Suarakampus.com- Kerap informasi palsu mendiskriditkan perempuan, hal tersebut disampaikan Intan Pratiwi dalam seminar diseminasi riset bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Kegiatan dilangsungkan melalui Zoom Meting dan YouTube Cek Fakta AJI Indonesia, Rabu (13/03)
Jurnalis Republika, Intan Pratiwi memaparkan hasil riset tentang perempuan menyikapi misinformasi dalam konteks Pemilu di Indonesia. “Saya dan rekan peneliti Roby menemukan bahwa informasi keliru sangat nyata dipercaya dalam konteks Pemilu, kami berkaca pada situasi pemilihan di tahun 2019 kemarin,” ungkapnya.
Kemudian, Ia mengungkapkan mendapati bahwa pola-pola sama dari periode Pemilu sebelumnya masih ditemui pada proses pemilihan terakhir. “Dari hasil monitoring, bentuk-bentuk temuan, kekerasan, dan misinformasi menyerang para perempuan,” jelas Intan.
Lanjutnya, ia menyoroti semacam perempuan seringkali mendiskreditkan dan memakai bahasa yang seksis dan stereotipe. “Secara direct, mungkin tidak secara fisik, tapi dengan dicap feminis,” pungkasnya.
Demikian, ia menambahkan bahwa belum ada aturan spesifik untuk melindungi perempuan dari misinformasi dan kekerasan verbal. “Seperti memberikan panduannya boleh atau tidaknya melakukan perasaan secara tuturan,” ungkapnya.
Kemudian, ia menegaskan penting periksa kebenaran di era informasi yang sangat pesat ini. “Sekarang banyak gerakan-gerakan untuk kita bisa memverifikasi, cek fakta juga sedang dijalankan bersama AJI maupun Mavindo,” jelasnya.
Kendati demikian, Intan mengakui bahwa upaya tersebut belum benar-benar dapat menyeluruh wujudkan kesadaran masyarakat. “Kesadaran sosial untuk bisa memilah kebenaran dan kesalahan itu memang penting diberikan, kita layak menerima literasi,” tegasnya.
Lanjutnya, ia berharap ada mekanisme pemulihan yang khusus untuk menjamin perlindungan perempuan dari misinformasi. “Bahwa memang perlu prosedur pemulihan kebijakan yang spesifik untuk menjamin,” tutupnya. (hkm)
Wartawan: Verlandi Putra( Mg)