Suarakampus.com- Penelitian kampus jauh berbeda dengan praktek penelitian dalam dunia industri. Hal tersebut diungkapkan Peneliti Senior The SMERU Research Institute, Muhammad Syukri saat Diskusi Dosen Tamu Prodi Studi Agama-Agama yang digelar Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN IB Padang secara virtual.
“Industri penelitian adalah lembaga penelitian yang cakupannya lebih luas dan memakan biaya yang cukup banyak dibanding selingkup kampus,” kata Syukri, Kamis (18/03).
Syukri juga mengatakan ada beragam mata kuliah di kampus yang mengajarkan metodologi penelitian kepada mahasiswa. “Pada diskusi ini kita tidak akan membahas terkait hal-hal yang bersifat normatif dan hanya membahas pokok-pokok dasarnya saja,” tuturnya.
Lanjutnya, penelitian memiliki kerangka penyampaian yang mesti ada dalam sebuah penelitian seperti klarifikasi konsep-konsep, alur penelitian, dan hal-hal lainnya. “Pada penelitian kita akan melakukan praktek berupa pra lapangan, turun lapangan, dan pasca lapangan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi,” lanjutnya.
Setiap orang pasti memiliki pertanyaan dalam hidup, baik pertanyaan yang mendalam atau yang simple sekalipun. “Prinsip dari kegiatan penelitian dalam industri penelitian itu sendiri berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul,” ungkap Peneliti Senior The SMERU Research Institute tersebut.
Syukri juga menjelaskan aksiologi dan epistimologi ilmu pengetahuan harus dicari terlebih dahulu, baru diturunkan menjadi metodologi penelitian. “Sejak itu penelitian menjadi sebuah konsep yang spesifik dan tidak bisa lagi dilekatkan kepada upaya memecahkan masalah,” tukasnya.
Untuk meneliti sebuah proyek besar yang pernah dilakukan SMERU memerlukan anggaran yang mencapai 60 miliaran. “Lain halnya dengan penelitian kampus yang belum tentu sepersepuluh nilai penelitian itu ada di kampus, hal ini mencerminkan ketimpangan dalam penelitian,” tutup Syukri. (rta)
Wartawan: Nada Andini (Mg)