Oleh: Nanang Sanjaya ( Mahasiswa Perbankan
Aku pernah bertemu seseorang,
yang tatapannya membuatku merasa aman,
yang diamnya tak pernah menuntut penjelasan.
Kami saling berbagi banyak cerita
tentang lelah yang disembunyikan,
tentang tawa yang sederhana,
dan tentang rindu yang hanya bisa dipendam diam-diam.
Tanpa pernah berjanji,
tapi juga tanpa benar-benar meninggalkan.
Kami tahu rasanya nyaman,
kami tahu rasanya cocok,
namun setiap langkah ke depan
selalu terbentur pada tembok yang tak bisa kami runtuhkan.
Dia tidak pernah mempermainkanku,
aku pun tak pernah berpura-pura merasa lebih dari yang seharusnya.
Kami sama-sama bahagia
Mungkin, justru itu yang membuat luka ini terasa nyata.
Kami hanya salah waktu,
di jalan yang seharusnya tak pernah bersinggungan.
Kami hanya dua jiwa baik
yang dipertemukan semesta
bukan untuk menggenggam,
melainkan untuk saling melepaskan.
Bukan aku yang kalah.
Bukan dia yang salah.
Kami hanya dua hati yang sama-sama ingin bahagia
namun harus belajar menerima,
bahwa tidak setiap cinta ditakdirkan untuk bersama.