Oleh : Muhammad Rizki
(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)
Di meja makan malam itu
Nasi hangat di piring, suaramu pelan
Aku bicara lantang tentang dunia
Tentang keberanian yang sok penting
Kau tetap menyuap, tak menoleh
Aku pikir menang sendiri
Lalu kau menatapku
dan kata-katamu mendarat lembut
“Belum saatnya, Nak.
Niatmu baik, tapi dunia belum siap.”
Kupikir kau ketinggalan zaman
Ternyata kau telah melewati badai
Malam itu aku diam lama
Kata-katamu berputar di dada
Ego runtuh satu per satu
seperti debu yang jatuh dari dinding waktu
Kini aku tahu
Keberanian harus siap, bukan gegabah
Kasih sayangmu hangat — pilar tak terlihat
Suara yang suatu hari pasti terdengar.