Kritisi Persoalan Oligarki, Belasan Warga Sipil Gelar Aksi Panggung Rakyat

Potret aksi panggung rakyat di depan gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat. (Sumber : Lutfiah/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Sejumlah masa dari koalisi masyarakat sipil Sumatera Barat melakukan aksi panggung rakyat. Kegiatan tersebut Berlangsung di depan kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat kamis, (08/02).

Belasan aksi masa sudah mulai berdatangan sejak 15.38 WIB. Sebagian dari mereka memasang spanduk di pagar kantor DPRD provinsi Sumatera Barat.

Spanduk tersebut bertuliskan deklarasi rakyat yang menggugat “Sumbar melawan oligarki, demokrasi tidak boleh mati”

Mahasiswa Universitas Andalas (Unand), Firdaus dalam orasinya menyerukan, Pemilu tahun 2024 ini harus berintegritas dan menunjung tinggi asas Luber Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil). “Nyatanya pada saat sekarang ini, pemimpin negeri ini tidak mencerminkan sikap integritas,” tuturnya.

Ia mengimbau ketika ada kegelisahan atau kejanggalan yang terjadi jangan ada yang diam saja. “Kita harus lawan, tidak hanya lewat aksi, lawan bisa menggunakan sosial media pribadi,” tegasnya.

Ia menyorakkan bahwa Presiden tidak perlu ikut cawe-cawe dalam pemilu 2024 ini. “Jika ikut campur, tolong ikuti aturan konstitusi negara kita, yakni mundur atau ambil cuti,” katanya.

Ia juga menegaskan, jangan sekali-kali menggunakan fasilitas negara dan ambil andil untuk memenangkan putra mahkotanya menjadi pemimpin. “Ini membuat masyarakat geram, resah, gelisah,” keluhnya.

Terdapat setidaknya 6 isu yang disoroti dalam aksi ini.

Pertama, Negara beserta pengurusnya, para elit politik, juga termasuk orang-orang yang berkonsentrasi dalam pemilu 2024. Masyarakat meminta mereka untuk membodohi rakyat dengan narasi, retorika, dan gimmick yang tidak ada hubungannya dengan cita-cita bangsa yaitu kesejahteraan. Kami tidak percaya para elit politik yang akan berkuasa dikemudian hari akan bersedia membuat kebijakan yang justru akan menghancurkan diri mereka dan kroninya.

Kedua, masyarakat menuntut untuk berhenti melakukan pemerosotan demokrasi, merawat nepotisme dan menerabas konstitusi. Kami tidak rela penindasan terhadap rakyat terus saja dirawat.

Ketiga, berhentilah menstimulus ide-ide proyek pembangunan mengatasnamakan pertumbuhan perekonomian namun menyingkirkan, meminggirkan bahkan menggusur
rakyat dari ruang hidupnya. Ini sama saja dengan membunuh Indonesia dari pinggir dan memperpanjang nafas penderitaan kita.

Keempat, masyarakat memutuskan untuk tidak lagi percaya dan tunduk apabila dikendalikan oleh sistem politik yang hanya menguntungkan para elit saja.

Kelima, Kita akan tetap terus melawan segala bentuk perampasan hak, pembungkaman demokrasi, penerobosan konstitusi, perampasan ruang hidup rakyat oleh negara. Bagi kita, perjuangan untuk hidup yang layak harus dibela. Kita tidak akan diam, kita akan terus melawan.

Terakhir, Kami juga mengajak semuanya. Bersatulah kekuatan rakyat. Lawan dan kalahkan para penindas. Jadilah realistis, tuntutlah yang tidak mungkin.

Sehubungan dengan itu, salah seorang masyarakat, Linda menyatakan apreasiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Dengan adanya aksi tersebut keluhan kita semua dapat di dengarkan oleh pemerintah,” ujarnya.

Ia berharap untuk pemimpin yang terpilih dapat melaksanakan sesuai janjinya. “semoga pemimpin yang akan datang bisa menepati janjinya,” harapnya. (rhm)

Wartawan: Lutfiah Tanjung

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Workshop Watchdoc Festival, Fandy Bagus Bahas Tips Memproduksi Video Dokumenter Menggunakan Smartphone

Next Post

Dia dan Rasa

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty