Suarakampus.com – Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menanggapi atribut Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025, yang dinilai tidak substansial dan cenderung mempersulit mahasiswa baru. Kamis, (07/08).
Presiden Mahasiswa, Hidayatul Fikri menilai atribut yang dirancang panitia PBAK tidak memberikan nilai substansi, terhadap proses pengenalan akademik kampus. Salah satunya ialah penggunaan sarung sebagai tas bawaan mahasiswa baru.
“Rawan kehilangan perlengkapan atau barang berharga kalau sarung itu dijadikan tas,” ungkap Fikri. Menurutnya, lebih baik mahasiswa baru cukup membawa tas seperti layaknya kuliah biasa.
Ia juga memberikan pesan kepada panitia, agar lebih mengakomodasi kebutuhan dan keluhan mahasiswa baru, bukan justru mempersulit. “Berkaca dari kampus-kampus besar, sudah tidak zamannya lagi hal-hal seperti itu,” tambahnya.
Senada dengan itu, Wakil Presiden Mahasiswa, Habib Prananda Andy, juga menilai atribut PBAK perlu dikaji ulang. Ia menyoroti, ide penggunaan kain sarung sebagai tas yang dinilai tidak relevan.
“Menurut saya, itu terkesan mempersulit MABA. Saya yakin dan percaya setiap orang yang bersekolah pasti memiliki tas pada umumnya, kenapa harus menggunakan tas dari sarung?” tuturnya.
Habib juga menyampaikan pesan melalui kutipan hadist, “Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di akhirat kelak.” Ia berharap panitia PBAK lebih mempertimbangkan kebijakan yang diterapkan agar tidak membebani mahasiswa baru dalam proses adaptasi di kampus. (asr)
Wartawan: Anisafitritara, Ghalib Hanip
emang mereka punya hak ngatur ngatur, mentang-mentang dema-u ga akan bisa masuk seenaknya aja