Sebab Aku dan Perihal Waktuku

Oleh: Padila Yusra

Tiga tahun lalu dimana masa terasa mulai sedikit berubah, aku dipaksa untuk berpikir keras, aku dipaksa untuk bersaing ketat, aku dipaksa untuk menjalani hal yang begitu berat. Namun, siapakah yang memaksa? iya, itulah perihal waktu yang akan aku ceritakan ini.

Madrasah Aliyah, itulah sebutan bagi sekolahku pada masa itu. Si Ani, si Budi, si Pedro, si Dewi, si Dulah, aahhhh.. ku rasa tidak perlu disebutkan satu per satu, yang patut kau tau mereka semua adalah orang-orang dengan intelektual yang tinggi. Tak dapat ku pungkiri mereka adalah salah satu alasan kenapa otak ku harus berpikir kritis terhadap suatu hal yang yang tak bisa ku pikirkan, rasanya melawan cara mereka berpikir lebih berat dari pada menahan arus globalisasi yang terjadi di negaraku ini.

Ntah nasib terkutuk macam apa yang menghampiri hidupku ini sehingga bisa ditakdirkan satu ruangan serta atap yang sama dengan mereka. Murid teladan, mainannya perpustakaan, makanannya rumus-rumus sialan, sedangkan aku? manusia pengungsian yang menumpang nama di antara nama-nama mereka. Harusnya remaja seusia ku ini tidak dikekang waktu dan keadaan yang semacam itu. Itu benar-benar kehidupan yang yang tak pernah ku bayangkan. Lagi-lagi ini perihal waktu yang memaksaku tetap bertahan dan terus menggerutu.

Itu hanya dulu kawan, sekarang duniaku sudah berbeda, dunia perkuliahan adalah makanan ku sehari-hari. Tak terasa ternyata aku sudah tumbuh dewasa. Kulihat ke belakang ternyata banyak tangan yang bergantung terhadap nasibku, harapan orang tua yang harus ku wujudkan dan mimpi yang harus ku dapatkan. Sudah tentu baik-buruknya tergantung pilihanku sendiri.

Disini aku mulai mencoba untuk menjadi mahasiswa teladan, berkecimpung dengan perpustakaan dan memakan rumus-rumus sialan. Iya, sepertinya karma memihak kepadaku, itu semua harus kulakukan jika waktu muda ku dahulu tak mau terulang kembali.

Hal tersebut terus ku lakukan sedikit demi sedikit. Seiring berjalannya waktu, sampai saat dimana titik jenuh menghampiri.

“Bukankah hari esok masih panjang? kenapa harus tergesa-gesa? tak akan ada yang memaksa dan memarahiku jika kau gagal, santai sajalah,” ucap diriku.

Aku mulai terpedaya, kesan pertama pun berlalu dengan alur yang tidak jelas.
Banyak rencana yang sudah ku susun dengan rapi, hanya menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkannya. Lagi-lagi rencanaku hanya sebatas imajinasi.

“Buat apa terlalu sibuk, bersantailah sedikit dulu, toh, besok-besok aku masih punya waktu senggang.

“Tidak-tidak, besok masih banyak yang harus kulakukan, jangan sampai aku terpedaya lagi.”

Tapi kenyataannya, itu hanya sebatas niat yang terpancung kuat tanpa memulai. Aku yang diluar kendali mulai kesulitan mengontrol diri. Waktu rasanya benar-benar mengutuk diriku ini, entah dosa apa yang sudah ku perbuat sehingga sesulit ini rasanya.

Pagi hari menjelang sinar matahari datang ku bangun dengan semangat dan niat kuat.” Kali ini tak akan ada yang bisa menghentikanku,” kalimat pertama yang ku ucap ketika bangun pagi.

Aku merasa bangga dengan gairah yang hebat, aku lihat kembali setumpuk rencana yang sudah berdebu, ku pilah-pilah satu demi satu, ku bentangkan jejeran rencana di kertas putih, ku ambil pena berujung runcing bertinta hitam, niat ku terasa kuat untuk memulai. Belum lagi sampai ujung pena di dasar kertas, kriingg… Kringg… Handphone ku berbunyi, ternyata pesan masuk”main yuk”. Aku cuma terdiam sejenak memikirkannya.

Dan akhirnya, hal yang kemarin terulang kembali. Begitu hari-hariku berlalu.

Waktu, hari dan bulan berlalu begitu laju. Aku duduk disebuah sudut kamar, menikmati wifi gratis sambil menggeser-geser layar ponsel yang tidak jelas. Tiba-tiba jariku terhenti, mataku melotot, ternyata si Dewi temanku dulu, diangkat menjadi ketua dalam sebuah organisasi terkenal, aku cuma melihat sambil mengangkat sedikit ujung bibirku.

Kemudian aku mencoba mencari tahu tentang kehidupan teman-temanku dulu, meskipun dari dulu aku tidak pernah menyebut dengan sebutan teman, sekejam itu aku dulu. Aku memulai dengan nama si Dulah, karena dari dulu si Dulah tak pernah luput dari pandanganku meskipun kami tak pernah bercengkrama bersama. Selain pintar, dia juga tak kalah cetar dengan artis-artis korea di luar sana, tampang yang membahana dan kulitnya yang putih, siapa yang tak kenal dia. Itu dulu, sekarang mah aku ga tertarik urusan yang begituan.

Layaknya seorang penguntip, sekarang aku sudah berada di beranda akunnya, wahh…. parah memang tak ada satu gambar yang memperlihatkan gambar dirinya selain penghargaan-penghargaan atas prestasinya. Untuk kali ini aku cuma tercengang, karena memang tak diragukan lagi dari dahulu.

Tak berhenti sampai disitu, aku beralih ke akun si Ani, tidak cantik-cantik amat, tapi skill nya boleh lah. “Wow” kata pertama yang ku ucapkan sesampainya di beranda anak itu, begitu banyak program-program yang diikutinya, mulai dari pembawa acara, sebagai narasumber, dan bahkan beasiswa untuk kuliah diluar negeri. Kali ini aku tidak mengeluarkan ekspresi, hatiku terenyuh, aku benar-benar tidak bahagia melihat hal-hal yang semacam ini, aku berdosa banget, jiwa insecure ku menggebu.

“Apa yang sudah ku lakukan Tuhan?, sejauh apa aku ketinggalan oleh mereka-mereka?,” aku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mencoba menghitung apa-apa saja yang bermanfaat yang sudah ku perbuat, berapa penghargaan yang sudah ku dapat, setinggi apa ilmu sudah ku dalami. Bahkan jari tangan kanan ku saja tidak penuh untuk menghitung prestasi yang sudah ku dapat.

Rasa sesalku membunuh seakan tak mau kalah dengan keadaan, waktu yang ku lengahkan dulu menampakkan manfaatnya. Ternyata ini yang ku dapat dengan rakitan waktu yang sudah ku perbuat dulu. Tak ada yang dapat ku persalahkan selain diriku sendiri.

“Aku benci diriku Tuhan”.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Drama Adu Tajam Lewandoski Vs Halland di Laga Der Klasikker

Next Post

Ibu dan TV Barunya

Related Posts

Rumput Tetangga

Oleh: Firga Ries Afdalia Tut..tut..tut… Nada sambung itu berbunyi sekaligus mengakhiri percakapan. Kebiasaan kaum rebahan menghabiskan akhir pekan…
Selengkapnya
Total
0
Share