Suarakampus.com– Puasa Ramadan kerap dijalani sebatas menahan lapar dan dahaga tanpa ukuran keberhasilan yang jelas. Dalam webinar Bekal Ilmu untuk Ramadan Lebih Produktif dan Konsisten, Sabtu (14/02), Ustadz Zulkarnain mengangkat rumusan Imam Al-Izz bin Abdus Salam tentang tujuh target minimal puasa sebagai tolok ukur agar Ramadan tidak berlalu tanpa perubahan berarti.
Ia menegaskan puasa memiliki tujuan yang terukur, bukan sekadar rutinitas tahunan yang selesai dalam 30 hari. “Pokok yang diinginkan pada puasa itu ada tujuh perkara,” ujarnya.
Target pertama adalah peningkatan derajat di sisi Allah melalui amal yang dicintai-Nya, sedangkan target kedua adalah pengguguran dosa lewat puasa yang ikhlas dan diiringi ketaatan. Menurutnya, dua hal ini menjadi inti dari harapan ampunan yang selalu dikaitkan dengan Ramadan.
Target ketiga adalah pengendalian syahwat, baik syahwat perut, emosi, maupun pikiran, agar puasa melatih kendali diri secara menyeluruh. “Tidak logis seseorang menahan yang halal demi Allah, tapi tetap melakukan yang diharamkan-Nya,” tegasnya.
Target berikutnya adalah memperbanyak sedekah dan memperluas ketaatan sebagai bentuk penguatan kepedulian sosial dan spiritual. Ia menyebut Ramadan sebagai momentum untuk melampaui standar ibadah harian di luar bulan suci.
Ia juga menekankan pentingnya memperdalam rasa syukur sebagai respons atas kesempatan bertemu Ramadan yang tidak semua orang dapatkan. Syukur, katanya, bukan sekadar ucapan, tetapi penggunaan nikmat sesuai kehendak Allah.
Target terakhir adalah penghentian maksiat secara nyata sebagai indikator paling jelas keberhasilan puasa. “Kalau tujuh fokus ini tercapai, itu tanda keberuntungan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa evaluasi harian, puasa berisiko kehilangan dampak pembentukannya terhadap karakter. “Jangan sampai kita selesai Ramadan, tapi tidak ada yang berubah,” pungkasnya. (fau)
Wartawan: Aldi Syukron (Mg)