Sebagian Mahasiswa Ma’had Al-Jami’ah Tidak Pulang Lantaran Akses Jalan Rusak

Ilustrator: Isyana Nurazizah Azwar

Suarakampus.com–Pihak Ma’had Al-Jami’ah memutuskan memulangkan seluruh mahasantri untuk sementara waktu. Kebijakan tersebut tertuang dalam surat edaran resmi pada 25 November 2025 sebagai langkah antisipasi pasca longsor di sekitar kampus III UIN Imam Bonjol Padang pada Selasa(25/11). Jum’at,(28/11).

Mahasiswi Ma’had, Marsya Ade Saputri, mengatakan bahwa ia mengetahui kejadian tersebut setelah pulang dari kampus dan menerima kabar dari teman asrama. Ia menyebut kondisi di area FEBI sudah terlihat jelas mengalami longsor saat ia melihat langsung bersama temannya.

Marsya menuturkan bahwa asrama masih berada dalam kondisi aman meskipun letaknya tidak jauh dari area rawan. Ia mengaku sempat terkejut saat pertama kali menerima informasi itu dan menyampaikan, “Pas tahu kabar kaget aja sih.” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian area belakang Ma’had memiliki tingkat ketinggian yang sudah terdampak dan hal itu membuat penghuni waspada. Marsya juga memutuskan pulang setelah mendapat izin dari pihak asrama, “orang tua juga berpesan agar menjaga diri di tengah cuaca buruk”, katanya.

Narasumber lain, Suci, menerangkan bahwa surat edaran pemulangan dikirim lewat grup Ma’had pukul 18.17 WIB. Ia mengatakan bahwa sebagian mahasantri langsung pulang, sedangkan lainnya tetap tinggal karena jarak rumah yang jauh atau akses jalan yang terputus.

Suci menambahkan bahwa Kepala Ma’had telah memeriksa area belakang asrama dan menetapkan garis batas yang tidak boleh dilampaui. Ia menyebutkan bahwa mahasantri dilarang mendekati area tersebut demi menjaga keselamatan dan ketertiban selama cuaca ekstrem berlangsung.

Sementara itu, Dina Clarissa selaku mahasantri yang masih menetap menyampaikan bahwa hanya sekitar 15 mahasantri dan enam ustazah yang bertahan dari total lebih kurang 100 penghuni. Ia mengatakan, “Totalnya seratusan, tapi yang stay cuma segitu.”

Ia menjelaskan bahwa beberapa mahasantri tidak pulang karena berasal dari luar Sumatera Barat atau terkendala kondisi jalan pulang yang rusak. Dina juga menyebut pihak asrama telah memberikan opsi mengungsi, namun beberapa mahasantri tidak memiliki tujuan sehingga memilih tetap tinggal.

Ia menuturkan bahwa mahasantri yang bertahan diminta lebih waspada selama cuaca ekstrem.” Ustazah dan satpam berjaga untuk memastikan keamanan lingkungan asrama,termasuk memantau kondisi tanah di area belakang”, jelasnya.

Dina menambahkan, bahwa pihak asrama tidak menyediakan stok makanan sehingga mahasantri membeli makanan secara mandiri. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka memesan makanan melalui layanan antar, karena intensitas hujan membuat mereka enggan keluar, dan menyebut, “Paling komah atau Maxim.”

Ia mengungkapkan bahwa penghuni asrama merasakan kecemasan akibat potensi longsor di belakang gedung. Dina juga menyampaikan bahwa ustazah sempat membangunkan mahasantri saat hujan deras pagi tadi dan mengarahkan mereka berkumpul di lantai bawah sebagai langkah antisipasi.

Mahasantri diarahkan berkumpul dalam satu hingga dua kamar untuk mempermudah pemantauan. “Kehadiran ustazah membantu menenangkan para mahasantri di tengah curah hujan yang masih tinggi”, ujarnya. (asr)

Wartawan: Aisyah Nurlaili Arinda (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Wisudawan UIN Imam Bonjol Padang Beri Tanggapan Soal Ijazah yang Masih Tertunda

Next Post

HMPS PMI Bergerak Bantu Warga Terdampak Banjir Bandang Lubuk Minturun

Related Posts