wisata cagar budaya. Selain itu, banyak syekh dan ulama masyhur berasal dari Kabupaten Agam. Salah satu ulama terkenal dari Agam adalah Abdul Karim Amrullah atau yang sering dikenal dengan sebutan Buya Hamka.

Di jorong Bingkudu, Kanagarian Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, terdapat bangunan masjid tua yang umurnya telah lebih dari dua abad. Mesjid ini bernama Masjid Raya Bingkudu atau yang sering dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Surau Gadang. Masjid ini merupakan tempat wisata spiritual satu-satunya yang ada di jorong Bingkudu. Selain itu masjid ini juga mempunyai satu menara yang terdapat di depan pintu masuk utama. 

Masjid Raya Bingkudu merupakan salah satu mesjid tertua di Indonesia, karena telah ada sejak zaman penjajahan belanda. Mesjid ini memiliki ukuran sekitar 21 × 21 meter. Selain untuk tempat beribadah, mesjid ini juga digunakan sebagai tempat perundingan para ulama dan pejuang untuk mengatur strategi menghadapi tentara Belanda pada saat itu.

Tidak hanya sebagai tempat wisata untuk menikmati cagar budaya, masjid ini juga digunakan sebagai tempat beribadah dan belajar bagi santri dari pondok pesantren Miftahul ‘Ulumi Syari’ah (MUS) Canduang. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat ngaji tafsir Quran setiap Kamis.

Banyak hal yang membuat Masjid Raya Bingkudu unik dan berbeda dari mesjid lainnya. Salah satunya ada pada saat proses pembangunan masjid, semua warga bergotong royong dalam proses penegakannya.

Kepala Jorong Bingkudu, Andi Kurniawan membenarkan hal tersebut, katanya ketika proses pembangunan warga setempat mencari kayu untuk tiang besar yang berada di tengah ruang (Tiang Macu), kayu tersebut berasal dari Kanagarian Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar. Tiang itu dibawa dengan cara digotong secara bersama-sama oleh masyarakat dari Koto Tinggi menuju Mesjid Bingkudu.

“Jalur pengangkut tiang inilah yang menjadi pembuka jalan antara Batusangkar dengan Baso,” katanya.

Menurut cerita masyarakat setempat, masjid ini didirikan pada tahun 1823 Masehi oleh kaum Padri pada saat berkecamuknya perang Padri. Berdirinya mesjid ini di prakarsai oleh Lareh Canduang atau yang sering dikenal dengan sebutan Inyiak Basa Haji Salam. Mesjid ini juga di pelopori oleh tujuh nagari, yaitu Nagari Canduang, Koto Laweh, Lasi Mudo, Pasaneh, Bukik, Batabuah, dan Lasi Tuo.

Husni, salah seorang warga membenarkan cerita tersebut, ia menjelaskan bahwa bangunan masjid ini sangatlah unik.

“Bangunan Masjid ini keseluruhannya terbuat dari kayu dan dulunya atap mesjid itu terbuat dari ijuk,” tambahnya. 

Bangunan utama Masjid Bingkudu menghadap ke arah barat, dengan pintu masuk utama terletak di sebelah timur. Lantai masjid terbuat dari papan kayu surian yang disusun rata membujur dari arah barat ke timur. Arsitektur atap masjid ini juga unik, bertumpang tiga yang memiliki filosopi konsep kepemimpinan di Minangkabau, yakni Tigo Tungku Sajarangan terdiri dari, Niniak Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai. 

Bangunannya juga dibuat tanpa paku, hanya dilekatkan dengan pasak. Masjid ini memiliki 53 tiang untuk menopang bangunan agar tidak roboh. Di dalam ruang utama masjid, di tengah-tengah ruangnya terdapat 25 buah tiang yang terbuat dari beton berbentuk segi dua belas dan berdiameter 1,25 meter. Sekeliling tiang utama terdapat 24 tiang kayu berbentuk segi enam belas yang berdiameter antara 20-45 cm.

Keindahan ukiran-ukiran motif khas Canduang terdapat di beberapa sisi masjid ini. Pada bagian atas pilar terdapat motif seperti daun paku, sekarang dikenal sebagai paku kadaka. Lalu, ada lekuk-lekuk daun bersulur pada bagian langit-langit dan pilar-pilar masjid yang bewarna biru muda.

Selain itu, pada mihrab terdapat tulisan menggunakan huruf Arab dan latin yang menunjukkan angka tahun 1316 H atau 1906 M. Angka ini diduga merupakan angka tahun pembuatan mihrab tersebut.

Selaku pengurus masjid, Arnova mengatakan pada bagian depan ruang utama terdapat mimbar tua yang tahun pembuatannya dapat dirujuk dari tulisan angka 1316 Hijriah atau sekitar tahun 1906 Masehi pada bagian mahkota mimbar. Mimbar berbentuk huruf L tersebut terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan tangga.

 “Tangga naik dan turun dibuat secara terpisah. Tangga naik dibuat menghadap ke depan, sedangkan tangga turun mengarah ke samping,” ungkapnya.

Heru, selaku imam mesjid mengatakan bahwa ia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan memelihara keunikan Masjid Raya Bingkudu. Selain sebagai pemimpin ibadah, imam masjid juga dapat menjadi penggerak utama dalam memelihara keaslian dan keberagaman budaya Islam yang terdapat di masjid tersebut. Dengan memberikan pengajaran dan pemahaman yang mendalam kepada jamaah tentang sejarah, nilai-nilai, dan keunikan Masjid Raya Bingkudu, imam masjid dapat membantu memperkokoh rasa cinta dan kepedulian terhadap warisan budaya dan sejarah Islam di daerah tersebut.

Selain itu, imam masjid juga dapat mengawasi dan memastikan kebersihan, kerapihan, serta pemeliharaan bangunan masjid agar tetap terjaga dengan baik. Melalui perannya sebagai pemimpin spiritual dan sosial di komunitas, imam masjid juga dapat mendorong partisipasi aktif jamaah dalam kegiatan keagamaan, sosial, dan kebudayaan yang diadakan di Masjid Raya Bingkudu. Dengan demikian, peran imam masjid sangat krusial dalam menjaga dan memelihara keunikan serta keberlangsungan Masjid Raya Bingkudu sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan budaya Islam di daerah Bingkudu.

“Dengan selalu mempertahankan keunikan, melestarikan serta meningkatkan kualitas, secara fisik maupun imarah masjid,” ucapnya.

Masjid Raya Bingkudu telah mengadakan berbagai kegiatan dan program yang melibatkan masyarakat desa, seperti kajian agama dan tadarus al-Quran yang diadakan secara rutin untuk memberikan pemahaman agama kepada masyarakat desa. Selain itu, pengajian dan ceramah agama juga sering diadakan untuk memberikan pengetahuan agama kepada masyarakat desa dan memberikan motivasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Program kebersihan lingkungan juga sering diadakan bersama masyarakat desa untuk menjaga kebersihan sekitar masjid. Selain itu, Masjid Raya Bingkudu juga mengadakan kegiatan keagamaan dan budaya, seperti peringatan hari besar Islam, peringatan Maulid Nabi Muhammad, dan acara budaya tradisional yang melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat desa. Melalui berbagai kegiatan ini, Masjid Raya Bingkudu berperan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang memperkuat hubungan antara masjid dengan masyarakat desa serta membangun komunitas yang saling mendukung dan berdaya. (hkm)

Wartawan: Ulya Rahma Yanti (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Cendikiawan Muslim Sebut Sistem Kapitalisme Liberal Oligarki Ancam Masa Depan Negara

Next Post

Advokat Muslim Ungkap Hukum sebagai Alat Legitimasi dan Perlindungan Kepentingan Oligarki

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty