Suarakampus.com– Pasca Musyawarah Dewan Eksekutif Mahasiswa (MUDEMA-U), sejumlah pimpinan lembaga mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang menegaskan pentingnya menjaga konsistensi demokrasi kampus. Mereka menilai demokrasi tidak hanya terlihat saat pemilihan, tetapi juga dalam pengambilan kebijakan dan pengawasan kepengurusan sesuai aturan, Senin (02/03).
Presiden Mahasiswa (Presma) 2025, Hidayatul Fikri, menyoroti tantangan terbesar demokrasi kampus. “Orang-orang yang tidak menerima kebenaran keputusan hanya karena tidak mengikuti keinginan adalah orang yang paling bodoh dan ini jelas menjadi tantangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa dan pimpinan Ormawa memiliki tanggung jawab menjaga marwah demokrasi sesuai aturan yang berlaku. “Semoga permasalahan bisa dikawal sampai akhir dan diselesaikan secara bersama,” jelas Fikri.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Senat Mahasiswa (SEMA) U, Nader Awandy, menekankan demokrasi kampus seharusnya tidak hanya hidup saat pemilihan. “Demokrasi juga terlihat dari keputusan dan kebijakan lembaga mahasiswa yang dijalankan sesuai jobdesk,” ujarnya.
Ia melanjutkan, pengawasan dan pengawalan demokrasi harus berlangsung konsisten di semua lini kegiatan mahasiswa. “Apa yang sudah dijalankan bisa menjadi bentuk hidupnya demokrasi di kampus, bukan hanya saat pemilihan,” tambah Nader.
Ketua Komisi 3 SEMA-U, Fajar Hidayat, menegaskan dinamika demokrasi kampus telah memasuki fase baru pasca pelaksanaan MUDEMA-U. “Pesta demokrasi di UIN IB Padang telah selesai, artinya roda organisasi dan kegiatan mahasiswa kembali berputar,” ujarnya.
Ia berharap pengurus baru mampu menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan. “Saya berharap seluruh elemen mahasiswa tetap mengawal dan responsif terhadap kebijakan kepengurusan DEMA-U yang baru,” pungkasnya. (Fau)
Wartawan:Nur Hanifah (Mg)
Pimpinan Lembaga Mahasiswa UIN IB Soroti Konsistensi Demokrasi Pasca MUDEMA-U