Pemilik Hati

Ilustrasi by Zulis Marni/suarakampus.com

Oleh: Zulis Marni

(Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)

Hari ini kembali pada 10 tahun yang silam, setelah menatap bangunan yang terlihat masih kokoh dengan tiang-tiang penyangga bangunan itu, serta atapnya yang basah akibat gerimis pagi. Nun menatap jauh kedepan sambil tersenyum melihat beberapa santriwati yang sedang sibuk berlari ke arah lapangan, di sana ada dua orang senior yang telah menunggu mereka, Nun dapat merasakan betapa paniknya jika terlambat untuk berbaris sebelum masuk kelas. Nun dulu pernah menimba ilmu dan mengukir kisah di tempat ini. Pondok pesantren Sinar Darussalam adalah tempat yang dulu sangat tidak diinginkan oleh Nun, ia benci asrama, ia benci kehidupan yang serba diatur dan ia benci senioritas yang sangat kental sekali di pesantren ini, tidak hanya itu Nun juga tidak suka belajar Bahasa Arab.

Nun kala itu pernah merengek kepada Aba nya agar tidak dimasukkan ke pesantren.

“Aba tega liat Nun tersiksa disana?” rengek Nun menatap Aba tidak percaya.

Aba hanya diam tidak menjawab sambil menyeruput kopi hitam yang sudah dihidangkan oleh Ami.

Ami yang merupakan ibu Nun hanya dapat menghela nafas berat bagaimanapun juga ia tak tega melepas Nun kesana, apalagi ia tau bahwa tabiat Nun yang sangat pembangkang dan susah diatur. Ami menatap Nun sendu ia coba mendekati Nun mendekapnya dalam pelukan.

“Ini semua demi kebaikan kamu nak, Aba masukin kamu ke pesantren bukan karena Aba tidak sayang sama Nun, justru sebaliknya.” jelas Ami yang tetap saja tidak bisa diterima oleh Nun.

Bagaimana pula maksudnya itu? Tersiksa demi kebaikan? Itu tidak masuk akal, otak Nun tidak dapat menerimanya.

Aba yang masih duduk sambil membaca koran hanya diam tidak bersuara saat suara rengekan Nun semakin kencang. Ruang tamu saat itu sangat tidak nyaman, keputusan Aba tidak bisa dibantah Nun harus ke pesantren itu minggu depan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu sudah seminggu setelah Nun yang merengek di ruang tamu menolak  untuk ke pesantren. Kini ia sudah berada didepan gerbang pesantren Sinar Darussalam yang memiliki lapangan yang luas, disana Nun dapat melihat santriwati dengan jilbab panjang membalut kepalanya.

Nun diantar oleh Aba hingga pintu gerbang saja, sebelum masuk asrama Aba memeluk putri kecilnya sambil berbisisk menguatkan.

“Tidak perlu cemas dengan sesuatu yang sudah diatur, Aba antar kamu kesini karena Aba sayang sama kamu. Bukan hari ini  tapi nanti beberapa tahun ke depan kamu akan mensyukuri sudah berada di lingkungan yang indah ini, Aba yakin kamu kuat, anak Aba tidak ada yang lemah.” Aba tersenyum meyakinkan Nun yang menatap Aba dengan mata basah.

“Tidak lama kok, Cuma satu tahun kamu di sini” ujar Ami yang berusaha membuat Nun tenang.

Berselang waktu lima belas menit Nun sudah berada di asrama yang tidak begitu luas dengan ranjang bertingkat, Nun ditemani oleh pengurus Asrama untuk menata barang setelah itu mereka pergi berkeliling gedung. Pengurus asrama itu adalah kakak tingkat Nun yang memang ditugaskan menyambut murid pindahan seperti Nun, sejauh ini kakak itu ramah dan tidak seperti kakak tingkat yang ada di dalam pikiran Nun.

Mereka berdua mengelilingi gedung satu persatu, di Pesantren Sinar Darussalam ini ada tiga gedung, yang pertama adalah gedung olahraga santriwati yang terletak tidak jauh dari kantin, gedung kedua adalah asrama dan yang ketiga adalah kelas-kelas tempat mereka belajar. Nun tidak banyak bicara ia hanya mendengar penjelasan dari pengurus asrama itu. Namun tiba-tiba Nun melihat sebuah gedung yang sedikit berjarak dan berpagar yang lumayan tinggi.

“kalo itu masih gedung pesantren ini kak?” Tanya Nun yang menunjuk ke arah seberang jalan.

Pengurus asrama itu menatap gedung yang di tunjuk oleh Nun, ia tersenyum “Itu gedung santri laki-laki, sengaja letaknya agak jauh mungkin biar ga ada yang pacaran atau kirim-kiriman surat tapi itu tidak bisa menjadi penghalang sih karena setiap ada acara-acara besar nanti santri laki-laki dan perempuan itu akan bertemu di gedung utama, letaknya tidak jauh tapi kalo jalan kaki lumayan cape juga.” Jelas pengurus itu yang membuat Nun mengangguk paham.

Lelah seharian mengelilingi pesantren, Nun memilih untuk istirahat dengan teman sekamarnya yang baru saja pulang dari halaqah. Namanya Andin, perempuan dengan wajah cantik dan tutur kata yang lembut menenangkan hati, membuat Nun minder berbicara dengannya. Setelah perkenalan yang agak lama Andin pamitan untuk kembali ke gedung sebelah, seperti biasa mereka belajar seperti sekolah pada umumnya meski jam masuknya sangat berbeda. Di pesantren ini jam masuk sekolah pukul 10.00 WIB nanti pulangnya jam 16.00 WIB setelah itu kembali mengikuti kegiatan yang ada di asrama seperti mengaji, setoran hafalan dan belajar membaca kitab.

Sudah seminggu Nun berada di pondok, banyak sekali yang ia keluhkan mulai dari makanan, teman yang tidak satu frekuensi, bahasa yang digunakan sehari-hari harus bahasa Arab atau Inggris dan sikap senior yang membuatnya muak. Hari ini Nun harus keruangan Ustadzah Humaira yang merupakan guru BK, Nun hanya terlambat bangun tahajud tidak ada dan tentu saja Nun akan dihukum sesuai perjanjian yang telah disepakati.

“Saya tidak akan menghukum kamu kalo ini untuk pertama kalinya, tapi selama seminggu di sini kamu hampir tiap hari telat bangun tahajud dan parahnya tidak sholat!!” Ujar ustadzah yang bertubuh kecil tapi sangat ditakuti oleh seluruh santri di sini.

“Sesuai dengan perjanjian dalam asrama iqob kamu adalah tilawah lima juz sehari selama seminggu, nanti beri laporannya ke pengurus asrama.” Sarkasnya.

Nun hanya mengangguk lemas lalu keluar ruangan itu, jangankan tilawah lima juz sehari sedangkan satu juz kewajiban asrama saja sering ia lewatkan.

Bel sekolah terdengar begitu keras membuat suasana yang sunyi kini menjadi gaduh. Sekarang pukul 10.00 WIB, seperti biasa semua santri akan pergi ke gedung tiga untuk belajar, Nun yang masih berada di gedung satu ikut berlari terbirit-birit. Jarak antara gedung satu dan tiga itu lumayan jauh apalagi kelas Nun yang berada di lantai dua.

Saking kencangnya Nun lari ia tidak dapat mengontrol langkah kakinya, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan cepat dengan arah berlawanan di tikungan jalan koridor, tubuh Nun yang kecil itu jatuh saat menabrak tubuh tinggi tegap yang mengenakan gamis putih tanpa peci. Nun hanya bisa mengaduh kesakitan. Lalu, ia berdiri dan segera pergi, sekilas ia melihat wajah laki-laki itu ia seperti hendak meminta maaf tapi terlambat Nun yang sudah panik karena terlambat dia tidak lagi memedulikannya.

Di kelas Nun betemu Andin dan teman-teman lainnya, ia telat sepuluh menit untung saja Nun tidak dihukum karena tiba-tiba saja ustadzah yang mengajar hari ini tidak masuk kelas dan senior juga tidak begitu memperhatikannya.

“Eh tau ga sih di gedung satu tadi ada kak Azam, anak buya.” Celetuk salah satu diantara mereka.

“Beneran? Mungkin ada acara dalam minggu ini.” Sahut yang lain.

“Siapa din?” Tanya Nun kepada Andin.

Andin menatap Nun sebentar lantas kembali menunduk menatap buku “Anak Buya Hasan, pemilik pondok pesantren ini.” Jawab Andin.

Benar saja setelah mendengar desas-desus dari santriwati minggu lalu, pembina asrama memberitahukan soal acara yang akan diadakan dalam minggu ini, dan seluruh santri di wajibkan untuk ikut. Hari ini adalah hari dimana acara itu akan berlangsung.

Setelah berkumpul di gedung utama, Nun tidak sengaja melihat laki-laki yang ia tabrak beberapa hari lalu. Laki-laki itu tampak sibuk berbicara dengan para ustad-ustad yang ada di depan, sesekali ia tersenyum mendengar ucapan salah satu ustadz di sana. Ia sangat berbeda dari santri yang lain terlihat begitu mencolok.

“Jaga pandangan Nun.” Bisik Andin membuat Nun yang tersadar dari tadi memperhatikan laki-laki itu.

Semenjak saat itu, Nun berharap agar di pesantren ini banyak acara agar ia bisa melihat lelaki itu lagi, ia sepertinya sudah jatuh hati meskipun tidak pernah mengobrol langsung. Nun  mencari tau identitas laki-laki itu ia selalu bertanya kepada Andin yang selalu setia menjawab dengan sepenuh hati.

“Jadi ternyata itu yang namanya Azam.” Ucap Nun.

Pandangan Nun teralih pada buku bacaan Andin. “Din, kamu tidak capek belajar disini? Apalagi liat kamu baca buku-buku itu.” Tanya Nun sambil menunjuk tumpukan buku-buku tebal yang ada di meja milik Andin.

“Belajar ibadah Nun, tidak ada ruginya. Kalo di bilang cape sih udah jelas iya, tapi kalo di sini kita lalai kasian orang tua yang sudah mengeluarkan uang banyak untuk kita bisa sekolah disini.” Ucap Andin sambil tersenyum simpul menatap Nun yang terdiam seribu bahasa.

Benar, Nun sangat lalai bahkan ia sering sekali mendapat hukuman meskipun sudah terbilang lama dia di pondok ini. Tiba-tiba Nun merasa bersalah dengan Aba yang berharap banyak kepadanya.

“Kamu suka kak Azam?” Tanya Andin yang sontak membuat lamunan Nun seketika buyar.

“Enggak lah, aku cuma kepo aja din soalnya nih di sekolahan aku dulu yang cowo kayak Azam itu langka jadi aku penasaran.” Jawab Nun bohong.

Andin mengangguk paham lalu ia menunduk sambil tersipu malu membuat Nun merasa aneh dengan tingkah Andin.

“Aku suka sama kak Azam.” Ujar Andin pelan namun mampu membuat Nun terdiam, hatinya tiba-tiba sakit saat mendengar pernyataan singkat itu.

Nun tetap tersenyum saat Andin menatapnya bersemangat ia tidak seperti Andin yang Nun kenal. Ia begitu heboh tidak seperti biasanya tenang dan anggun. Andin bercerita bahwa ia sudah menyimpan rasa dengan Azam dua tahun lamanya semenjak pertama kali masuk ke pesantren ini, pertemuan mereka yang singkat itu.

Nun terdiam sesekali ikut tersenyum saat Andin bercerita, apalah daya dirinya ini hanya mengagumi Azam tanpa pernah berbicara dengannya dan  jika ia di bandingkan dengan Andin tentu saja jauh berbeda. Andin yang memiliki paras yang cantik, matanya teduh dan menenangkan serta cara bertutur kata lembut membuat Nun tersingkirkan jauh kebelakang.

Apalagi yang mereka incar adalah anak Buya Hasan, jelas buya itu akan memilih perempuan seperti Andin untuk anaknya dan juga dari segi ilmu agama dan hafalan Andin juga lebih baik dari Nun.

Tetapi itu semua hanya pemikiran Nun saja, karena takdir berkata lain. Seperti kata Aba, ia tak perlu khawatir tentang sesuatu yang sudah diatur. Allah maha membolak-balikkan hati manusia, dunia ini misteri begitu banyak rahasia yang tidak kita ketahui. Ada sang pemilik hati yang berkuasa. Memiliki segala cara untuk hambanya yang terus mengadu dalam sujudnya.

Hari ini setelah sepuluh tahun yang lalu dengan suasana yang sama tapi bersama orang yang berbeda. Jika dulu Nun di pesantren ini bersama Andin tetapi sekarang sudah tidak lagi. Benar kata Aba, ia sangat bersyukur telah menginjakkan kaki di tempat yang indah ini.

“Hei, kok melamun? Yuk kita kerumah Aba.” Lamunan Nun buyar mengingat masa sepuluh tahun silam.

Nun tersenyum menatap laki-laki bergamis abu-abu tanpa peci. Laki-laki yang ditemui secara tida sengaja kini menjadi imam hidupnya, siapa lagi kalau bukan Azam.

“Gapapa, aku hanya teringat masa itu.” Ucap Nun lembut.

“Bernostalgia hobi kamu, yasudah sekarang kita ke rumah Aba.” Tutur Azam sambil mengusap kepala Nun.

Seperti inilah kehidupan Nun, yang tidak mungkin kini menjadi takdir baginya. Hidup bersama Azam adalah sebuah kebahagiaan yang indah. Ia percaya tidak ada yang tidak mungkin ketika sudah ditakdirkan untukmu. Kuasa Allah SWT lebih kuat dibandingkan perasaanmu.


Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous Post

Tidak Mendapatkan Izin, Pelaksanaan Ekspo Tetap Digelar di Luar Kampus

Next Post

Hari Pertama Ekspo UIN IB Dimeriahkan Oleh Penampilan Bakat Masing-masing UKM

Related Posts
Total
0
Share